Growthmates, pernah merasa ingin makan saat sedang stres, bosan, atau bahkan ketika suasana hati sedang bahagia, padahal tubuh sebenarnya tidak merasa lapar? Kondisi ini bisa berkaitan dengan food noise, yakni pikiran tentang makanan yang muncul terus-menerus hingga mengganggu fokus dan membuat seseorang sulit mengendalikan keinginan untuk makan.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam dengan kompetensi komprehensif dalam penanganan penyakit metabolik, gastroenterologi, hepatologi, serta penyakit imunologi, dr. Vardian Mahardika, M.Biomed, SpPD, AIFO-K, menjelaskan bahwa food noise bukan sekadar persoalan kebiasaan makan.

Kondisi ini juga berkaitan dengan mekanisme biologis yang mengatur rasa lapar, kenyang, dan sistem penghargaan di otak.

“Lu itu dikit-dikit mikirnya makan, stres dikit makan, happy dikit makan, semua reward-nya makan. Padahal lu itu nggak lapar-lapar amat, tapi otak lu itu mikir makanan. Ini yang disebut dengan food noise,” beber dr. Vardian, sebagaimana Olenka kutip dari laman Instagram pribadinya @vardiandika, Kamis (22/10/2026).

Menurut dr. Vardian, tubuh manusia memiliki sistem yang mengatur rasa lapar dan kenyang melalui sejumlah hormon. Ghrelin berperan memberikan sinyal lapar, sedangkan leptin dan hormon lain, seperti PYY serta GLP-1, turut berperan dalam pengaturan rasa kenyang dan nafsu makan.

Namun, pada orang dengan obesitas, mekanisme pengaturan tersebut dapat mengalami gangguan. Salah satunya adalah resistensi leptin, yaitu kondisi ketika tubuh tidak merespons sinyal leptin secara optimal. Akibatnya, otak dapat kesulitan menerima sinyal bahwa tubuh sudah memiliki cukup energi.

“Jadi, sinyal kenyang itu nggak bisa bekerja secara optimal. Akibatnya, walau tubuh itu sudah cukup energi, tapi otak itu ngasih dorongan buat makan lagi,” jelasnya.

Selain faktor hormonal, jenis makanan yang dikonsumsi juga dapat memengaruhi keinginan untuk makan. Makanan dengan rasa manis, gurih, dan tekstur renyah dapat merangsang sistem penghargaan di otak yang melibatkan dopamin.

Respons ini, kata dr. Vardian, bisa membuat seseorang terdorong untuk terus makan, meskipun kebutuhan energinya sebenarnya sudah terpenuhi.

Gangguan pada mekanisme yang membantu mengatur rasa kenyang juga dapat membuat seseorang semakin sulit mengendalikan nafsu makan. Karena itu, food noise yang terus berulang tidak selalu dapat diatasi hanya dengan mengandalkan kemauan atau disiplin diri.

dr. Vardian turut menyinggung penelitian mengenai penggunaan obat yang bekerja pada reseptor GLP-1. Menurutnya, studi menunjukkan bahwa terapi tersebut dapat membantu mengurangi food noise pada sebagian orang. Meski demikian, penggunaan obat untuk obesitas perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien dan dilakukan melalui konsultasi dengan dokter.

Baca Juga: Dokter: Tubuh Bukan Pinjol, Makan Gorengan Tak Bisa Dibayar dengan Olahraga

Lantas, bagaimana cara mengelola food noise dalam kehidupan sehari-hari? Terkait hal itu, dr. Vardian menyarankan untuk mulai membangun pola makan yang lebih teratur. Hindari melewatkan waktu makan hingga akhirnya makan berlebihan pada satu waktu. Selain itu, utamakan makanan yang mengandung protein dan serat karena keduanya dapat membantu mempertahankan rasa kenyang lebih lama.

Langkah berikutnya adalah mengelola lingkungan makan. Salah satunya dengan membatasi persediaan camilan yang mudah memicu keinginan makan di rumah. Dengan begitu, lanjut dia, seseorang dapat mengurangi dorongan untuk terus mengambil makanan hanya karena melihat atau menjangkaunya dengan mudah.

Pengelolaan stres juga tidak kalah penting. Jika selama ini makanan menjadi pelarian ketika menghadapi tekanan emosional, cobalah menggantinya dengan mekanisme koping yang lebih sehat, seperti berjalan kaki, berolahraga, atau melakukan aktivitas yang membantu menenangkan pikiran.

“Stres dikit, push-up. Penat dikit, push-up. Depresi dikit, push-up. Cari coping mechanism yang sehat, gerak, teman-teman,” kata dr. Vardian.

Selain itu, pastikan kebutuhan tidur terpenuhi. Kurang tidur dapat memengaruhi pengaturan nafsu makan dan meningkatkan keinginan untuk mengonsumsi makanan tertentu. Menjaga jadwal tidur yang konsisten menjadi salah satu bagian penting dalam mendukung pengelolaan berat badan.

dr. Vardian menegaskan bahwa obesitas merupakan kondisi kompleks yang melibatkan berbagai faktor, mulai dari hormon, metabolisme, hingga mekanisme pengaturan nafsu makan di otak. Oleh karena itu, obesitas tidak tepat jika hanya dipandang sebagai akibat dari kurangnya kedisiplinan seseorang.

“Jadi, sekali lagi, obesitas itu kompleks, ya. Bukan cuma kurang disiplin, tapi ini adalah penyakit kronis yang melibatkan berbagai macam hormon dan sistem di otak,” tegasnya.

dr. Vardian juga mengatakan, jika pikiran tentang makanan terus muncul, keinginan makan sulit dikendalikan, atau kondisi tersebut mulai mengganggu aktivitas sehari-hari dan pengelolaan berat badan, konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan evaluasi serta penanganan yang sesuai.

“Jadi, kalau food noise-nya udah nggak bisa dikontrol, langsung aja cari dokter terdekat untuk konsultasi obesitas kalian,” pungkasnya.

Baca Juga: Dokter Tirta Ingatkan Risiko Gym Tengah Malam, Ini yang Perlu Diperhatikan