Di tengah maraknya tren skincare modern dengan serum berlapis, retinol, hingga produk pencerah berharga jutaan rupiah, banyak orang mulai melupakan bahwa rahasia perawatan kulit sejatinya telah diwariskan sejak lama melalui kebijaksanaan lintas generasi.

Bagi Ibu Wayan Suryani, perempuan Bali berusia 64 tahun yang sehari-hari membuat canang sari sejak usia 17 tahun, merawat tubuh tidak pernah menjadi sesuatu yang rumit.

Hingga kini, ia tetap setia menggunakan campuran sederhana berupa beras, kunyit, dan minyak kelapa untuk menjaga kesehatan kulitnya.

Resep tradisional yang diwariskan turun-temurun dari leluhurnya itu terbukti mampu menjaga kulitnya tetap halus dan bercahaya meski usia terus bertambah.

Di Bali, tradisi merawat tubuh memang bukan sekadar urusan penampilan. Perawatan tubuh menyatu dengan nilai spiritual dan keseharian masyarakatnya.

Salah satu ritual yang masih dijalankan hingga kini adalah melukat, prosesi pembersihan diri menggunakan air, bunga, dan rempah-rempah yang dipercaya membawa ketenangan lahir dan batin.

Menjelang upacara adat besar, para perempuan Bali juga kerap menjalani ritual lulur tradisional berbahan dasar beras, kunyit segar, cendana, dan bunga kamboja.

Bagi mereka, ritual ini bukan sekadar 'perawatan kecantikan' dalam pengertian modern, melainkan cara menjaga hubungan dengan tubuh dan diri sendiri.

Menariknya, praktik tradisional tersebut ternyata memiliki keterkaitan dengan prinsip-prinsip yang kini diakui dalam dermatologi modern.

Beras yang digiling kasar bekerja sebagai eksfolian alami yang membantu mengangkat sel kulit mati tanpa merusak lapisan pelindung kulit (skin barrier). Sementara itu, kunyit dikenal mengandung kurkumin, senyawa yang dalam berbagai studi menunjukkan sifat antiinflamasi yang signifikan.

Cendana juga telah lama tercatat dalam literatur fitofarmaka karena sifat antiseptik ringannya. Adapun bunga kamboja atau frangipani diketahui mengandung senyawa antioksidan dari kelompok flavonoid, meski penelitian klinis terhadap manusia masih terus berkembang.

Tentu saja, bahan-bahan alami tersebut tidak dapat langsung dianggap sebagai solusi ajaib untuk semua masalah kulit.

Namun, sebagai sebuah ekosistem perawatan yang digunakan secara konsisten, kombinasi bahan-bahan tersebut membentuk ritual yang logis, lembut di kulit, dan telah bertahan melewati ujian waktu jauh sebelum industri skincare modern berkembang seperti sekarang.

Ironisnya, masyarakat urban yang memiliki akses ke berbagai produk perawatan kulit kelas dunia justru sering menghadapi masalah kulit kusam, kasar, dan dehidrasi.

Polusi udara, penggunaan pendingin ruangan sepanjang hari, hingga kualitas air di perkotaan menjadi faktor yang perlahan memengaruhi kesehatan kulit.

Partikel polusi dapat menumpuk di permukaan kulit dan membuat kulit kurang responsif terhadap produk perawatan yang digunakan. Di sisi lain, penggunaan AC secara terus-menerus menurunkan kelembapan udara dan mempercepat hilangnya kadar air alami kulit.

Baca Juga: 5 Rekomendasi Spa High-End di Jakarta untuk Relaksasi dan Perawatan Wanita