Genap 101 tahun perjalanan hidup Pandji Wisaksana diperingati dengan cara yang tidak hanya mengenang sosok pendiri Gerakan Matahati tersebut, tetapi juga meneruskan kepeduliannya terhadap kesehatan mata. Sebanyak 101 pasien akan mendapatkan operasi katarak gratis melalui program yang digelar Gerakan Matahati bersama JEC Eye Hospitals and Clinics, Lions Eye Bank Jakarta (LEBJ), dan Lions Club Indonesia.

Rangkaian operasi tersebut dimulai melalui seremoni kick-off di RS Mata JEC @ Kedoya, Jakarta, bertepatan dengan World Sight Day 2026. Pelaksanaannya akan berlangsung secara bertahap di jaringan JEC Eye Hospitals and Clinics sepanjang Oktober hingga Desember 2026.

Pemilihan angka 101 memiliki makna khusus. Program tersebut menjadi bagian dari peringatan 101 tahun Pandji Wisaksana sekaligus bentuk keberlanjutan nilai yang ia tanamkan melalui Gerakan Matahati.

Baca Juga: Katarak Jadi Penyebab Utama Kebutaan pada Lansia, Akses Operasi Gratis Diperluas

Gerakan Matahati sendiri diresmikan pada 2008 sebagai gerakan kemanusiaan di bidang sosial kesehatan mata. Sejak saat itu, gerakan tersebut menghimpun dukungan mitra, donatur, dan tenaga medis untuk membantu masyarakat yang membutuhkan akses terhadap penanganan gangguan penglihatan.

Ketua Pelaksana Matahati, Wandi S. Brata, mengatakan program operasi katarak ini menjadi bagian dari perjalanan panjang Matahati dalam membuka akses layanan kesehatan mata bagi masyarakat.

“Sejak 2008, Matahati menghimpun dukungan berbagai pihak untuk membuka akses operasi katarak bagi masyarakat yang membutuhkan. Hingga kini, kami telah membantu memfasilitasi 27.500 operasi katarak tanpa biaya. Program ini melanjutkan perjalanan tersebut sekaligus menjadi penghormatan atas 101 tahun Bapak Pandji Wisaksana. Bagi kami, semangat yang beliau rintis akan terus berarti selama dapat diteruskan menjadi manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Wandi dalam acara seremoni kick-off di RS Mata JEC @ Kedoya, Kamis (08/10/2026). 

Bagi keluarga Pandji Wisaksana, angka 101 juga menjadi simbol untuk meneruskan nilai yang ditinggalkan sang pendiri. Satria Laksmana Pandji atau Stephen Pandji, perwakilan keluarga almarhum sekaligus wakil dari Matahati, mengatakan peringatan tersebut tidak hanya dimaknai sebagai penghormatan terhadap perjalanan hidup Pandji.

Baca Juga: JEC Eye Hospitals and Clinics Ungkap Operasi Katarak yang Lebih Personal dengan Teknologi FLACS, Seperti Apa?

“Bagi keluarga, penghormatan terbaik bukan hanya mengenang Bapak Pandji, tetapi meneruskan nilai yang beliau jalankan sepanjang hidupnya. Karena itu, 101 tahun perjalanan beliau kami wujudkan melalui manfaat bagi 101 pasien. Kami berharap semangat berbagi yang beliau rintis terus hidup melalui Gerakan Matahati dan tetap relevan bagi masyarakat yang membutuhkan,” ujar Stephen.

Dalam program ini, 101 pasien akan mendapatkan pelayanan melalui 16 lokasi jaringan JEC yang tersebar di Jabodetabek, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, hingga Sulawesi. Lokasi tersebut antara lain JEC @ Menteng, JEC @ Kedoya, JEC Primasana @ Tanjung Priok, JEC @ Cibubur, JEC @ Tambora, JEC @ Cinere, JEC @ Bekasi, JEC @ Tangerang, hingga sejumlah jaringan JEC di Kediri, Surabaya, Pasuruan, Semarang, Purwokerto, Denpasar, Kendari, dan Makassar.

CEO dan Founder JEC Eye Hospitals and Clinics, Prof. Dr. Tjahjono D. Gondhowiarjo, SpM(K), PhD, mengatakan jaringan layanan JEC memungkinkan program sosial tersebut menjangkau masyarakat di berbagai wilayah.

“Katarak dapat berdampak besar pada kemandirian seseorang karena penglihatan sangat menentukan aktivitas sehari-hari. Karena itu, akses terhadap penanganan yang tepat perlu semakin dekat dengan masyarakat,” ujar Tjahjono.

Ia menambahkan, JEC Group hingga saat ini telah melakukan lebih dari 40.000 operasi katarak tanpa biaya bagi masyarakat yang membutuhkan.

Dalam pelaksanaannya, setiap penerima manfaat tetap menjalani rangkaian layanan medis, mulai dari penjaringan, skrining, pemeriksaan, tindakan operasi, hingga pemantauan pascaoperasi.

Direktur RS Mata JEC @ Kedoya sekaligus Ketua Katarak dan Bedah Refraktif JEC Group, Dr. Setiyo Budi Riyanto, SpM(K), menegaskan bahwa pasien program sosial tetap mendapatkan standar pelayanan medis yang sama.

“Dalam layanan katarak, standar klinis tidak dibedakan antara pasien reguler dan pasien yang mengikuti program bakti sosial,” ujar Setiyo.

Rangkaian operasi bagi 101 pasien tersebut ditargetkan selesai pada Desember 2026. Program ini sekaligus menjadi bagian dari target Gerakan Matahati untuk memfasilitasi 1.010 operasi katarak gratis bagi masyarakat hingga akhir tahun.