iCIO Community merilis hasil riset bertajuk “Balancing Innovation and Control: Inside the Boardroom of Digital Decision-Making” yang menggambarkan bagaimana keputusan strategis terkait investasi digital diambil di level direksi perusahaan Indonesia. Riset ini melibatkan IT Leaders dan CEO dari 12 industri, termasuk Financial Services, Banking, Manufacturing, hingga Healthcare.
Hasil riset menunjukkan bahwa 41% keputusan investasi dan anggaran IT masih dipimpin oleh CIO atau Technology Leaders, tetapi keterlibatan CEO dan Board semakin meningkat. Dari perspektif CEO, 56% menyatakan bahwa digital sudah sepenuhnya terintegrasi dalam strategi bisnis. Sementara itu, 33% masih melihat digital sebagai fungsi pendukung dengan tingkat penyelarasan yang belum optimal, sedangkan 11% lainnya menilai bahwa alignment sudah terbentuk, tetapi masih menyisakan gap dalam implementasi. Temuan ini menegaskan bahwa meskipun agenda digital telah berada di level direksi, penguatan keselarasan lintas kepemimpinan masih menjadi pekerjaan bersama agar strategi digital dapat dijalankan secara lebih efektif dan berkelanjutan.
Baca Juga: Survei PwC: Sektor Teknologi Jadi Incaran Investor dalam Tiga Tahun ke Depan
Menurut David Wirawan, Koordinator Divisi Riset dari iCIO Community, temuan ini mencerminkan fase transisi yang sedang dialami banyak organisasi. “Banyak perusahaan sudah menyadari bahwa keputusan digital adalah keputusan bisnis strategis. Namun, riset ini menunjukkan bahwa kesenjangan masih terjadi pada level penyelarasan bukan pada niat, melainkan pada bagaimana CIO, dan C-Level lainnya menyepakati prioritas, risiko, dan ukuran keberhasilan yang sama,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis (29/1/2026).
Dalam memandang belanja IT, 55% CEO mengategorikannya sebagai investasi strategis untuk mendorong pertumbuhan bisnis dan sebagian lainnya masih memperlakukannya sebagai biaya operasional yang harus dikontrol secara ketat. Di tengah dinamika tersebut, CIO dan Technology Leaders berada pada posisi yang menantang dituntut untuk terus menghadirkan inovasi, sekaligus mampu menunjukkan dampak bisnis yang terukur, terutama dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi dan meningkatnya tekanan efisiensi.
Dalam upaya menjaga pertumbuhan dan ketahanan bisnis, organisasi tetap melanjutkan investasi digital dengan pendekatan yang lebih selektif. Sebanyak 63% organisasi menyatakan anggaran digital tumbuh secara terfokus dengan prioritas pada AI, cloud, dan cybersecurity. Teknologi seperti AI/GenAI, platform digital customer experience, real-time data analytics, dan cloud-native architecture dinilai sebagai investasi yang paling menjanjikan hingga 2026.
Edwin Sugianto, Koordinator Divisi Riset iCIO Community bersama dengan David Wirawan, menilai bahwa pola ini menunjukkan perubahan cara pandang terhadap inovasi. “Inovasi tetap berjalan, tetapi tidak lagi bersifat eksperimental. Perusahaan kini lebih disiplin, memastikan setiap investasi teknologi benar-benar terhubung dengan kebutuhan bisnis, baik untuk efisiensi, pertumbuhan, maupun ketahanan jangka panjang,” jelasnya.
Meski demikian, pengukuran keberhasilan transformasi digital masih didominasi oleh pendekatan finansial. Sebanyak 53% organisasi masih mengandalkan ROI sebagai indikator utama, sementara 33% mulai mengombinasikannya dengan Return on Value (RoV) seperti pengalaman pelanggan dan kesiapan organisasi. Adapun sisanya telah beralih untuk memprioritaskan RoV sebagai ukuran utama dalam menilai dampak transformasi digital. Perbedaan perspektif antarpimpinan dan tekanan hasil jangka pendek menjadi hambatan utama dalam memperluas pendekatan pengukuran nilai ini.
Melihat tahun 2026, mayoritas organisasi menilai diri mereka cukup adaptif, tetapi masih bersifat reaktif terhadap perubahan ekonomi, regulasi, dan persaingan. Riset ini menyimpulkan bahwa kesenjangan utama perusahaan Indonesia saat ini bukan terletak pada kemauan bertransformasi, melainkan pada kemampuan menyelaraskan strategi bisnis dan teknologi secara konsisten di level direksi. Untuk melangkah dari sekadar bertahan menuju memenangkan disrupsi, organisasi perlu membangun kepemimpinan kolektif, akuntabilitas bersama, dan kejelasan nilai dalam setiap keputusan digital yang diambil.