Langkah progresif ditunjukkan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) dalam menggarap industri bahan bangunan melalui inovasi produk derivatif (turunan) untuk menciptakan pertumbuhan berkelanjutan. mengatakan bahwa
Melihat besarnya potensi pasar bahan bangunan di Indonesia, PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) membuka peluang kolaborasi global dalam pengembangan inovasi bahan bangunan dan rantai pasok berkelanjutan. Langkah ini menjadi bagian dari transformasi SIG menuju bisnis yang lebih customer-centric dan bernilai tambah tinggi.
Pada konferensi ”Leading Sustainable Building Solution for a Resilient Future” dalam rangkaian INTERCEM Asia 2026 pada Rabu (15/4/2026), Wakil Direktur Utama SIG, Andriano Hosny Panangian, menegaskan bahwa pihaknya terus meningkatkan kapabilitasnya dengan menghadirkan beragam inovasi produk bahan bangunan dan mengoptimalkan jaringan operasional yang luas untuk menyokong kebutuhan konstruksi di seluruh wilayah Indonesia bahkan regional.
Baca Juga: Rayakan Anniversary ke-6, PINTU Gelar Campaign #SixcessfulYear dan Catat Pertumbuhan Signifikan
”Industri bahan bangunan di Indonesia memiliki ekosistem sangat besar dengan industri semen baru berkontribusi sekitar 11% dari total biaya material konstruksi bangunan dan masih terdapat 89% potensi dari bahan bangunan lainnya yang bisa digarap. Sementara, SIG memiliki kemampuan distribusi dan network yang paling besar dan kuat di industri ini. Karena itu, SIG bergerak ke arah bisnis yang lebih customer-centric dan value-driven dengan terus berinovasi menghadirkan produk derivatif,” kata Andriano dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis (23/4/2026).
Andriano Hosny Panangian menyoroti inisiatif peningkatan efisiensi energi untuk lebih adaptif menghadapi dinamika bisnis. Ia menjelaskan, SIG meletakkan prinsip keberlanjutan sebagai fondasi dalam operasional, di antaranya dengan mengoptimalkan digitalisasi dan memperluas kolaborasi untuk rantai pasok yang berkelanjutan. Penggunaan bahan bakar alternatif dari biomassa, refuse-derived fuel (RDF), dan limbah industri, dalam proses produksi juga terus ditingkatkan, sekaligus pengembangan energi terbarukan melalui penggunaan panel surya, dan konversi gas panas buang menjadi energi listrik (Waste Heat Recovery Power Generation/WHRPG).
Pada 2025, SIG berhasil meningkatkan substitusi energi panas (thermal substitution rate) menjadi 9,77% dari sebelumnya 7,56% pada 2024. SIG juga berhasil menurunkan intensitas emisi Gas Rumah Kaca (GRK) cakupan 1 menjadi 561 kg CO2/ton cement equivalent atau turun 21% dibandingkan baseline tahun 2010. Sementara itu, emisi GRK cakupan 2 (emisi tidak langsung dari energi listrik) berhasil turun menjadi 57 kg CO2/ton cement equivalent atau turun 15% dibandingkan baseline tahun 2019. Langkah strategis ini dilakukan untuk mendukung inisiatif SIG menghadirkan produk semen dan bahan bangunan ramah lingkungan yang rendah karbon.
Andriano Hosny Panangian menambahkan, INTERCEM Asia membuka peluang untuk memperluas kolaborasi dengan para pemangku kepentingan di industri, mulai dari produsen, pemasok, hingga penyedia teknologi, guna mendukung langkah transformasi Perusahaan.
Sementara itu, Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri Kementerian Perindustrian, Emmy Suryandari, menyampaikan bahwa industri semen dan mineral nonlogam memainkan peranan dalam pembangunan di Indonesia. Pada 2025, sektor ini tercatat tumbuh sebesar 6,16% dengan nilai investasi mencapai Rp25 triliun, nilai ekspor sebesar USD1,79 miliar, serta menyerap lebih dari 900 ribu tenaga kerja.
”Indonesia terbuka untuk memperkuat kolaborasi dengan mitra global dalam mendorong industri semen yang lebih tangguh, efisien, dan berkelanjutan. Oleh karena itu, INTERCEM Asia 2026 tidak hanya menjadi forum pertukaran pengetahuan dan praktik terbaik, tetapi juga platform strategis untuk memperdalam kemitraan serta mendorong percepatan inovasi dan ketahanan industri di masa depan,” pungkasnya.