Rhenald juga menyinggung Hong Kong, ketika sejumlah rekening aktivis diblokir. Menurutnya, kebijakan tersebut dapat mendorong masyarakat memindahkan uangnya ke negara lain.
“Akibatnya uang nasabah pindah ke luar negeri. Pindah ke Inggris, ke Singapura, dan lain negara. Apa yang terjadi? Hari ini sendiri Hong Kong itu belum pulih kembali seperti dulu,” ujarnya.
Rhenald kemudian mengaitkan fenomena tersebut dengan apa yang dikenal sebagai Streisand Effect, yakni kondisi ketika upaya untuk membatasi, menghapus, atau menutupi suatu informasi justru membuat perhatian publik terhadap hal tersebut semakin besar.
Lebih jauh, Rhenald menjelaskan istilah tersebut berasal dari kasus penyanyi dan aktris Barbra Streisand. Saat itu, Streisand berupaya meminta sebuah foto udara yang memperlihatkan rumahnya di California dihapus. Namun, tindakan tersebut justru membuat foto dan persoalan tersebut semakin banyak diketahui publik.
“Pemblokiran itu menimbulkan efek kemarahan yang sangat besar pada Barbra Streisand,” tutur Rhenald.
Menurutnya, pola serupa dapat terjadi dalam konteks pemblokiran rekening. Ketika sebuah keputusan hanya dilihat dari aspek legalitas tanpa mempertimbangkan dampak sosial dan persepsi publik, perhatian masyarakat justru dapat semakin besar.
“Hari ini rekening bank diblokir. Efeknya ternyata panjang. Kalau bank tidak mempunyai the second line of defense yang memadai, mereka tidak bertanya lagi apakah peraturannya tepat, apakah ketentuannya sah, kewenangannya sah, apakah sasarannya tepat, apakah tidak menimbulkan efek lain-lain yang juga berbahaya,” jelasnya.
Rhenald menegaskan, tantangan terbesar bukan semata-mata soal satu rekening yang diblokir, melainkan potensi hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap institusi.
“Jangan-jangan kalau kita tidak jalankan dengan baik, yang kehilangan itu adalah bukan satu rekening, tetapi trust. Ini peringatan besar bagi kita,” katanya.
Ia pun menilai, kasus tersebut juga menunjukkan bagaimana sebuah tindakan yang awalnya mungkin hanya menyasar satu pihak dapat berkembang menjadi perhatian publik yang lebih luas.
“Saya tidak memperhatikan demopati, tapi hari ini semua orang jadi menaruh matanya ke pati. Hanya karena rekening satu saja yang diblokir. Dan kita merasa itu sah secara undang-undang,” pungkas Rhenald.
Baca Juga: Rhenald Kasali: Anak Harus Dilatih Tantangan, Bukan Dimanjakan