Minuman manis dan berwarna kini begitu mudah ditemukan dan menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari, terutama di kalangan anak muda. Mulai dari boba, teh kemasan, kopi susu, minuman bersoda, hingga minuman berenergi, semuanya kerap dipilih untuk menemani aktivitas.
Namun, di balik rasa manis dan tampilannya yang menarik, kebiasaan mengonsumsi minuman berpemanis secara berlebihan perlu diwaspadai. Dalam jangka panjang, pola konsumsi tinggi gula dapat meningkatkan risiko obesitas dan diabetes tipe 2, yang keduanya merupakan faktor risiko penyakit ginjal kronis.
Lantas, benarkah minuman manis dan berwarna bisa menyebabkan gagal ginjal, terutama di tengah meningkatnya perhatian terhadap kasus gangguan ginjal pada usia muda?
Benarkah Minuman Manis Bisa Sebabkan Gagal Ginjal?
Ginjal merupakan organ vital yang bertugas menyaring limbah dari darah, menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit, serta membantu mengatur tekanan darah. Agar fungsi tersebut tetap optimal, kesehatan ginjal perlu didukung melalui pola makan dan gaya hidup yang sehat.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan bahwa konsumsi gula, garam, dan lemak secara berlebihan dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular, termasuk diabetes dan tekanan darah tinggi.
Kedua kondisi tersebut merupakan faktor risiko penting penyakit ginjal kronis.
Baca Juga: Ini Minuman Terbaik untuk Ginjal, Bagus Dikonsumsi setelah Makan Malam!
Kadar gula darah yang tinggi dalam jangka panjang akibat diabetes dapat merusak pembuluh darah kecil dan unit penyaring di dalam ginjal. Sementara itu, tekanan darah tinggi dapat merusak pembuluh darah ginjal sehingga kemampuan organ tersebut dalam menyaring darah dapat menurun.
Artinya, minuman manis tidak secara langsung membuat seseorang mengalami gagal ginjal setelah meminumnya. Risikonya lebih berkaitan dengan kebiasaan konsumsi gula berlebihan dalam jangka panjang yang dapat berkontribusi terhadap obesitas, diabetes, hipertensi, dan gangguan metabolisme lainnya.
Jangan Nilai Minuman dari Warnanya Saja
Anggapan bahwa semua minuman berwarna berbahaya bagi ginjal juga perlu diluruskan. Warna minuman bukan satu-satunya indikator yang menentukan apakah minuman tersebut berisiko bagi kesehatan.
Hal yang lebih penting adalah memperhatikan kandungan di dalamnya, seperti gula tambahan, natrium, fosfat, kafein, serta bahan lainnya. Kandungan tersebut dapat berbeda tergantung jenis dan formulasi setiap produk.
Minuman bersoda berwarna gelap, misalnya, dapat mengandung asam fosfat. National Kidney Foundation menyebut konsumsi minuman jenis tersebut perlu diperhatikan, terutama bagi orang yang sudah memiliki gangguan ginjal karena asupan fosfor tertentu dapat menjadi persoalan pada kondisi tersebut.
Sementara itu, minuman berenergi umumnya mengandung gula dan kafein, selain berbagai bahan tambahan lainnya. Konsumsi secara berlebihan, terutama pada orang yang rentan, dapat menimbulkan masalah kesehatan dan memengaruhi faktor risiko seperti tekanan darah.
Baca Juga: Ini Minuman Terbaik untuk Ginjal, Bagus Dikonsumsi setelah Makan Malam!
Meski begitu, bukan berarti setiap minuman berwarna otomatis menyebabkan kerusakan ginjal. Minuman yang mengandung pewarna yang telah diizinkan penggunaannya juga tidak bisa langsung disebut sebagai penyebab gagal ginjal hanya berdasarkan warna atau tampilannya.
Karena itu, kebiasaan membaca label informasi nilai gizi dan daftar bahan jauh lebih penting daripada sekadar menilai keamanan minuman berdasarkan warnanya.
Studi Ungkap Kaitannya dengan Penyakit Ginjal
Hubungan antara kebiasaan mengonsumsi minuman berpemanis dan kesehatan ginjal juga telah menjadi objek penelitian.
Studi yang diterbitkan dalam jurnal JAMA Network Open pada 2024 menganalisis data 127.830 orang dewasa dalam UK Biobank. Penelitian tersebut menemukan bahwa konsumsi lebih dari satu porsi minuman berpemanis dengan gula per hari berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit ginjal kronis selama periode pengamatan.
Temuan tersebut menunjukkan adanya hubungan antara pola konsumsi minuman berpemanis dan risiko penyakit ginjal. Namun, hasil penelitian tidak berarti minuman manis merupakan satu-satunya penyebab langsung penyakit ginjal pada setiap orang.
