Sebelum pintu Terminal 3 dibuka pagi ini, para calon penumpang di area Keberangkatan Internasional Bandara Soekarno-Hatta disambut oleh pemandangan yang mencuri perhatian. Sebuah figur berlapis krom setinggi delapan meter dengan bobot tujuh ton kini berdiri gagah di sana.
Figur tersebut adalah Butter Baby, sebuah Global IP (Intellectual Property) berbasis karakter yang lahir di Jakarta dan baru saja meresmikan lokasi kelimanya. Pembukaan gerai di bandara ini bukan sekadar ekspansi bisnis biasa, melainkan sebuah simbol keberangkatan kreativitas anak bangsa untuk bersiap menaklukkan panggung dunia.
Karakter Lokal yang Sukses Memikat Jackson Wang hingga SEVENTEEN
Sejak pertama kali diperkenalkan pada 9 Agustus 2025 lalu, Butter Baby telah mencatatkan prestasi yang luar biasa dalam waktu kurang dari satu tahun. Karakter unik ini berhasil meraih nominasi Webby Award serta menyabet dua penghargaan di bidang inovasi brand.
Hebatnya lagi, kepopuleran Butter Baby melesat secara organik hingga menarik perhatian dan ditemukan langsung oleh deretan bintang global ternama, mulai dari Jackson Wang, Bright Vachirawit, Gulf Kanawut, North West, hingga grup idola K-Pop SEVENTEEN.
Misi Penyelamatan "Butterlandia" di Terminal 3
Di balik bentuk karakternya yang menggemaskan, Butter Baby memiliki latar cerita (lore) fiksi yang unik. Ia dikisahkan berasal dari sebuah semesta bernama Butterlandia, planet yang perlahan sekarat karena krisis mentega (butter). Dalam misi menyelamatkan planetnya, Butter Baby melakukan pendaratan darurat di Indonesia.
Baca Juga: Bukan Sekadar Dessert, Butter Baby Rilis Film Animasi Pendek 'The Story of Butterlandia'
Setiap pembukaan gerai baru merupakan langkah konkret Butter Baby untuk mengumpulkan 500 triliun ton butter. Oleh karena itu, Terminal 3 Soekarno-Hatta dipilih sebagai lokasi kelima karena menjadi titik keberangkatan yang sesungguhnya untuk membawa misi ini terbang lebih jauh ke kancah internasional.
99% Mahakarya Tangan-Tangan Kreatif Indonesia
Meskipun diproyeksikan menjadi karakter global, cetak biru dari kekayaan intelektual ini murni dibangun oleh talenta lokal. 99 persen tim di balik layar Butter Baby adalah orang Indonesia, mulai dari kreator, desainer, tim strategi, pembuat konten, hingga tim operasional harian.
"Jakarta membentuk cara kami memandang kreativitas, komunitas, dan cerita. Patung yang berdiri di area Keberangkatan ini adalah milik mereka, komunitas Indonesia yang membuat semua ini menjadi nyata," ungkap Nick Burch & Henry Burch, selaku Founders Butter Baby.
Hal senada juga disampaikan oleh Karen Tjahja, Head of Marketing & Business Development Butter Baby. Ia menegaskan bahwa patung raksasa tersebut sengaja didesain menghadap ke luar bandara karena dalam setiap langkahnya menuju pasar internasional, Butter Baby membawa DNA dan semangat asli Indonesia bersamanya.
Siap Mengekspansi Bangkok di Tahun 2027
Cita rasa, budaya, dan kreativitas Indonesia yang mendalam juga diakui oleh Shane Lewis, CEO Butter Baby yang telah berpengalaman memasak di dapur lima benua selama lebih dari dua dekade. Karakter ini dinilai sebagai refleksi sempurna dari kehangatan dan keunikan Indonesia yang membekas di hati dunia.
Langkah Butter Baby dipastikan tidak akan berhenti di Terminal 3 saja. Sebagai bagian dari rencana jangka panjang, global IP kebanggaan Jakarta ini tengah bersiap melakukan ekspansi internasional pertamanya ke Bangkok, Thailand, pada tahun 2027 mendatang.