Membawa Motif Indonesia ke Produk Home Living

Lebih jauh, Hanny melihat bahwa kekuatan motif justru dapat memberikan karakter yang berbeda pada produk home living.

Ia menilai, tren desain yang terlalu mengedepankan kesederhanaan berisiko membuat banyak produk terlihat seragam.

“Di Vicenza percaya dengan lots of structure. Saya suka dengan hal-hal yang bermotif. Karena menurut saya simplicity itu orang-orang selalu kepinginnya simple. Tapi pada saat semua simple dijadiin satu, semuanya itu menjadi sama dan flat,” ungkapnya.

Karena itu, Vicenza memilih memberikan ruang lebih besar bagi motif untuk menjadi bagian dari identitas produknya.

Ketika motif khas PURANA diterapkan pada produk Vicenza, menurut Hanny, justru muncul karakter visual yang berbeda.

“Bayangkan, misalnya, oke, Vicenza motifnya seperti ini. Begitu ditaruh di PURANA, oke, dia kelihatan bagus. Jadi saya memang mendukung sekali. Makanya di Vicenza jarang sekali ada motif yang biasa-biasa saja,” tuturnya.

Pendekatan tersebut juga mencerminkan keyakinan Vicenza bahwa motif, warna, dan ornamen tidak harus dianggap sebagai sesuatu yang berlebihan.

Sebaliknya, kombinasi motif dapat menjadi cara untuk memperkaya pengalaman visual sekaligus membawa unsur budaya ke dalam ruang hidup.

Hanny bahkan mengibaratkannya seperti penggunaan motif dalam busana tradisional Indonesia.

“Kalau color, corak. Ya sama kayak orang pakai kebaya. Orang-orang zaman dulu kebayanya di bawahnya apa, atasnya bunga-bunga, nice-nice aja,” katanya.

Lebih lanjut, Hanny menuturkan, kolaborasi Vicenza dan PURANA juga membuka peluang baru bagi pengembangan produk lokal yang mempertemukan desain fesyen dengan home living.

Hanny pun melihat potensi pasar Indonesia untuk produk semacam ini masih sangat besar.

Menurutnya, kecintaan masyarakat Indonesia terhadap produk dan budaya lokal sebenarnya sudah menjadi modal utama. Tantangannya adalah bagaimana karya tersebut disampaikan melalui produk dan pendekatan yang tepat kepada konsumen.

“Namanya potensi pasar itu kita tidak bisa tahu kecuali kalau kita gali. Tapi, kalau misalnya itu, yakin nggak kalau potensi pasar ini luas? Yakin saya. Karena orang-orang Indonesia itu pada dasarnya cinta sebetulnya dengan apa yang ada di Indonesia ini,” ujar Hanny.

“Cuma bagaimana cara deliverance-nya aja. Bagaimana delivery-nya itu aja sama masyarakat,” lanjutnya.

Keyakinan tersebut menjadi salah satu alasan Vicenza melihat kolaborasi dengan brand dan seniman lokal sebagai peluang yang menarik. Bukan sekadar menciptakan produk baru, tetapi juga menghadirkan interpretasi berbeda terhadap kekayaan visual Indonesia.

Untuk kolaborasi bersama PURANA sendiri, kata Hanny, produk yang disiapkan berada di kategori tableware dan direncanakan hadir dalam jumlah terbatas.

Konsep limited quantity tersebut diharapkan memberikan pengalaman yang lebih eksklusif bagi konsumen yang menginginkan sesuatu yang berbeda.

“Sepertinya kuantiti terbatas. Kalau misalnya memang ada, women itu kayaknya sudah excited banget untuk something else, something different. Mungkin kita akan membuat sesuatu yang baru banget, yang mungkin di Vicenza nggak ada, dan di PURANA juga tidak ada,” punkas Hanny.

Baca Juga: Purana Home Perluas Ekspresi Wastra Nusantara ke Dunia Home Living