Loyalis Presiden ke-7 RI Joko Widodo, Dede Budhyarto mengkritik keras pernyataan eks Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang mendesak negara bergerak cepat menangkap para pelaku pengeroyokan yang menewaskan Bambang Setiawan pada aksi unjuk rasa 27 Agustus 2026 lalu.
Menurut Dede, pernyataan Anies yang seperti ini bukan baru terjadi sekali ini, hal itu sudah lama ia ulang, setiap kali ada korban jiwa dalam sebuah peristiwa besar, Anies pasti datang menjenguk, merekam dan memamerkannya seraya melontarkan pernyataan-pernyataan yang terdengar gagah.
“Tanpa mengurangi belasungkawa kepada keluarga almarhum Bambang Setiyawan. Pernyataan Anda, ‘negara tidak boleh kalah dari perusak hukum’, terdengar gagah. Tapi dari siapa pernyataan itu datang, dan kapan disampaikan, justru yang membuatnya terdengar seperti ritual yang sudah terlalu sering diulang,” kata Dede dilansir Olenka.id Kamis (3/9/2026),
Eks Komisaris PELNI ini mengatakan, setiap kabar duka dalam peristiwa besar acap kali dipakai sebagai panggung untuk mencari popularitas yang dibungkus dengan simpati palsu. Bahkan kata dia pola seperti ini telah dilakukan Anies Baswedan sejak 2017 atau saat ia mulai menjadi Gubernur DKI Jakarta.
“Sejak 2017, hampir setiap kali ada korban berjatuhan di ruang publik, pola yang sama muncul: datang, takziah, rekam, lalu keluarkan kalimat yang seolah paling peduli. Seolah keadilan baru lahir ketika kamera menyala. Seolah negara baru ‘kalah’ ketika yang berbicara adalah pihak yang sedang mencari panggung,” ujarnya.
Dede mengatakan, pengeroyokan hingga menewaskan korban bukan sesuatu yang bisa dibenarkan, kasusnya tak boleh berhenti, para pelaku mesti dikejar dan diganjar hukuman setimpal. Namun ia sekali lagi meminta kepada Anies Baswedan untuk tidak mempolitisasi kematian pedagang cermin di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat itu.
“Kasus ini memang harus diusut tuntas. Ada korban tewas, ada rekaman, ada saksi. Itu fakta, bukan bahan kampanye. Tapi menempatkan diri sebagai satu-satunya suara yang ‘berani bicara’ setelah tragedi, sambil membawa memori lama soal siapa yang paling peduli, justru mereduksi duka keluarga menjadi alat relevansi politik,” katanya.
“Kalau memang negara tidak boleh kalah, maka yang dibutuhkan bukan narasi yang sudah hafal di luar kepala. Yang dibutuhkan adalah tekanan yang konsisten, bukan yang muncul hanya saat popularitas butuh suntikan Jangan sampai yang tertinggal dari semua ini hanya video, caption, dan angka engagement, sementara pelaku masih berkeliaran. Usut tuntas pelakunya. Jangan usut tuntas panggungnya,” tambahnya memungkasi.
Anies Baswedan marah besar atas pengeroyokan yang membuat Bambang Setiyawan seorang pedagang cermin di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat meninggal dunia. Pengeroyokan yang dilakukan kelompok tak dikenal itu terjadi dalam kerusuhan pasca unjuk rasa 27 Agustus lalu.
Anies Baswedan mendesak aparat penegak hukum untuk memburu seluruh pelaku dan mengganjar mereka dengan hukuman setimpal, eks Menteri Pendidikan dan Kebudayaan era Presiden Joko Widodo (Jokowi) itu mengatakan penangkapan para pelaku sebenarnya tak sulit dilakukan mengingat peristiwa itu direkam banyak pihak, video-video amatir yang menangkap tragedi itu kini berseliweran di media sosial.
"Kita semua tahu, ada jenazahnya, ada video rekaman peristiwaannya. Nah, jangan sampai kita tidak melihat tindak lanjutnya. Jangan sampai tidak tuntas pengusutannya," kata Anies.
Anies mengatakan apabila aparat negara sengaja mendiamkan peristiwa ini, maka kejadian brutal ini bakal terulang di kemudian hari, untuk itu dia sekali lagi meminta supaya aparat penegak hukum mengusut kasus ini dengan sungguh-sungguh.
Baca Juga: Omongan Raja Juli Soal Asap Kebakaran Hutan Tak Punya KTP Disambar Anies Baswedan: Kok Dejavu Ya!
"Bila didiamkan, maka kejadian ini akan bisa berulang, berulang, dan berulang. Negara tidak boleh kalah dengan pembunuh dan negara tidak boleh kalah dengan para perusak hukum,” tegasnya.
“Usut tuntas para pelaku pengeroyokan yang menewaskan Pak Bambang Setiyawan!” tambahnya.