Ada berbagai faktor lain yang perlu diperhitungkan, seperti riwayat diabetes, tekanan darah tinggi, obesitas, pola makan, penggunaan obat-obatan tertentu, hingga kondisi kesehatan yang mendasari.
Dengan demikian, mengurangi konsumsi minuman berpemanis merupakan salah satu langkah untuk menjaga kesehatan secara keseluruhan, tetapi bukan satu-satunya cara untuk mencegah penyakit ginjal.
Baca Juga: Silent Killer, 9 dari 10 Penderita Penyakit Ginjal Kronis Tak Merasakan Gejala
Gagal Ginjal pada Usia Muda Tak Selalu karena Minuman Manis
Penyakit ginjal memang lebih sering dikaitkan dengan kelompok usia lanjut. Namun, gangguan ginjal juga dapat terjadi pada orang yang lebih muda.
Penyebabnya beragam, mulai dari kelainan bawaan, penyakit autoimun, infeksi tertentu, diabetes, hipertensi, hingga faktor lain yang dapat menyebabkan kerusakan ginjal.
Salah satu tantangan dalam mengenali penyakit ginjal kronis adalah gejalanya yang sering kali tidak terlihat pada tahap awal. Seseorang bahkan dapat merasa sehat dan tetap beraktivitas seperti biasa ketika fungsi ginjal mulai mengalami penurunan.
Ketika kondisi berkembang, sejumlah gejala dapat muncul, seperti pembengkakan pada kaki atau area sekitar mata, perubahan frekuensi buang air kecil, urine berbusa, mudah lelah, mual, hingga penurunan nafsu makan.
Namun, gejala-gejala tersebut tidak selalu menandakan penyakit ginjal karena dapat pula berkaitan dengan kondisi kesehatan lainnya.
Karena itu, kasus gagal ginjal pada usia muda tidak bisa langsung dikaitkan dengan kebiasaan minum minuman manis atau berwarna. Pemeriksaan medis tetap diperlukan untuk mengetahui penyebab dan kondisi fungsi ginjal seseorang.
Pemeriksaan dapat mencakup tes darah untuk menilai fungsi ginjal, pemeriksaan urine, serta pemeriksaan lanjutan sesuai rekomendasi dokter.
Cara Sederhana Menjaga Kesehatan Ginjal
Menjaga kesehatan ginjal dapat dimulai dari kebiasaan sehari-hari. Salah satu langkah sederhana yang bisa dilakukan adalah mengurangi konsumsi minuman berpemanis dan menjadikan air putih sebagai pilihan utama untuk memenuhi kebutuhan cairan.
Kemenkes merekomendasikan batas konsumsi gula maksimal 50 gram atau sekitar empat sendok makan per orang per hari. Batas tersebut mencakup gula yang berasal dari berbagai makanan dan minuman, bukan hanya gula yang ditambahkan ke dalam minuman.
Selain membatasi gula, beberapa kebiasaan berikut juga dapat membantu menjaga kesehatan ginjal:
1. Kurangi Minuman Berpemanis
Batasi frekuensi mengonsumsi teh manis kemasan, minuman bersoda, kopi dengan tambahan gula, serta minuman kekinian yang tinggi gula.
2. Rajin Membaca Label Gizi
Sebelum membeli minuman kemasan, periksa kandungan gula, natrium, dan bahan tambahan lainnya. Langkah sederhana ini dapat membantu mengontrol asupan harian.
3. Jaga Tekanan Darah dan Gula Darah
Pemeriksaan kesehatan secara berkala penting dilakukan untuk mengetahui faktor risiko penyakit kronis sejak dini, termasuk tekanan darah tinggi dan diabetes.
Baca Juga: Susu Cokelat Cuma Minuman Manis atau Punya Manfaat Kesehatan?
4. Terapkan Pola Makan Seimbang
Konsumsi makanan bergizi dengan jumlah garam yang wajar dan pertahankan berat badan dalam rentang yang sehat.
5. Jangan Sembarangan Mengonsumsi Obat
Obat tertentu, terutama jika digunakan berlebihan atau tanpa pengawasan yang tepat, dapat meningkatkan risiko kerusakan ginjal. Gunakan obat sesuai petunjuk tenaga kesehatan.
Kebutuhan cairan setiap orang juga berbeda-beda, tergantung aktivitas, kondisi kesehatan, dan lingkungan. Bagi orang yang sudah memiliki penyakit ginjal tertentu, jumlah cairan yang dianjurkan sebaiknya mengikuti petunjuk dokter atau tenaga medis.