Growthmates, peredaran vitamin palsu yang dipasarkan secara online menjadi perhatian masyarakat, terutama para orang tua yang ingin memenuhi kebutuhan vitamin anak. Konsumen yang telanjur mengonsumsi produk yang diduga palsu diimbau segera menghentikan penggunaannya dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mengantisipasi risiko yang mungkin timbul.
Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dr. Sulpiana, MBiomed, mengingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap produk vitamin yang dijual melalui platform digital.
Peringatan ini mencuat setelah terungkapnya pabrik vitamin anak palsu di Lampung beberapa waktu lalu. Produk tersebut dilaporkan dijual dengan harga Rp50 ribu per botol dan dipasarkan secara online untuk menjangkau konsumen di berbagai daerah.
Menurut dr. Sulpiana, kemudahan berbelanja melalui internet perlu diimbangi dengan ketelitian dalam memilih produk kesehatan. Mengacu pada penjelasan World Health Organization (WHO), produk kesehatan palsu dapat mengandung bahan aktif yang tidak sesuai, sama sekali tidak mengandung bahan aktif, atau bahkan memiliki kandungan zat berbahaya.
Ia menegaskan bahwa dampak konsumsi vitamin palsu tidak selalu langsung terlihat. Risiko yang muncul bergantung pada kandungan produk, jumlah dan frekuensi konsumsi, serta kondisi kesehatan orang yang mengonsumsinya.
“Tidak munculnya keluhan bukan berarti produk tersebut aman,” tegas dr. Sulpiana, dikutip dari laman resmi IPB University, Rabu (21/10/2026).
Bagi masyarakat yang telanjur mengonsumsi vitamin yang dicurigai palsu, terdapat lima langkah penting yang perlu dilakukan untuk mengurangi risiko kesehatan.
Langkah pertama adalah segera menghentikan konsumsi produk tersebut. Konsumen tidak disarankan melanjutkan penggunaan hanya karena produk masih tersisa atau sudah terlanjur dibeli.
“Jangan mencoba menghabiskan produk hanya karena masih tersisa atau karena sudah mengeluarkan biaya untuk membelinya,” katanya.
Langkah kedua, simpan kemasan produk, nomor bets, label, serta bukti pembelian. Informasi tersebut dapat membantu tenaga kesehatan maupun pihak berwenang mengidentifikasi produk yang dikonsumsi dan menelusuri dugaan pemalsuan. Jika memungkinkan, dokumentasikan pula informasi penjual dan tempat pembelian.
Langkah ketiga, catat waktu konsumsi, jumlah vitamin yang diminum, dan gejala yang muncul setelahnya. Konsumen perlu memperhatikan keluhan baru, seperti mual, muntah, diare, ruam, gatal, pusing, atau tubuh terasa lemas.
Apabila muncul gejala serius, seperti sesak napas, pembengkakan lidah atau tenggorokan, kejang, penurunan kesadaran, atau nyeri perut hebat, segera cari pertolongan medis darurat. Jangan menunggu sampai kondisi memburuk untuk mendapatkan penanganan.
“Jangan menunggu sampai gejala memburuk untuk mencari pertolongan,” tegasnya.
Baca Juga: Keracunan MBG di SMA Berastagi, Dokter Ungkap Temuan Bakteri hingga Risiko Gagal Ginjal