Bank Indonesia mendorong pengembangan pariwisata ramah muslim (PRM) menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia. Selain memperluas peluang usaha dan menciptakan lapangan kerja, sektor pariwisata ramah muslim ini juga dinilai dapat memperkuat rantai nilai halal sekaligus meningkatkan daya saing destinasi wisata nasional di pasar global.
Potensi tersebut sejalan dengan pencapaian Indonesia dalam Global Muslim Travel Index (GMTI) 2026 yang menempatkan Tanah Air di peringkat kedua dunia, naik dari posisi kelima pada tahun 2025. Sementara itu, berdasarkan laporan State of the Global Islamic Economy (SGIE) 2025/2026, Indonesia berada di posisi keenam dunia dalam sektor pariwisata ramah Muslim.
Baca Juga: BI Luncurkan Tiga Program Unggulan di ISEF 2026 untuk Perkuat Ekosistem Ekonomi Syariah Indonesia
Deputi Gubernur Bank Indonesia, Ricky P. Gozali, mengungkapkan bahwa capaian tersebut menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas destinasi dan layanan wisata, memperluas jangkauan pasar wisatawan muslim, serta mengoptimalkan kontribusi pariwisata terhadap perekonomian nasional.
Ricky mengatakan, pengembangan pariwisata ramah Muslim merupakan langkah penting untuk memperkuat peran ekonomi syariah dalam mendukung kemandirian bangsa. Untuk itu, Bank Indonesia mendorong tiga inisiatif strategis guna memperkuat ekosistem PRM di Indonesia.
Pertama, pemanfaatan Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) untuk memetakan kesiapan dan potensi daerah sebagai dasar perumusan kebijakan. Kedua, penyusunan Peta Jalan PRM Nasional sebagai pedoman pengembangan sektor yang lebih terarah dan terintegrasi. Ketiga, pelatihan bagi pengelola desa wisata guna meningkatkan kualitas produk, layanan, dan daya saing destinasi.
Penguatan ekosistem tersebut juga didukung melalui digitalisasi. Pada September 2026, Bank Indonesia bersama Kementerian Pariwisata dan mitra terkait mengembangkan inisiatif Indonesia Travel Pack yang mengintegrasikan akses informasi destinasi, konektivitas digital, dan layanan pembayaran.
Inisiatif ini turut melengkapi pengembangan QRIS Antarnegara untuk memberikan kemudahan transaksi bagi wisatawan sekaligus memperluas peluang usaha bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal.
"Indonesia memiliki semua modal untuk menjadi salah satu pusat pariwisata ramah muslim dunia," pungkas Ricky dalam Indonesia Muslim Friendly Travel Summit yang menjadi bagian dari Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, Jumat (16/10/2026).
Baca Juga: ISEF 2026 Pertegas Posisi Indonesia sebagai Raja Modest Fashion Dunia Lewat IN2MOTIONFEST 2026
Ricky menambahkan, Bank Indonesia (BI) akan terus memperkuat kolaborasi dengan para pemangku kepentingan serta meningkatkan kapasitas daerah agar pengembangan PRM mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat. Upaya tersebut sekaligus diharapkan mendukung pertumbuhan ekonomi dan keuangan syariah nasional.
Digitalisasi Jadi Kunci Menjangkau Wisatawan Muslim Global
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana, menekankan pentingnya transformasi digital untuk memperkuat daya saing destinasi Indonesia di tengah besarnya potensi pasar wisatawan Muslim global.
Pasar tersebut diproyeksikan mencapai 260 juta perjalanan dengan total pengeluaran tahunan sekitar US$310 miliar. Peluang ini dinilai perlu dioptimalkan melalui penguatan promosi, penyediaan informasi yang mudah diakses, serta peningkatan kualitas layanan wisata.
Untuk mendukung upaya tersebut, Kementerian Pariwisata memperkuat promosi digital melalui Portal Visit Indonesia. Platform ini menyediakan informasi mengenai destinasi ramah Muslim di 38 provinsi, mulai dari atraksi wisata, aksesibilitas, fasilitas pendukung, hingga paket perjalanan.
Kementerian Pariwisata juga memanfaatkan teknologi kecerdasan artifisial (AI) melalui MaiA (Meticulous Artificial Intelligence of Indonesia). Teknologi ini membantu wisatawan menemukan destinasi dan merencanakan perjalanan secara lebih personal sesuai kebutuhan mereka.
“Kami tidak hanya ingin mengatakan kepada wisatawan, inilah indahnya Indonesia, tetapi juga memberi tahu mereka cara menikmati dan menjelajahinya,” ungkap Widiyanti.
Melalui penguatan informasi dan layanan digital, pemerintah berharap destinasi Indonesia semakin mudah ditemukan oleh wisatawan Muslim mancanegara. Kemudahan tersebut juga diharapkan dapat menyederhanakan perencanaan perjalanan dan mendorong peningkatan kunjungan wisatawan.
Besarnya peluang pasar internasional semakin memperkuat posisi pariwisata ramah Muslim sebagai salah satu sektor potensial untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Secara global, industri PRM diproyeksikan meningkat dari US$249 miliar pada 2024 menjadi US$424 miliar pada 2029, dengan rata-rata pertumbuhan tahunan sebesar 11,2%.
Di tingkat nasional, pengembangan PRM telah masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029 sebagai salah satu Program Prioritas Ekonomi Syariah. Pemerintah menargetkan pertumbuhan sektor ini meningkat dari 10,28% pada 2025 menjadi 13,08% pada 2029.
Pengembangan PRM juga sejalan dengan Asta Cita 2, khususnya dalam memperkuat ekonomi syariah sebagai salah satu pilar kemandirian bangsa. Hal ini mencakup penguatan ekosistem industri halal dan pariwisata nasional agar mampu menciptakan nilai tambah bagi perekonomian.
Dengan dukungan kebijakan, peningkatan kualitas layanan, dan pemanfaatan teknologi digital, Indonesia berpeluang mengoptimalkan kekayaan alam serta keragaman budaya sebagai daya tarik bagi wisatawan Muslim dari berbagai negara.