Manuver pemerintah Indonesia yang mempertimbangkan pemangkasan ekspor gas bumi ke sejumlah negara justru disebut bisa menjadi bumerang. Alih-alih membuat Singapura panik karena ancaman gangguan pasokan energi, kebijakan tersebut dinilai mendorong negara kota itu mempercepat diversifikasi energi dan memperkuat ketahanan nasionalnya.

Pengusaha asal Singapura, Patrick Liew, bahkan menyampaikan serangkaian ucapan “terima kasih” atas langkah yang diambil pemerintah Indonesia. Menurutnya, tekanan tersebut justru menjadi momentum bagi Singapura untuk mengeksplorasi sumber energi alternatif sekaligus memperkuat kesiapan menghadapi potensi krisis.

“Terima kasih telah menginspirasi pemerintah kami untuk mengeksplorasi sumber energi yang berbeda yang mungkin lebih efisien dan bersih, seperti energi panas bumi dan nuklir. Hal ini telah menginspirasi warga kami untuk menjadi lebih bersatu dan siap secara operasional untuk lebih memperkuat ekonomi dan masyarakat kami,” kata Liew dikutip Rabu (28/10/2026).

Baca Juga: Luhut Bantah Pemangkasan Ekspor Gas Picu Konflik Indonesia dan Singapura

Liew juga menyoroti kesiapan Singapura dalam mengantisipasi persoalan energi. Menurutnya, negara tersebut telah menyiapkan sejumlah skenario untuk menjaga pasokan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap satu sumber energi.

Salah satu buktinya disebut terlihat dari rencana kerja sama dengan Arab Saudi. Liew mengungkapkan, negara pengekspor minyak tersebut berencana menyimpan minyak mentah di Jurong Rock Caverns pada 2027.

Menurut Liew, kepercayaan dari negara lain tersebut berkaitan dengan sejumlah faktor yang dimiliki Singapura, mulai dari stabilitas, keamanan, integritas, keselamatan, hingga kepastian hukum.

“Kami memberi mereka stabilitas, keamanan, integritas, keselamatan dan prediktabilitas. Penyimpanan ini akan berkontribusi pada keamanan dan ketahanan energi kami seandainya terjadi gangguan pasokan,” papar Liew.

Baca Juga: Dino Patti Djalal: Isu Konspirasi Singapura untuk Jatuhkan Pasar Modal RI Tidak Realistis

Ia menilai tekanan terkait pasokan energi tidak serta-merta membuat Singapura lumpuh. Sebaliknya, kondisi tersebut dapat memaksa negara itu mempercepat diversifikasi sumber energi dan memperkuat kemampuan menghadapi gangguan pasokan.

Situasi itu pada akhirnya berpotensi mengurangi ketergantungan Singapura terhadap pasokan energi dari Indonesia.

Wacana evaluasi ekspor gas sebelumnya disampaikan Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Investasi Bahlil Lahadalia. Ia mengatakan pemerintah akan mengevaluasi ekspor gas secara selektif, terutama terhadap negara yang dinilai tidak menghormati kedaulatan Indonesia.

“Saya akan melakukan evaluasi. Saya tidak segan-segan untuk mempertimbangkan untuk tidak melakukan ekspor kepada negara mereka yang tidak menghargai Indonesia,” kata Bahlil.

Bahlil juga mengaitkan sikap tersebut dengan sejarah panjang perjuangan Indonesia dalam meraih kemerdekaan. Ia menyindir negara-negara yang dianggap bersikap superior terhadap Indonesia dan mengingatkan bahwa kemerdekaan Indonesia diperoleh melalui perjuangan panjang.

“ Kemerdekaan bukan hasil pemberian. Kemerdekaan kita adalah kemerdekaan yang diperjuangkan berabad-abad. Banyak yang dibunuh, banyak yang disuruh kerja paksa, banyak yang dilakukan pemerkosaan. Kemerdekaan Indonesia diraih dengan darah, keringat, air mata, serta nyawa. Saya tidak ingin ada negara lain yang kemerdekaannya diberikan mau mencoba menganggap seolah-olah mereka yang paling hebat daripada negara yang lain,” tegas Bahlil.

Bagi Singapura, ancaman gangguan pasokan tampaknya justru menjadi alasan untuk mempercepat persiapan menghadapi masa depan energi tanpa terlalu bergantung pada satu negara pemasok.