Growthmates, tren glass skin atau kulit sebening kaca masih menjadi salah satu standar kecantikan yang populer di media sosial.
Kulit yang tampak mulus, cerah, berkilau, dan nyaris tanpa pori-pori kerap ditampilkan sebagai gambaran kulit ideal. Tak heran, banyak orang berlomba-lomba mencoba berbagai produk dan tahapan perawatan demi mendapatkan tampilan tersebut.
Namun, di balik tren kecantikan ini, muncul pertanyaan penting: apakah kulit yang tampak sempurna selalu berarti kulit yang sehat?
Faktanya, kulit manusia memiliki karakteristik yang beragam. Pori-pori, garis halus, pigmentasi, tekstur tidak merata, hingga jerawat sesekali merupakan hal yang wajar dan tidak selalu menandakan masalah kesehatan kulit.
Dikutip dari Times of India, Kamis (5/11/2026), penting untuk memahami perbedaan antara glass skin dan kulit sehat agar tidak terjebak dalam standar kecantikan yang sulit dicapai.
1. Glass Skin Tidak Selalu Berarti Kulit Sehat
Glass skin menggambarkan tampilan kulit yang sangat halus, cerah, lembap, dan berkilau seperti kaca. Efek ini biasanya diperoleh melalui rangkaian perawatan kulit, penggunaan riasan, hingga pengaturan pencahayaan tertentu.
Sementara itu, kulit sehat lebih berkaitan dengan kondisi dan fungsi kulit, bukan sekadar penampilannya. Kulit yang sehat tidak harus bebas pori-pori, garis halus, atau noda.
Dr. Rinky Kapoor, Co-Founder sekaligus Direktur The Esthetic Clinics (TEC), menjelaskan bahwa hidrasi dan riasan memang dapat membuat kulit terlihat lebih kenyal serta menyamarkan garis halus untuk sementara.
Namun, penggunaan terlalu banyak produk secara berlapis justru berisiko menyebabkan iritasi dan merusak lapisan pelindung kulit jika tidak sesuai dengan kebutuhannya.
Baca Juga: Viral Tren Glass Skin, Benarkah Penggunaan Banyak Serum Bisa Merusak Kulit?