Growthmates, banyak pasangan mengira sulit memiliki momongan pasti disebabkan oleh masalah pada pihak wanita. Padahal, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.
Menurut dokter, peluang penyebab infertilitas berasal dari pria dan wanita hampir sama besar, sehingga keduanya perlu menjalani pemeriksaan untuk mengetahui penyebab sebenarnya.
Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan (Obgyn), dr. Indra Tarigan, Sp.OG, menjelaskan bahwa secara umum faktor penyebab sulit hamil terbagi rata antara pria dan wanita.
"Kalau secara garis besar, 50% penyebabnya berasal dari faktor pria dan 50% dari faktor wanita," tutur dr. Indra, dikutip dari podcast YouTube @roryasyari @room.4improvement, Kamis (23/7/2026).
Menurut dr. Indra, masih banyak orang yang menilai kesuburan pria hanya dari anggapan seperti sperma yang terlihat encer atau kental. Padahal, hal tersebut tidak dapat dijadikan acuan medis.
"Banyak yang bilang, 'Dok, suami saya maninya encer.' Padahal itu nggak bisa dijadikan patokan. Satu-satunya yang bisa kita percaya adalah analisis sperma di laboratorium. Kalau hasilnya bagus, relatif aman. Kalau hasilnya kurang baik, ya diperbaiki sesuai penyebabnya," jelasnya.
dr. Indra menjelaskan, analisis sperma dapat menilai berbagai aspek, mulai dari jumlah, bentuk, hingga pergerakan sperma yang berperan penting dalam proses pembuahan.
Sementara itu, pada wanita, dr. Indra menyarankan setidaknya ada dua pemeriksaan dasar yang perlu dilakukan apabila pasangan mengalami kesulitan mendapatkan kehamilan.
Baca Juga: Masih Dianggap Tabu, CEO Smart Fertility Clinic Jelaskan Fakta tentang Program IVF
Pemeriksaan pertama adalah USG untuk melihat kondisi organ reproduksi dan mendeteksi kemungkinan adanya gangguan seperti kista, miom, atau kelainan lainnya.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya menjalani pemeriksaan HSG (Hysterosalpingografi) untuk mengetahui apakah saluran tuba falopi terbuka atau mengalami sumbatan.
"Minimal ada dua pemeriksaan. Yang pertama USG untuk melihat ada atau tidak masalah pada organ reproduksi. Yang kedua, menurut saya wajib kalau ingin mengetahui peluang hamil, yaitu pemeriksaan HSG atau Hysterosalpingografi," kata dr. Indra.
Meski hasil pemeriksaan pada suami dan istri menunjukkan kondisi yang baik, bukan berarti kehamilan pasti langsung terjadi. Menurut dr. Indra, kondisi seperti ini cukup sering ditemui dalam praktik sehari-hari.
Dalam banyak kasus, pasangan tidak selalu membutuhkan tindakan medis yang rumit. Sebaliknya, perubahan gaya hidup justru menjadi langkah yang sangat penting untuk meningkatkan peluang kehamilan.
"Sering kali pemeriksaan suami dan istri sama-sama bagus, tetapi belum juga mendapatkan keturunan. Kondisi seperti ini sering terjadi. Sebenarnya mereka tidak butuh yang aneh-aneh. Yang dibutuhkan adalah hidup sehat dan terutama menghindari stres," tutup dr. Indra.
Baca Juga: Masih Bisakah Hamil Setelah Didiagnosis Kanker Endometrium? Ini Kata Dokter