Selain ekonomi hijau, Sandiaga melihat wellness economy sebagai sektor yang semakin menjanjikan. Ia menekankan bahwa wellness memiliki cakupan lebih luas dibandingkan sekadar kesehatan fisik.
“Pilar kedua, wellness economy. Jadi bukan hanya health ya, tapi wellness secara keseluruhan,” kata Sandiaga.
Menurutnya, pandemi Covid-19 turut mengubah perhatian masyarakat terhadap kesehatan dan kesejahteraan diri. Masyarakat kini dinilai semakin memperhatikan kondisi fisik maupun mental secara lebih menyeluruh.
“Gara-gara Covid, orang sekarang perhatiin kesehatan dan wellbeing-nya itu super detail. Fisik dan mental, kita punya banyak banget yang berkaitan dengan herbal. Karena jamu itu dianggap sebagai peningkatan daripada kebugaran kita,” ujarnya.
Indonesia, kata Sandiaga, memiliki modal besar untuk mengembangkan sektor wellness melalui kekayaan budaya dan sumber daya lokal, termasuk tradisi jamu dan pemanfaatan bahan herbal. Tren tersebut dapat menjadi peluang bagi pelaku usaha untuk mengembangkan produk dan layanan yang berkaitan dengan kesehatan serta kesejahteraan secara holistik.
Sementara itu, pilar ketiga yang menjadi perhatiannya adalah digital economy. Sandiaga melihat proses digitalisasi terus berkembang di berbagai sektor bisnis, terutama dengan semakin luasnya pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
“Ketiga adalah digital economy. Semua sudah terdigitalisasi, apalagi dengan AI, efisiensi daripada bisnis,” kata Sandiaga.
Menurutnya, AI tidak hanya menjadi teknologi baru, tetapi juga dapat menjadi instrumen bagi perusahaan untuk meningkatkan efisiensi dan menekan biaya produksi.
Sejumlah perusahaan besar hingga pelaku usaha menengah mulai memanfaatkan teknologi tersebut dalam operasional bisnis mereka.
“Usaha-usaha besar mungkin ada yang menengah di sini sudah menggunakan AI untuk menurunkan biaya produksi. Itulah yang menjadi peluang bagi kita,” pungkasnya.
Baca Juga: Mau Liburan? Ini 5 Destinasi yang Bikin Susah Pulang ala Sandiaga Uno