Profesionalisme tersebut juga diterapkan melalui tata kelola perusahaan. Monica mengatakan, BLP Beauty menjalani audit eksternal dan tetap menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), meski perusahaan merupakan bisnis keluarga.
“Bahkan sampai sekarang kita diaudit secara eksternal. Walaupun perusahaan keluarga, dan kita ada RUPS juga,” ujarnya.
Menurut Monica, pemisahan antara kepentingan personal dan perusahaan menjadi hal yang sangat penting untuk mencegah munculnya konflik maupun penggunaan aset perusahaan untuk kebutuhan pribadi.
Ia pun mencontohkan bagaimana keputusan personal tidak semestinya dilakukan dengan menggunakan sumber daya perusahaan hanya karena hubungan keluarga.
“Jadi gak bisa nih tiba-tiba Icil mau ngambilin teh, gue mau bikin rumah dong. Gue ngambilin di BLP, gak pernah. Jadi semua itu bener-bener dipisah antara Lisi Parah sama BLP. Itu adalah dua entity yang berbeda, begitu juga dengan keuangannya,” jelas Monica.
Bagi Monica, kedisiplinan dalam memisahkan dua entitas tersebut menjadi salah satu faktor yang membantu BLP Beauty menjaga kondisi bisnisnya hingga saat ini. Termasuk ketika perusahaan harus menghadapi pandemi dan berbagai tantangan bisnis lainnya.
“Itu menurut gue yang bisa bikin BLP juga bertahan sampai sekarang ya. Walaupun sempat ngelewatin pandemi dan segala macam. Kita tetap masih strong financially gitu,” ungkapnya.
Lebih jauh, Monica menilai, pengelolaan yang profesional dapat membantu bisnis keluarga menghindari persoalan yang sering muncul ketika hubungan keluarga terlalu jauh masuk ke dalam urusan perusahaan.
Menurutnya, batas yang jelas antara hak sebagai anggota keluarga dan tanggung jawab sebagai bagian dari perusahaan menjadi salah satu kunci agar bisnis tetap sehat.
“Karena ya di-running dengan sangat profesional. Gak ada banyaknya problem perusahaan keluarga begitu ya. Kayak, masa sih gak boleh? Gue yang bikin rumah, masa gak boleh minjem? Itu yang bikin berantakan,” pungkas Monica.