Growthmates, memisahkan keuangan bisnis dan keuangan pribadi menjadi salah satu tantangan yang kerap dihadapi pelaku usaha kecil, terutama bisnis yang berawal dari industri rumahan.
Kondisi tersebut juga pernah banyak ditemui oleh Monica Christasia, CEO BLP Beauty, sebelum kemudian diterapkan secara berbeda dalam membangun dan menjalankan perusahaannya.
Menurut Monica, pencampuran keuangan pribadi dan bisnis merupakan hal yang cukup umum terjadi pada usaha skala kecil atau bisnis keluarga.
Padahal, pemisahan tersebut penting agar pengelolaan perusahaan tetap profesional dan kondisi keuangan bisnis dapat terukur dengan jelas.
“Kita tuh cenderung nyatuin keuangan bisnis sama keuangan personal. Terutama kalau kayak perusahaan yang UMKM, maksudnya yang kecil ya, industri rumahan. Pengalaman ku banyak banget yang kayak gitu, harusnya tuh dipisahin kan,” tutur Monica, sebagaimana Olenka kutip dari laman Instagram @senalar.id, Jumat (14/8/2026).
Pengalaman tersebut kemudian menjadi salah satu landasan dalam membangun BLP Beauty. Meski perusahaan tersebut didirikan dan dimiliki oleh keluarga, Monica memastikan sejak awal bahwa urusan bisnis tetap berjalan secara profesional dan tidak bercampur dengan kepentingan personal masing-masing anggota keluarga.
“Keuangan antara personal dengan keuangan pribadi. Nah itu kalau misalkan industri rumahan, kecenderungannya tuh digabung gitu. Nah ini juga yang akhirnya jadi landasan buat BLP Beauty juga,” kata Monica.
Sejak awal berdiri, kata Monica, BLP Beauty menerapkan struktur perusahaan yang jelas. Meskipun seluruh pemegang saham berasal dari keluarga, setiap orang yang bekerja di dalam perusahaan tetap memiliki peran profesional, termasuk Monica sendiri yang bergabung dengan kontrak kerja.
“Jadi sejak pertama kita berdiri, walaupun isinya tuh semua pemegang sahamnya adalah keluarga. Semuanya tuh profesional, dalam arti gue masuk pun pakai kontrak kerja. Jadi akte pun ada jelas pemegang saham berapa dan segala macam,” tuturnya.
Baca Juga: Tantangan Terbesar Perempuan Jadi Leader Versi Editor in Chief Harper's Bazaar Indonesia
Profesionalisme tersebut juga diterapkan melalui tata kelola perusahaan. Monica mengatakan, BLP Beauty menjalani audit eksternal dan tetap menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), meski perusahaan merupakan bisnis keluarga.
“Bahkan sampai sekarang kita diaudit secara eksternal. Walaupun perusahaan keluarga, dan kita ada RUPS juga,” ujarnya.
Menurut Monica, pemisahan antara kepentingan personal dan perusahaan menjadi hal yang sangat penting untuk mencegah munculnya konflik maupun penggunaan aset perusahaan untuk kebutuhan pribadi.
Ia pun mencontohkan bagaimana keputusan personal tidak semestinya dilakukan dengan menggunakan sumber daya perusahaan hanya karena hubungan keluarga.
“Jadi gak bisa nih tiba-tiba Icil mau ngambilin teh, gue mau bikin rumah dong. Gue ngambilin di BLP, gak pernah. Jadi semua itu bener-bener dipisah antara Lisi Parah sama BLP. Itu adalah dua entity yang berbeda, begitu juga dengan keuangannya,” jelas Monica.
Bagi Monica, kedisiplinan dalam memisahkan dua entitas tersebut menjadi salah satu faktor yang membantu BLP Beauty menjaga kondisi bisnisnya hingga saat ini. Termasuk ketika perusahaan harus menghadapi pandemi dan berbagai tantangan bisnis lainnya.
“Itu menurut gue yang bisa bikin BLP juga bertahan sampai sekarang ya. Walaupun sempat ngelewatin pandemi dan segala macam. Kita tetap masih strong financially gitu,” ungkapnya.
Lebih jauh, Monica menilai, pengelolaan yang profesional dapat membantu bisnis keluarga menghindari persoalan yang sering muncul ketika hubungan keluarga terlalu jauh masuk ke dalam urusan perusahaan.
Menurutnya, batas yang jelas antara hak sebagai anggota keluarga dan tanggung jawab sebagai bagian dari perusahaan menjadi salah satu kunci agar bisnis tetap sehat.
“Karena ya di-running dengan sangat profesional. Gak ada banyaknya problem perusahaan keluarga begitu ya. Kayak, masa sih gak boleh? Gue yang bikin rumah, masa gak boleh minjem? Itu yang bikin berantakan,” pungkas Monica.