Uang sering dianggap sebagai salah satu fondasi penting dalam rumah tangga. Penghasilan yang cukup memang dapat membantu pasangan memenuhi kebutuhan hidup, tetapi ternyata gaji besar tidak otomatis membuat pernikahan lebih aman dari konflik.
Di Indonesia, faktor ekonomi bahkan menjadi penyebab perceraian nomor dua pada 2025. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip dalam materi Lunch Actually Kamis (26/08/2026), terdapat 438.168 kasus perceraian sepanjang tahun tersebut.
Pertikaian menjadi faktor utama. Sementara itu, persoalan ekonomi menempati posisi kedua dengan 105.727 kasus, atau hampir seperempat dari total perceraian yang tercatat.
Baca Juga: Realita Finansial di Balik Pernikahan yang Sering Tak Terlihat
Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan finansial memang menjadi isu serius dalam rumah tangga. Namun, menurut Violet Lim, CEO dan Co-Founder Lunch Actually, masalahnya tidak selalu sesederhana pasangan yang kekurangan uang.
“Angka itu terjadi bukan hanya soal kekurangan uang,” kata Violet.
Menurutnya, konflik justru bisa muncul ketika pasangan memiliki cara pandang yang berbeda mengenai uang. Mulai dari kebiasaan menabung, pola belanja, gaya hidup, hingga prioritas keuangan.
Dengan kata lain, dua orang dengan penghasilan tinggi sekalipun tetap berpotensi menghadapi konflik jika tidak memiliki kesepakatan mengenai bagaimana uang digunakan.
“Penghasilan besar tidak menyelesaikan masalah tersebut. Percakapan atau persetujuan di awal adalah solusi untuk mencegah hal itu terjadi,” ujarnya.
Hal tersebut sejalan dengan penelitian Jeffrey Dew dan Sonya Britt terhadap lebih dari 4.500 pasangan. Studi tersebut menemukan bahwa konflik mengenai uang menjadi salah satu prediktor perceraian yang sangat kuat.
Baca Juga: Benarkah Pernikahan Kita Bahagia, atau Sekadar Mengejar Standar 'Couple Goals' di Media Sosial?
Konflik finansial juga disebut cenderung berlangsung lebih lama dan lebih intens dibandingkan sejumlah persoalan rumah tangga lainnya.
Karena itu, persoalan yang perlu dibicarakan sebelum menikah bukan hanya berapa besar penghasilan masing-masing, tetapi bagaimana pasangan memandang uang.
Misalnya, apakah keduanya memiliki tujuan menabung yang serupa? Bagaimana jika salah satu tiba-tiba memperoleh bonus besar? Seberapa besar dukungan finansial kepada keluarga masing-masing? Hingga sejauh mana mereka nyaman dengan gaya hidup yang dijalani?
“Yang harus ditanyakan bukan 'berapa penghasilannya?’ Tapi lebih ke 'uangnya dipakai untuk apa, dan apakah itu sesuai dengan cara saya mengatur uang?'” jelas Violet.
Menurutnya, perbedaan tersebut dapat menjadi masalah bahkan ketika kedua pasangan sama-sama memiliki penghasilan tinggi.
Sebaliknya, pasangan dengan penghasilan yang tidak terlalu besar tetap dapat membangun kehidupan yang stabil apabila memiliki kesamaan dalam memandang keuangan.
Baca Juga: Merancang Prioritas Keuangan Keluarga: Kunci Stabilitas dari Awal Pernikahan
Persoalan finansial dalam rumah tangga, dengan demikian, tidak selalu berbicara mengenai jumlah uang yang tersedia, melainkan mengenai cara dua orang membuat keputusan terhadap uang tersebut.
Hal inilah yang membuat pembicaraan soal kondisi finansial menjadi penting dilakukan sejak masa pacaran, bukan baru ketika pasangan sudah menikah dan mulai menghadapi kebutuhan rumah tangga bersama.
Pada akhirnya, penghasilan memang menjadi bagian dari pertimbangan memilih pasangan. Namun, angka di slip gaji bukan jaminan bahwa dua orang akan memiliki kehidupan finansial yang cocok.