Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di zaman kita belakangan menjadi sorotan publik setelah acara nonton bareng film ini di beberapa tempat dibubarkan aparat.
Film garapan jurnalis senior Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale yang menceritakan dampak Proyek Strategis Nasional (PSN) di Papua itu kini masih berpolemik.
Di media sosial pendapat tentang film itu terbelah, ada yang sepakat dan mendukung penuh karya tersebut, namun ada pula yang berpendapat sebaliknya.
Pesta Babi dinilai tak berimbang bahkan dicap sebagai film 'pesanan' untuk menyerang pemerintah. Banyak yang mempertanyakan sumber dana pembuatan film itu.
Terlepas dari polemik yang menggelinding di media sosial, pertanyaan yang sama soal penyokong dana pembuatan film ini juga dilontarkan langsung Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD), Maruli Simanjuntak. Baginya pembuatan dokumenter Pesta Babi jelas disokong dana besar namun sayangnya penda di balik film itu tak dipublikasikan secara gamblang.
Baca Juga: Ragam Tanggapan Soal Pembubaran Nobar Film Pesta Babi
"Sekarang permasalahannya, orang sampai membuat video, bagaimana ceritanya seperti ini segala macam, duitnya dari mana? Itu coba-coba aja, ya kan? Sampai datang ke sana, bikin video terbang sini terbang sana, orang berduit lah," kata Maruli, usai rapat bersama Komisi I DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta dilansir Rabu (20/5/2026).
Seraya berseloroh Maruli mengatakan desas desus yang ia dengar belakang, film Pesta Babi memang didanai pihak tertentu. Namun ia tak menjelaskan secara detail bohir yang mengongkosi dokumenter tersebut.
"Anda yang bilang, 'Emang ada yang mendanai’ loh, bukan saya," tutur dia.
Didanai Jos Soros?
Narasi liar yang beredar sekarang ini, pembuatan film Pesta Babi mendapat sokongan dana segar dari
George Soros, miliarder, investor, dan filantropis radikal berkebangsaan Amerika Serikat. Sosoknya disebut-sebut terlibat dalam berbagai peristiwa besar di berbagai negara di dunia.
Mengutip youtube Akbar Faizal Uncensored, Dandhy Laksono dengan tegas membantah hal itu. Dia mengatakan pandaan film pendanaan film Pesta Babi dilakukan secara mandiri lewat cara kolaborasi dengan berbagai pihak.
Dandy mengaku dalam pembuatan film ini dirinya sama sekali tidak dibayar secara profesional, ia hanya diakomodasi ongkos untuk berangkat ke lapangan oleh para kolaborator sebab tujuan pembuatan film tersebut untuk mengedukasi masyarakat Papua.
“Jadi kami itu selalu ada kolaborator, logonya, nama lembaganya selalu kami munculkan dalam hal itu kami lebih progresif daripada partai politik yang tidak pernah memunculkan nama sponsornya. Di surat suara Prabowo-Gibran keren banget kalau disebutkan siapa nama penyumbang (dana) di film kami ada,” kata Dandy.
Kenapa Acara Nobar Dibubarkan?
Acara nonton bareng film Pesta Babi di sejumlah wilayah dibubarkan. Pembubaran itu bahkan melibatkan anggota TNI.
Terkait maraknya pembubaran nobar film tersebut, Maruli mengatakan hal itu dilakukan atas permintaan Pemerintah Daerah (Pemda).
Di mana isi film tersebut memang terdapat narasi TNI mengamankan dan ikut membantu proyek food estate yang tengah digarap di Papua Barat.
Baca Juga: Hidup Masyarakat Desa Sangat Dipengaruhi Dolar
Dia pun menceritakan bahwa program tersebut merupakan cetusan pemerintah untuk kemaslahatan masyarakat.
"Ya orang mempunyai pendapat ya silakan aja, tapi saya juga berani bilang bahwa program kami juga banyak. Itu pendapat-pendapat orang bahwa seolah-olah kita mempekerjakan begitu kan bukan, bukan kepentingan TNI. Itu kan cadangan untuk negara," kata Maruli.
"Silakan tanya ke yang punya program, kami meyakinkan program itu berjalan, tidak ada yang tersakiti," tambahnya.