“Man in finance, trust fund, 6'5", blue eyes.”

Kalimat tersebut mungkin sudah tidak asing bagi pengguna media sosial. Pada 2024, potongan video singkat Megan Boni alias Girl on Couch mendadak viral dan menjadikan sosok pria yang bekerja di bidang finansial, punya uang, tinggi, dan berpenampilan menarik sebagai gambaran “pria idaman” versi tren internet.

Yang awalnya dibuat sebagai lelucon tentang daftar kriteria pasangan yang terlalu muluk itu justru berkembang menjadi fenomena budaya pop. Video asli Boni ditonton lebih dari 26 juta kali hanya dalam tiga pekan dan melahirkan berbagai remix.

Di balik kelucuannya, tren tersebut juga memunculkan pertanyaan yang cukup serius, mengapa pekerjaan dan kondisi finansial seseorang bisa begitu menarik dalam dunia dating?

Jawabannya mungkin sederhana. Siapa yang tidak ingin memiliki pasangan yang mapan?

Baca Juga: Memahami Fenomena 'Checklist Fatigue': Rasa Lelah saat Mencari Pasangan yang Cocok, Kamu Merasakannya?

Pekerjaan bagus dan penghasilan tinggi memang dapat memberikan rasa aman. Ada kemungkinan hidup lebih nyaman, memiliki perencanaan finansial lebih baik, dan tidak terlalu khawatir menghadapi kebutuhan masa depan.

Namun, ada satu hal yang sering tertinggal ketika orang membayangkan punya pasangan “man in finance”: pekerjaan dengan gaji tinggi biasanya juga punya tuntutan tinggi.

Violet Lim, CEO dan Co-Founder Lunch Actually, mengatakan pekerjaan seperti perbankan, hukum, konsultasi, dan teknologi kerap datang dengan jam kerja panjang, perjalanan bisnis, tekanan tinggi, hingga stres pekerjaan.

“Bukan karena lelaki itu jahat, tapi karena dia sudah habis energinya. Kita harus menjaga diri sendiri sebelum bisa peduli pada orang lain, apalagi beberapa jenis pekerjaan bisa menguras energi jauh lebih cepat,” kata Violet.

Baca Juga: BPS: Masalah Ekonomi Jadi Penyebab Perceraian Nomor Dua di Indonesia

Artinya, mendapatkan pasangan dengan penghasilan tinggi tidak selalu berarti mendapatkan pasangan yang punya banyak waktu untuk hubungan.

Ia bisa saja mampu mengajak makan malam di restoran mahal, tetapi belum tentu bisa menemani makan malam itu setiap malam.

Selain itu, pasanganmu juga bisa punya kemampuan finansial untuk merencanakan liburan mewah, tetapi belum tentu bisa mengambil cuti ketika pasangannya sedang membutuhkan dukungan.

Di sinilah fantasi “man in finance” mulai bertemu dengan realitas hubungan.

Pengalaman Lily Beamish, yang diceritakan dalam artikel Fashion Journal pada Januari 2026, menjadi salah satu gambaran. Ia mengakhiri hubungan dengan seorang profesional finansial karena pasangannya terlalu lelah bekerja hingga sulit meluangkan waktu untuk bertemu.

Baca Juga: Cara Menghindari Konflik saat Menjalankan Bisnis Bersama Pasangan Menurut Business Coach

Dalam percakapan terakhir mereka, sang pasangan mengatakan, “Aku sudah tidak menghargaimu, dan kamu juga tidak menghargaiiku.”

Bagi Violet, persoalannya bukan semata-mata tentang pekerjaan tertentu. Masalahnya adalah bagaimana seseorang mengelola energi, waktu, dan prioritas ketika pekerjaan sedang menyita sebagian besar kehidupannya.

Karena itu, jika penghasilan tinggi menjadi salah satu kriteria saat mencari pasangan, ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting untuk ditanyakan:

“Setelah sibuk bekerja dan mengejar karier, masih ada berapa banyak ruang untuk hubungan?”

Menariknya, penghasilan memang masih menjadi pertimbangan dalam memilih pasangan.

Dalam Survei Tahunan Singles Lunch Actually 2024 terhadap lebih dari 350 singles di Singapura, 57% perempuan mengatakan tidak ingin berhubungan dengan pria yang berpenghasilan lebih rendah dari mereka.

Sebaliknya, 93% pria mengaku tidak keberatan memiliki pasangan perempuan dengan penghasilan lebih tinggi.

Angka tersebut memperlihatkan bahwa persoalan finansial memang menjadi bagian dari pertimbangan dalam dunia dating. Namun, besarnya penghasilan belum tentu menunjukkan apakah seseorang cocok menjadi pasangan.

Seseorang bisa bergaji tinggi tetapi memiliki kebiasaan boros. Ada pula yang penghasilannya biasa saja tetapi sangat disiplin mengatur keuangan.

Begitu juga dengan hubungan. Dua orang bisa sama-sama sukses secara profesional, tetapi tetap sulit menjalani kehidupan bersama jika tidak sepakat soal uang, waktu, gaya hidup, dan prioritas.

Jadi, tren “man in finance” mungkin memang lucu untuk dijadikan bahan konten. Tidak ada salahnya pula menginginkan pasangan yang mapan.

Namun, kalau daftar pasangan idaman berhenti pada “gaji besar, pekerjaan keren, dan hidup nyaman”, mungkin ada beberapa pertanyaan yang belum masuk checklist.

Misalnya, apakah dia bisa diajak bicara ketika sedang ada masalah? Apakah dia punya waktu untuk hubungan? Bagaimana cara dia mengelola uang? Dan yang paling penting, apakah kalian menginginkan kehidupan yang sama?

Sebab, pasangan dengan rekening tebal memang bisa membuat hidup lebih nyaman. Akan tetapi, untuk membuat hubungan bertahan, ternyata saldo bukan satu-satunya yang harus cukup. Waktu, perhatian, dan energi emosional juga perlu punya “saldo” yang cukup.