Indonesia punya peluang besar untuk memperluas pasar produk kelapa olahan ke pasar global. Salah satu peluang tersebut datang dari Turkiye, yang tercatat sebagai salah satu importir kelapa parut kering terbesar dunia.
Berdasarkan Outlook Komoditas Kelapa 2025 Kementerian Pertanian, Indonesia menempati posisi kedua sebagai eksportir kelapa kering (desiccated coconut) terbesar dunia sepanjang 2019–2023 dengan pangsa 24,90%.
Bahkan pada 2023, volume ekspor kelapa kering Indonesia berhasil melampaui Filipina, yang sebelumnya menjadi eksportir terbesar selama enam tahun berturut-turut.
Di sisi lain, Turkiye memiliki kebutuhan impor kelapa parut kering yang cukup besar, dengan rata-rata mencapai 17 ribu ton per tahun. Kondisi tersebut membuka peluang bagi produk kelapa olahan Indonesia untuk masuk lebih jauh ke pasar Turkiye.
Peluang ini kemudian dimanfaatkan PT Sasa Inti (Sasa) melalui kerja sama perdagangan dengan Zafer Global Gida San. Dış Tic. Ltd. Şti., perusahaan perdagangan internasional asal Turkiye.
Kedua perusahaan menandatangani Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) dalam ajang Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 di ICE BSD City, Tangerang Selatan. Penandatanganan tersebut turut disaksikan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Budi Santoso.
Dalam kesepakatan tersebut, Sasa dan Zafer Global Gida menyepakati komitmen bisnis senilai US$1 juta untuk suplai produk kelapa parut kering rendah lemak atau Low-Fat Desiccated Coconut (LFDC). Pelaksanaan kerja sama tersebut direncanakan mulai 2027.
Baca Juga: PT Sasa Inti Perkuat Komitmen Pembangunan Fasilitas Edukasi Berkelanjutan
Agus Nugraha, Marketing Director PT Sasa Inti, mengatakan kerja sama tersebut menjadi bentuk kepercayaan terhadap kapabilitas Sasa dalam mengolah produk pangan sekaligus memperluas pasar internasional.
“Kerja sama dengan Zafer Global Gida mencerminkan kepercayaan terhadap kapabilitas Sasa, yang telah membangun posisi kuat di pasar domestik melalui Sasa Santan kemasan 65 ml berkualitas dan kini terus memperluas jangkauan ke pasar internasional melalui ekspor Low-Fat Desiccated Coconut yang kami suplai menggunakan kelapa pilihan dari Minahasa Selatan, Sulawesi Utara,” ujar Agus.
Menurutnya, kerja sama tersebut juga menjadi upaya memanfaatkan potensi kelapa lokal Indonesia untuk menghasilkan produk bernilai tambah.
“Hal ini merupakan wujud pemanfaatan potensi kelapa lokal Indonesia untuk menghasilkan produk berkualitas. Ke depan, kami berharap kemitraan ini dapat membuka peluang lebih luas di pasar internasional sekaligus memberikan nilai tambah bagi masyarakat dan industri kelapa Indonesia,” lanjutnya.
Dari pihak Zafer Global Gida, Sales and Purchasing Director Veysel Cüneyt Özlen menyebut kerja sama dengan Sasa sebagai awal dari kemitraan jangka panjang antara kedua perusahaan.
“Kami melihat Sasa sebagai mitra tepercaya yang memiliki keahlian yang kuat di industri makanan. Kemitraan ini menjadi awal yang baik untuk memperkuat hubungan perdagangan antara Turkiye dan Indonesia. Kami optimistis bahwa pelaksanaan kerja sama yang dimulai pada 2027 mendatang dapat memberikan hasil positif bagi kedua perusahaan,” kata Veysel.
Baca Juga: Sasa Raih PMR Award dari BPOM
Sasa sendiri telah memiliki pengalaman lebih dari lima dekade di industri makanan Indonesia. Produk perusahaan tersebut telah diekspor ke berbagai kawasan, mulai dari Asia Tenggara, Timur Tengah, Asia Timur, Australia, Afrika, hingga Amerika Serikat.
Masuknya mitra asal Turkiye menambah daftar pasar internasional yang dijangkau Sasa sekaligus memperkuat posisi perusahaan dalam perdagangan produk pangan olahan.
Ekspansi tersebut turut ditopang penerapan berbagai standar mutu dan keamanan pangan internasional, antara lain FSSC 22000 V6, ISO 22000, ISO 9001, HACCP, serta sertifikasi Halal BPJPH.
Dengan standar tersebut, Sasa optimistis dapat memenuhi persyaratan kualitas yang dibutuhkan pasar Turkiye.
Melalui kerja sama senilai US$1 juta ini, Sasa berharap produk kelapa olahan Indonesia semakin kompetitif di pasar dunia. Kemitraan tersebut juga menjadi langkah untuk meningkatkan nilai tambah komoditas kelapa lokal melalui pengolahan produk yang memenuhi standar internasional.