Dijelaskan Rista, kekhawatiran ini kemudian berkembang menjadi diskusi yang lebih spesifik. Misalnya, bagaimana jika hanya satu pihak yang bekerja. Apakah penghasilan yang ada cukup untuk menanggung seluruh kebutuhan? Atau sebaliknya, jika keduanya bekerja, bagaimana cara mengatur sistem keuangan yang adil dan efektif agar tidak menimbulkan konflik di kemudian hari.
Tidak berhenti di situ, lanjut Rista, pasangan juga mulai menggali lebih dalam soal peran dan tanggung jawab finansial masing-masing. Mereka ingin memahami dengan jelas, uang dari masing-masing pihak akan dialokasikan untuk apa saja, dan bagaimana pembagian tersebut bisa menciptakan keseimbangan dalam hubungan.
Di tahap ini, kata Rista, konsultasi keuangan tidak lagi sekadar soal angka, tetapi juga membuka cara pandang masing-masing individu terhadap uang.
Dari sana, kata Rista, pasangan bisa melihat apakah mereka memiliki pola pikir yang sejalan atau justru bertolak belakang. Termasuk juga menyadari kemungkinan menjadi bagian dari generasi sandwich, di mana tanggung jawab finansial tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk keluarga.
Bagi Rista, memahami mindset pasangan terhadap uang adalah kunci yang sering kali terlewat, padahal dampaknya sangat besar dalam jangka panjang.
“Dari situ kita bisa tahu bagaimana sih pola mindset si pasangan ini, si calon suami memandang uang seperti apa, si calon istri memandang uangnya seperti apa,” pungkaspnya.
Baca Juga: Andy F Noya ungkap Cara Mencegah Ribut Soal Uang dengan Pasangan