Perempuan semakin banyak menduduki posisi strategis di berbagai sektor. Meski demikian, perjalanan menuju kursi kepemimpinan masih diwarnai berbagai tantangan yang berbeda dibandingkan laki-laki.
Menurut Editor in Chief Harper's Bazaar Indonesia, Ria Lirungan, hambatan terbesar yang dihadapi perempuan sebagai pemimpin justru tidak selalu berasal dari lingkungan kerja.
Tantangan tersebut lebih banyak muncul dari tuntutan peran domestik dan ekspektasi sosial yang masih melekat pada perempuan.
Ria menuturkan, perempuan kerap dituntut untuk mampu menyeimbangkan tanggung jawab profesional dengan peran sebagai istri dan ibu.
Dukungan dari pasangan maupun lingkungan sekitar menjadi faktor penting agar perempuan dapat menjalankan kedua peran tersebut secara seimbang.
"Kalau perempuan itu challenge-nya memang bukan faktor eksternal, tetapi faktor internal mereka sendiri. Bagaimana perempuan itu bisa memberikan balance, karena biasanya tuntutan itu datang dari keluarga. Harus ada suami yang mendukung, support system di sekitarnya. Misalnya ada anak-anak yang juga menuntut perhatian. Biasanya challenge perempuan rata-rata memang karena faktor domestik atau internal," beber Ria, saat ditemui Olenka, di Jakarta, belum lama ini.
Baca Juga: Editor in Chief Harper's Bazaar Indonesia Ungkap Tantangan Besar Industri Media di Era Digital
Menurut Ria, tantangan tersebut semakin berat karena masih adanya stigma yang menempatkan urusan rumah tangga dan pengasuhan anak sebagai tanggung jawab utama perempuan.
Akibatnya, kata dia, ketika kondisi rumah tangga tidak berjalan sesuai harapan, perempuan sering kali menjadi pihak pertama yang disalahkan.
Sebaliknya, saat perempuan harus menjadi pencari nafkah utama, kondisi tersebut justru dianggap sebagai sesuatu yang wajar tanpa melihat beban tambahan yang harus mereka pikul.
"Ketika perempuan diberi stigma bahwa mengasuh anak dan mengurus domestik adalah tanggung jawab perempuan, saat rumah tidak berjalan dengan lancar pasti pihak perempuan yang disalahkan. Tapi ketika misalnya dia harus menjadi breadwinner, sering kali dianggap sudah sepantasnya perempuan membantu suami ketika suami tidak bisa menjadi breadwinner,” papar Ria.
Ria menilai, sudah saatnya beban tersebut tidak lagi sepenuhnya dibebankan kepada perempuan. Menurutnya, pembagian peran dalam keluarga perlu dibangun secara lebih setara agar perempuan dapat berkembang sebagai pemimpin tanpa harus menghadapi tekanan ganda.
"Jadi saya rasa beban itu yang seharusnya tidak dibebankan kepada perempuan,” pungkasnya.