Tak sedikit masyarakat masih memiliki anggapan bahwa investasi merupakan jalan pintas untuk menjadi kaya raya. Iming-iming keuntungan besar dalam waktu singkat pun kerap membuat investor tergoda mengejar cuan tanpa terlebih dahulu memahami risiko dan strategi yang tepat, khususnya bagi mereka para investor pemula.
Menyadari hal tersebut, PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) menekankan pentingnya pemahaman terhadap kondisi ekonomi, produk investasi, hingga profil risiko sebagai bekal penting sebelum mengambil keputusan investasi. Hal tersebut ditekankan dalam Kelas Jurnalisme Inspiratif: Smart Investing, Smarter Reporting yang menjadi rangkaian Wealth XPO CIMB Niaga di Jakarta, Rabu (26/8/2026).
Baca Juga: CIMB Niaga Resmi Luncurkan KKI Ritel, Kini Bayar QRIS Bisa Pakai Kartu Kredit
WM Business Development & Market Research Head CIMB Niaga, Lanjar Nafi Taulat Ibrahimsyah, menegaskan bahwa investasi bukanlah jalan pintas untuk menjadi kaya dalam waktu singkat. Membangun kekayaan, lanjutnya, membutuhkan konsistensi, diversifikasi yang terukur, serta kedisiplinan dalam menjalankan strategi investasi.
“Banyak anggapan bahwa investasi itu cara biar cepat kaya, padahal itu salah. Kekayaan tidak dibangun dari volatilitas sesaat, melainkan dirawat perlahan melalui konsistensi waktu, diversifikasi yang terukur, dan eksekusi yang disiplin,” ungkap Lanjar Nafi di Jakarta, Rabu (26/8/2026).
Ia menambahkan, setidaknya ada tiga fondasi utama yang perlu dipahami investor pemula sebelum menempatkan dana pada instrumen investasi. Hal ini sangat penting untuk dimiliki oleh investot sehingga terhindar dari jebakan iming-iming investasi.
Lanjar Nafi menyebut, fondasi pertama yang harus dimiliki investor yakni memahami kondisi ekonomi. Investor perlu mengikuti perkembangan ekonomi dan sejumlah indikator makroekonomi agar memiliki gambaran mengenai situasi pasar sebelum mengambil keputusan investasi.
Pemahaman terhadap kondisi ekonomi menjadi penting agar investor tidak sekadar mengikuti tren atau mengambil keputusan secara gegabah ketika pasar tengah mengalami gejolak.
“Jangan sampai kita investasi di saat kondisi ekonomi yang lagi gonjang-ganjing. Memang ada potensi, cuma risikonya besar,” jelas Lanjar.
Selain kondisi ekonomi, investor juga perlu memahami produk yang akan dipilih. Setiap instrumen memiliki karakteristik, potensi keuntungan, serta tingkat risiko yang berbeda.
Maka dari itu, Lanjar mengingatkan masyarakat agar tidak mudah tergiur promosi investasi yang menawarkan keuntungan tinggi dalam waktu singkat tanpa memahami terlebih dahulu mekanisme dan risiko produknya.
“Jangan sampai kita mentang-mentang ada produk investasi yang 1 tahun bisa 100%, yang sempat heboh kemarin sama polisi gitu ya. Mentang-mentang ada produk investasi promosinya kita investasikan, jangan. Kita pahami dulu produk investasinya,” papar Lanjar.
Fondasi ketiga yang tak kalah penting adalah memahami profil risiko pribadi. Setiap investor memiliki tingkat toleransi risiko yang berbeda, sehingga keputusan investasi tidak bisa disamaratakan.
Menurut Lanjar, investor perlu mempertimbangkan kondisi finansial, usia, tujuan investasi, hingga kemampuan dalam menghadapi potensi kerugian sebelum menentukan instrumen yang sesuai.
“Kita juga harus paham dari risiko diri kita sendiri. Kita punya risiko seberapa besar nih terhadap keuangan? Kita mau toleransi risikonya seperti apa? Apakah kita konservatif atau kita agresif?” ujarnya.
Selain memahami tiga fondasi tersebut, Lanjar juga merekomendasikan strategi Dollar Cost Averaging (DCA) untuk membantu investor membangun kebiasaan investasi secara konsisten.
DCA merupakan strategi investasi dengan mengalokasikan dana secara rutin dalam jumlah tertentu. Strategi ini berbeda dengan lump sum, yakni menempatkan dana investasi dalam jumlah besar sekaligus.
Melalui investasi secara berkala, investor diharapkan dapat membangun perspektif jangka panjang dan tidak mudah mengambil keputusan hanya berdasarkan pergerakan pasar dalam waktu singkat.
Dalam kesempatan yang sama, Certified Financial Planner/CFP®️ & Financial Digital Creator, Aline Wiratmaja, juga menekankan bahwa masyarakat harus lebih kritis dalam menerima informasi mengenai investasi di tengah derasnya konten finansial yang bertebaran di ruang digital.
Menurut Aline, informasi yang dikemas dengan judul menarik dan dipenuhi data tertentu dapat memicu reaksi emosional pembaca sebelum mereka memahami konteks secara menyeluruh. Di momen inilah, lanjutnya, investor perlu melihat informasi secara utuh sebelum mengambil keputusan investasi.
“Ini yang menimbulkan eextreme reaction dari pembaca/investor, entah too excited atau too scared,” pungkas Aline.
Menyikapi hal tersebut, Aline mengingatkan bahwa sebuah informasi yang menarik perhatian belum tentu menggambarkan keseluruhan kondisi. Informasi tersebut bisa saja hanya merupakan satu bagian kecil dari cerita yang lebih besar.
Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk tidak terburu-buru mengambil keputusan investasi hanya berdasarkan satu informasi atau konten yang terasa relevan dan menarik perhatian.
“Kalau misalnya kita dapat konten atau informasi yang mungkin hook banget sama kita, tunggu dulu, jangan langsung bikin keputusan. Lihat the big picture dulu,” tambahnya.
Menurutnya, masyarakat dapat memperoleh perspektif yang lebih utuh dengan mengikuti perkembangan informasi melalui pemberitaan lanjutan. Informasi awal yang muncul sering kali hanya menjadi bagian pertama dari sebuah peristiwa, sementara laporan lanjutan dapat menghadirkan data tambahan dan sudut pandang dari narasumber lain.