Sejumlah tantangan produktivitas masih membayangi kelapa sawit sebagai komoditas penghasil devisa negara dari pungutan ekspor. Sejalan dengan bertambahnya konsumsi minyak sawit dalam negeri dan penerapan program B50 pada bulan Juni, kebutuhan minyak sawit terus meningkat.
Kebutuhan minyak sawit nasional diproyeksi bisa mencapai 41 juta ton pada tahun 2045 seiring dengan bertambahnya konsumsi minyak sawit dalam negeri. Agar kebutuhan dalam negeri terpenuhi tanpa mengurangi volume ekspor, Indonesia dirasa harus berbenah memaksimalkan produktivitas kelapa sawit yang potensi sebenarnya bisa mencapai 5-6 ton Crude Palm Oil (CPO) per hektar per tahun.
Menjawab tantangan tersebut, Media Perkebunan didukung oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Kalimantan Tengah (Kalteng) menyelenggarakan Teknis Kelapa Sawit (TKS), Pameran, dan Field Trip pada tanggal 28-30 April 2026 di Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Tengah, Kalteng.
Bupati Kota Waringin Barat (Kobar), Nurhidayah, hadir membuka acara dan memberikan semangat untuk para petani rakyat yang hadir dan mengaku antusias menghadiri acara TKS kedua di Pangkalan Bun.
"Kami dari pihak pemerintah dan petani sawit Kobar menyambut baik acara ini yang membawa banyak masukan apalagi ada pameran penggunaan produk dan banyak informasi yang ditunggu petani kelapa sawit yang menjadi primadona. Diskusi ini akan memberikan akses bicara khususnya untuk petani sawit yang ada di Kobar," ujarnya pada hari Selasa (28/04/2026) di Mercure Pangkalan Bun.
Baca Juga: BPDP Dukung Hilirisasi Sawit Lewat Partisipasi di Hai Sawit Simposium 2026
Bupati Nurhidayah menyampaikan bahwa kelapa sawit menjadi penopang ekonomi Kobar dengan hampir 60 persen masyarakat bergantung dengan kelapa sawit sehingga diperlukan suatu upaya untuk pengembangan ekonomi daerah.
"Ekonomi kita bergerak dari kelapa sawit. Jadi kalau belum ada kepastian akan berdampak pada daya beli masyarakat. Kami pada periode pertama telah memberikan bibit kelapa sawit dan setiap tahun dianggarkan 25.000 bibit untuk kelompok tani maupun perorangan," jelasnya.
Dalam sambutannya, ia juga mempertegas mengenai pengarusutamaan gender (PUG), perlindungan pekerja perempuan, pencegahan pekerja anak, dan upah buruh perkebunan yang layak.
Hadapi banyak tantangan, Siswanto selaku Wakil Ketua GAPKI Kalteng dalam sambutannya menyampaikan bahwa saat ini petani sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Ia menilai, tantangan globalisasi dan teknologi merupakan tantangan yang perlu diselaraskan dalam meningkatkan produktivitas di industri kelapa sawit.
"Kami berterima kasih kepada Media Perkebunan bisa mengadakan kali kedua acara ini semoga bisa mendapatkan manfaat dan masukan yang sangat berharga sebagai acuan untuk meningkatkan produktivitas kelapa sawit baik di perusahaan maupun khususnya petani rakyat," ujar Siswanto.
Peremajaan perkebunan kelapa sawit rakyat (PSR) sangat mendukung ketahanan pangan dan energi nasional dalam upaya menjamin ketersediaan minyak nabati bati pangan dan bahan bakar nabati.
Dalam kesempatan yang sama, Dewan Pakar P3PI dan Media Perkebunan, Dr. Gusti Artama Gultom dalam paparannya menjelaskan bahwa jika dibandingkan dengan tanaman tua, produktivitas sawit setelah replanting mengalami peningkatan sebanyak lebih dari 3 ton CPO/ha/tahun).
"Kebutuhan CPO untuk pangan dan energi akan mengalami tren naik, implementasi B50 membutuhkan setidaknya 17-18 juta ton CPO dan kebutuhan untuk pangan pun akan terus naik sehingga harus dilakukan replanting segera," ujarnya.
Namun, dalam praktiknya replanting harus dilakukan dengan teknis budidaya yang tepat. Keterbatasan petani terutama di daerah akan akses informasi yang memadai mengenai budidaya menjadi landasan utama terselenggaranya TKS. Ketua Panitia Pelaksana TKS 2026, Hendra J. Purba menyampaikan bahwa terkait perluasan 2-5 juta ha sawit dan intensifikasi untuk meningkatkan produktivitas diperlukan penggunaan bibit yang optimal.
“Di daerah sentra kelapa sawit seperti Kotawaringin Barat, peluang ekstensifikasi sudah tidak ada, sehingga satu-satunya cara adalah dengan intensifikasi dengan titik berat berada di kebun rakyat. Namun, salah satu penyebab rendahnya produktivitas adalah penggunaan benih ilegitim, karenanya di TKS ini kami bawa produsen kecambah,” ujar Hendra.
Menjadi yang kedua kalinya, TKS kini hadir Pangkalan Bun hadir untuk memberikan informasi mendalam kepada petani khususnya di wilayah Kalteng sebagai kota Provinsi dengan kebun terluas dan produksi sawit terbesar Indonesia mengenai regulasi, untuk mendapatkan kepastian berusaha, bantuan sarana dan prasarana perkebunan untuk mendukung PSR, inovasi budidaya, dan teknologi pendukung GAP.
TKS juga menghadirkan pameran teknologi dan field trip atau kunjungan lapangan ke PT Sukses Karya Mandiri untuk melakukan praktik upaya peningkatan produktivitas sawit dapat menjadi upaya pengembangan sumber daya manusia perkebunan sawit sehingga produktivitas dapat meningkat dan kesejahteraan petani tercapai.