Atika menilai, tren padu padan atau mix and match memberikan ruang bagi generasi muda untuk bereksperimen dengan batik. Inspirasi dari media sosial dan platform seperti Pinterest dapat dimanfaatkan untuk memadukan warna, tekstur, serta potongan busana yang berbeda.

“Menurut saya, sekarang mix and match itu sudah keren-keren. Kita bisa melihat inspirasi dari media sosial atau Pinterest. Kadang, pakaian yang sebenarnya tidak semuanya senada, ketika dipadukan justru bisa terlihat bagus,” tuturnya.

Dari sisi harga, blazer batik Tieka Huza ditawarkan mulai Rp700.000, sedangkan koleksi berbahan sutra dibanderol mulai Rp2 juta. Selain busana perempuan, jenama ini juga menyediakan kemeja pria, kain batik, syal, dan busana rumahan.

Konsumen yang ingin menyesuaikan model busana dapat memanfaatkan layanan custom dengan waktu pengerjaan sekitar dua minggu, bergantung pada kebutuhan dan penyesuaian produk.

Atika mengatakan, seluruh produksi Tieka Huza mengandalkan produsen sendiri yang berlokasi di Pekalongan. Penjualan dilakukan melalui kanal daring dan luring, sementara butik di Jakarta menjadi salah satu tempat bagi konsumen untuk melihat koleksi secara langsung. Batik Huza juga memiliki jaringan di Pekalongan dan Yogyakarta.

Dalam proses produksinya, Tieka Huza tetap menggunakan metode pewarnaan tradisional. Pengelolaan limbah juga dilakukan melalui sistem tersendiri sebagai bagian dari perhatian terhadap proses produksi.

Melalui tema ‘A Timeless Legacy – Celebrating Batik as a Living Heritage’, Atika pun ingin menegaskan bahwa pelestarian batik tidak cukup dilakukan dengan mempertahankan bentuk tradisionalnya, tetapi juga perlu disertai upaya untuk membuatnya terus dikenakan dan diapresiasi oleh generasi berikutnya.

Bagi Atika, batik memiliki kesempatan untuk menjadi bagian dari perkembangan fesyen Indonesia selama nilai budaya dan karakter khasnya tetap dijaga. Inovasi desain menjadi salah satu cara untuk memastikan warisan tersebut tetap hidup, bukan hanya sebagai peninggalan masa lalu, melainkan juga sebagai ekspresi gaya yang relevan dengan kehidupan modern.

“Menjaga warisan budaya bukan berarti membiarkannya menetap di masa lalu, melainkan terus mengenakan, mengapresiasi, dan mengembangkannya agar tetap hidup lintas generasi sekaligus merayakan craftsmanship lokal sebagai bagian penting dari identitas fashion Indonesia,” papar Atika.

“Saya ingin sekali membuat batik menjadi sesuatu yang membanggakan bagi generasi muda. Batik bukan hanya warisan tradisional, tetapi juga bisa terus berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan karakter aslinya,” lanjut Atika.

Baca Juga: FUGUKU Rilis Koleksi GROUND ZERO, Busana Ready-to-Wear Unisex dengan Sentuhan Futuristik