Selama paruh pertama tahun 2026, sektor riil Tanah Air mengalami tekanan dari berbagai sisi. Dalam CORE Midyear Economic Review 2026 yang digelar di Jakarta (29/7/2026), Akhmad Akbar Susamto selaku Direktur Riset Bidang Makroekonomi, Kebijakan Fiskal, dan Moneter di lembaga CORE Indonesia, menjelaskan berbagai tekanan yang dialami sektor riil selama semester I tahun ini.
Salah satu faktor utamanya, menurut Akbar, adalah kenaikan suku bunga yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI). Dari angka 4,75 di awal tahun, kini suku bunga acuan BI berada di angka 5,75. Dengan naiknya suku bunga tersebut, suku bunga pinjaman perbankan juga akan naik sehingga berdampak bagi kondisi ekonomi secara keseluruhan.
Baca Juga: Teka-teki Siapa Gubernur BI, Ekonom: Pelaku Pasar Soroti Stabilitas Kebijakan
“Misalnya tingkat suku bunga kredit itu naik, tingkat suku bunga konsumsi maupun tingkat suku bunga kredit investasi juga naik sehingga bisa mengganggu pertumbuhan kredit. Bagi BI, ini memang seperti makan buah simalakama: kenaikan tingkat suku bunga dilakukan demi menjaga nilai tukar rupiah. Namun, di sisi lain, kenaikan suku bunga akan mengganggu sektor rill,” jelasnya.
Terganggunya sektor rill lantas akan berpengaruh pada sektor ketenagakerjaan. kebijakan PHK yang dilakukan sejumlah perusahaan di Indonesia menjadi penanda tertekannya sektor usaha dalam negeri, selain akibat perkembangan teknologi yang menyebabkan efisiensi.
Di sisi lain, kinerja ekspor dan impor Indonesia juga tertekan selama paruh pertama 2026. Pada bulan Mei, pertama kalinya neraca perdagangan mengalami defisit sejak tahun 2020. Pasalnya, ekspor Indonesia tercatat menurun, sedangkan impor mengalami kenaikan yang salah satunya disebabkan kenaikan harga komoditas global sehingga menaikkan nilai impor.
“Dengan perkembangan yang terjadi, kami memproyeksi pertumbuhan ekonomi di kuartal 2 sebesar 4,8 sampai 4,9 persen. Sementara itu, dari Januari sampai Desember 2026, kami tidak mengubah proyeksi kami dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 akan mencapai antara 4,9 sampai 5,1 persen,” pungkasnya.