Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti membagikan tiga buku yang menurutnya relevan bagi guru dan dosen untuk terus bertumbuh. Ketiganya membahas pola pikir, tekad untuk berkembang, dan kekuatan kebiasaan kecil, yang menurut Mu'ti menjadi fondasi perubahan pendidikan dari ruang kelas.

Rekomendasi itu disampaikan Mu'ti di hadapan sekitar 1.000 guru dan dosen dalam Inspiring Educators 2026, graduation Wardah Inspiring Teacher (WIT) dan Inspiring Lecturer Program (ILP) yang digelar ParagonCorp di Jakarta Concert Hall, Sabtu (26/9/2026).

Baca Juga: ParagonCorp Dorong Rasa Ingin Tahu dan Keberanian Bereksperimen untuk Melahirkan Inovasi di Era Gempuran AI

"Mengubah keadaan bangsa itu dimulai dari mengubah pola pikir. Dan pola pikir bisa kita bangun salah satunya dengan terus membaca dan belajar," ujar Mu'ti.

Berikut tiga judul buku yang disebut Abdul Mu'ti:

1. Mindset – Carol S. Dweck

Buku pertama yang dirujuk Mu'ti adalah karya psikolog Stanford, Carol S. Dweck, yang memperkenalkan konsep growth mindset: keyakinan bahwa kemampuan dapat berkembang melalui usaha dan proses belajar.

Menurut Mu'ti, mindset menjadi kunci untuk terus maju dan bertumbuh. Perubahan tidak terjadi secara instan, tetapi melalui proses, keberanian belajar dari kesalahan, serta keyakinan untuk menjadi lebih baik di masa depan. Pendidikan, menurutnya, menjadi jalan penting dalam proses tersebut.

2. It's Not How Good You Are, It's How Good You Want to Be – Paul Arden

Dari buku karya Paul Arden, Mu'ti mengutip judulnya sebagai pesan untuk para pendidik.

"It is not how good you are, it is how good you want to be. Kalau Anda ingin jadi orang yang hebat, itu bukan soal Anda sekarang sehebat apa, tapi Anda ingin bercita-cita, bermimpi yang sehebat apa," katanya.

3. Atomic Habits – James Clear

Buku ketiga yang dirujuk Mu’ti adalah Atomic Habits karya James Clear. Buku ini menjadi rujukan untuk menekankan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari kebiasaan sederhana yang dilakukan secara terus-menerus. “Mulailah dengan kebiasaan sederhana yang terus-menerus. Perubahan yang besar bisa dimulai dari perubahan yang sangat kecil,” ujar Mu’ti.

Menurutnya, perubahan tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi bagian dari proses untuk terus bertumbuh dan membawa perubahan yang lebih besar dalam kehidupan.

Mu'ti menilai guru perlu memosisikan diri sebagai pembelajar, bukan hanya di hadapan buku, tetapi juga di hadapan murid-muridnya. Sikap itu, katanya, menjadi bagian dari pembelajaran mendalam yang memuliakan murid, guru, dan ilmu.

Semangat terus belajar itu juga yang ditekankan Komisaris ParagonCorp Salman Subakat kepada para lulusan WIT dan ILP. Menurutnya, kelulusan bukan akhir dari proses belajar.

"Bukan waktu yang singkat, dan mungkin tidak mudah. Tapi semoga semua niat baik dan semangat Bapak Ibu untuk terus belajar dapat menjadikan Bapak Ibu semua pendidik yang lebih baik, yang bisa menginspirasi murid-murid dan guru-guru di sekitarnya," kata Salman.

Tahun ini, WIT meluluskan 5.000 guru dan ILP meluluskan 1.000 dosen setelah menjalani program selama enam bulan. Sejak dimulai pada 2017, kedua program telah menjangkau lebih dari 43.000 pendidik di 38 provinsi.