PT Sulawesi Optima Wirakarya (PT SOW) bersama perusahaan genetika ternak asal Denmark, DanBred, resmi menghadirkan 546 indukan babi unggul asal Denmark sebagai langkah awal pengembangan pusat pembibitan (breeding farm) berstandar internasional di Indonesia. Kolaborasi ini diharapkan dapat mendukung pemulihan industri peternakan babi nasional pasca wabah African Swine Fever (ASF) yang menyebabkan defisit kebutuhan babi diperkirakan mencapai sekitar 4 juta ekor per tahun, melalui penguatan kualitas genetika, transfer teknologi, dan penerapan praktik peternakan modern.

Melalui pengembangan Batu Likupang Integrated Farm (BLIF) di Sulawesi Utara, PT SOW membangun ekosistem peternakan yang mengintegrasikan biosekuriti, kesejahteraan hewan, efisiensi produksi, serta praktik peternakan berstandar global. Inisiatif ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas peternak sekaligus memperkuat daya saing industri peternakan babi Indonesia secara berkelanjutan.

Baca Juga: Program Janantara yang Digagas Dompet Dhuafa Dorong Perekonomian Peternak di Desa Tolokan

President Director PT Sulawesi Optima Wirakarya, Andreas Surjaputra, mengatakan bahwa kedatangan genetika babi unggul asal Denmark merupakan hasil kolaborasi jangka panjang yang melibatkan Pemerintah Indonesia, Pemerintah Denmark, Kedutaan Besar Kerajaan Denmark di Indonesia, DanBred, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.

"Hari ini bukan sekadar seremoni peluncuran ternak babi dengan genetika terbaik dari Denmark. Hari ini adalah wujud komitmen kami untuk menghadirkan sektor peternakan yang lebih modern, produktif, berdaya saing, dan berkelanjutan," ujar Andreas dalam acara Inauguration of The Indonesia – Denmark Swine Genetics Partnership, yang digelar di Jakarta pada Rabu (14/7).

Dikatakan Andreas, PT SOW hadir dengan keyakinan bahwa Indonesia memiliki potensi besar menjadi pusat pengembangan peternakan babi modern. Karena itu, perusahaan tidak hanya membangun fasilitas pembibitan berstandar internasional, tetapi juga menargetkan BLIF menjadi pusat pengembangan genetika, pembelajaran, dan transfer teknologi bagi industri peternakan nasional.

"Kami percaya kemajuan industri tidak dapat dibangun oleh satu pihak saja. Dibutuhkan kolaborasi erat antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, asosiasi, dan para peternak. Kami hadir bukan untuk menjadi pesaing peternak, melainkan menjadi mitra pertumbuhan melalui penyediaan bibit unggul dan transfer teknologi agar produktivitas maupun kesejahteraan peternak terus meningkat," ungkapnya.

Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara menyambut baik hadirnya investasi tersebut. Wakil Gubernur Sulawesi Utara Dr. J. Victor Mailangkay, S.H., M.H. menyampaikan bahwa peternakan babi merupakan sektor strategis yang menopang perekonomian masyarakat sekaligus menjadi bagian dari budaya masyarakat Sulawesi Utara. Menurutnya, kemitraan Indonesia–Denmark menjadi momentum penting untuk mempercepat pemulihan industri setelah terdampak wabah ASF.

"Bagi Sulawesi Utara, peternakan bagi bukan sekedar komunitas ekonomi biasa. Sektor ini menjadi salah satu urat nadi perekonomian rakyat, penopang ketahanan pangan daerah, serta bagian yang tak terpisahkan dari adat, budaya, dan tradisi lokal kami. Karena itu, kehadiran kemitraan ini adalah jawaban nyata yang sangat krusial, menandai awal langkah besar pemulihan, pasca pandemi ASF secara terstruktur, modern, dan berkelanjutan,” kata Victor.

Ia juga berharap investasi tersebut mampu mendorong transformasi peternakan menuju sistem yang lebih modern dengan biosekuriti yang kuat, sekaligus memberikan manfaat yang lebih luas bagi peternak rakyat. Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara berkomitmen menjaga iklim investasi yang kondusif agar kemitraan ini dapat berjalan secara aman, sukses, dan berkelanjutan.

Perwakilan DanBred Denmark Henrik Nielsen mengatakan PT SOW dipilih sebagai mitra di Indonesia karena dinilai memiliki visi jangka panjang, tim yang profesional, serta kesiapan dalam membangun industri peternakan modern.

"Kami melihat PT SOW memiliki tim yang profesional, kapasitas yang kuat, serta visi yang sejalan dengan tujuan DanBred. Karena itulah kami yakin menjalin kemitraan ini," kata Henrik.

Henrik menegaskan bahwa kemitraan tersebut tidak hanya mencakup penyediaan genetika unggul, tetapi juga transfer pengetahuan melalui pelatihan di DanBred Academy, pendampingan tenaga ahli di Indonesia, serta dukungan teknis untuk memastikan standar pembibitan dan manajemen peternakan dapat diterapkan secara optimal.

"Keberhasilan peternakan tidak hanya ditentukan oleh genetika. Genetika memberikan potensi, tetapi manajemen peternakan, nutrisi, biosekuriti, dan operasional sehari-hari menjadi faktor yang menentukan agar potensi tersebut dapat dimaksimalkan. Karena itu, kami memastikan transfer pengetahuan berjalan melalui pelatihan, pendampingan di lapangan, dan dukungan teknis dari tim DanBred," tegasnya.

Seluruh indukan babi asal Denmark telah melalui proses karantina dan pemeriksaan kesehatan yang ketat di Denmark maupun Indonesia sebelum menjalani observasi di Instalasi Karantina Hewan di Manado. Setelah seluruh tahapan tersebut selesai, indukan babi akan dikembangkan di BLIF sebagai bagian dari pengembangan pusat pembibitan berstandar internasional yang diharapkan dapat memperkuat industri peternakan babi Indonesia dalam jangka panjang.