Di Asia Tenggara (ASEAN), tercatat 58 transaksi sektor jasa keuangan yang diumumkan secara publik sepanjang 2025, meningkat dari 48 transaksi pada 2024. Namun, nilai total transaksi di kawasan ini menurun, dari US$4,2 miliar pada 2024 menjadi US$2,1 miliar pada 2025, berdasarkan analisis terbaru EY mengenai M&A jasa keuangan.

Sementara secara global, total nilai transaksi merger dan akuisisi (M&A) yang diumumkan atau diselesaikan pada tahun 2025 meningkat sebesar 49% secara tahunan (yoy), didorong oleh kenaikan signifikan jumlah transaksi bernilai di atas US$1 miliar. Sepanjang 2025, bank, perusahaan asuransi, dan manajer aset di pasar jasa keuangan utama dunia mengumumkan 2.236 transaksi, naik tipis dari 2.219 transaksi pada 2024. Total nilai transaksi global di jasa keuangan meningkat dari US$282,1 miliar pada 2024 menjadi US$418,9 miliar pada 2025.

Baca Juga: Tips Finansial untuk Perintis dan Pewaris, Begini Strategi yang Tepat Menurut Financial Planner

Pada tahun 2025, sebanyak 93 transaksi bernilai di atas US$1 miliar dan menyumbang 81% dari total nilai transaksi, dibandingkan dengan 54 transaksi bernilai di atas US$1 miliar pada 2024. Sekitar 10% dari seluruh transaksi jasa keuangan pada 2025 didorong oleh perusahaan ekuitas privat atau modal ventura, sementara sisanya merupakan transaksi antar institusi korporasi.

“Kondisi pasar masih menjadi tantangan bagi aktivitas transaksi di sektor jasa keuangan global sepanjang 2025. Meski begitu, situasi tersebut tidak menghambat minat investor. Jumlah transaksi hanya naik tipis dibandingkan tahun sebelumnya dengan nilai total transaksi melonjak hingga 49%. Transaksi bernilai di atas US$1 miliar meningkat lebih dari 70%, sementara seluruh wilayah dunia mencatatkan pertumbuhan nilai transaksi," ujar Omar Ali, EY Global Financial Services Leader, 

Di Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus melanjutkan strategi untuk menciptakan struktur pasar yang lebih efisien dengan jumlah pelaku yang lebih sedikit, tetapi berdaya tahan finansial lebih kuat. Pendekatan ini mendorong terbentuknya lingkungan investasi yang lebih selektif, di mana investor memprioritaskan peluang-peluang terarah pada pelaku usaha yang lebih keci dan terspesialisi, serta semakin berfokus pada sektor pertumbuhan berbasis digital seperti perbankan digital, system pembayaran, dan teknologi finansial.

Reuben Tirtawidjaja, EY-Parthenon Indonesia Strategy and Transactions Partner, menyatakan, “Investor kini semakin selektif, dengan lebih sering memilih pelaku usaha yang lebih kecil dan terspesialisasi dibandingkan transaksi berskala besar yang bersifat menyeluruh, terutama saat mengevaluasi peluang investasi ekuitas. Dari perspektif regulator, pendekatan ini diperkirakan akan mempercepat konsolidasi industri."

Reuben, menambahkan, "Pertumbuhan sektor jasa keuangan Indonesia masih sangat bertumpu pada perbankan digital, sistem pembayaran, dan inovasi teknologi finansial—segmen yang mencerminkan pesatnya perkembangan ekonomi digital nasional serta minat investor untuk memperoleh kapabilitas digital baru, bukan semata-mata melalui akuisisi tradisional yang berbasis neraca keuangan.”

Aktivitas M&A per Sektor di Pasar Keuangan Asia dan Oceania

  • Transaksi sektor perbankan di Asia dan Oceania menurun dari 190 transaksi pada 2024 menjadi 185 transaksi pada 2025. Meski demikian, nilai transaksi meningkat, dari US$31,8 milia pada 2024 menjadi US$45,1 miliar pada 2025.
  • Transaksi sektor asuransi di Asia dan Oceania meningkat dari 69 transaksi pada 2024 menjadi 87 transaksi pada 2025 dengan nilai transaksi naik dari US$6,3 miliar menjadi US$11,1 miliar.
  • Transaksi sektor pengelolaan kekayaan dan aset di Asia dan Oceania turun dari 98 transaksi pada 2024 menjadi 88 transaksi pada 2025. Namun, nilai transaksi melonjak signifikan dari US$2,3 miliar pada 2024 menjadi US$9,3 miliar pada 2025.

Jumlah perusahaan non–Asia dan Oceania yang mengakuisisi target di Asia dan Oceania menurun tipis, dari 56 transaksi pada 2024 menjadi 54 transaksi pada 2025. Namun, nilai total transaksi yang diungkapkan meningkat signifikan, dari US$4,3 miliar pada 2024 menjadi US$10,2 miliar pada 2025. Sementara itu, jumlah perusahaan Asia dan Oceania yang mengakuisisi target di luar kawasan meningkat dari 29 transaksi pada 2024 menjadi 30 transaksi pada 2025. Nilai total transaksinya juga mengalami kenaikan, dari US$14,8 miliar pada 2024 menjadi US$19,4 miliar pada 2025.

Di kawasan Asia Tenggara:

  • Transaksi sektor perbankan meningkat dari 32 transaksi pada 2024 menjadi 35 transaksi pada 2025. Namun, nilai total transaksi yang diungkapkan menurun, dari 2,3 miliar USD pada 2024 menjadi 1,2 miliar USD pada 2025.
  • Transaksi sektor asuransi turun dari 12 transaksi pada 2024 menjadi 11 transaksi pada 2025, seiring penurunan nilai transaksi dari 1,6 miliar USD menjadi 0,8 miliar USD.
  • Transaksi sektor pengelolaan kekayaan dan aset meningkat signifikan dari 4 transaksi pada 2024 menjadi 12 transaksi pada 2025. Meski demikian, nilai total transaksi turun, dari 0,3 miliar USD pada 2024 menjadi 28 juta USD pada 2025.

Jumlah perusahaan non–Asia Tenggara yang mengakuisisi target di kawasan Asia Tenggara menurun cukup signifikan, dari 31 transaksi pada 2024 menjadi 24 transaksi pada 2025, dengan nilai total transaksi yang diungkapkan juga turun tajam dari 4,2 miliar USD pada 2024 menjadi 0,7 miliar USD pada 2025. Di sisi lain, jumlah perusahaan Asia Tenggara yang mengakuisisi target di luar negeri juga mengalami penurunan, dari 16 transaksi pada 2024 menjadi 10 transaksi pada 2025, dengan nilai total transaksinya merosot dari 1,1 miliar USD pada 2024 menjadi 0,1 miliar USD pada 2025.