Dalam studi bertajuk Shaping Tomorow’s Workforce – Asia Pacific Youth Insights oleh Federal Express Corporation (FedEx) dan JA, ditemukan bahwa hampir seluruh responden (99%) di Indonesia berharap pendidikan mereka memberikan lebih banyak pemahaman tentang bagaimana dunia kerja beroperasi, lebih tinggi dibandingkan rata-rata Asia Pasifik sebesar 97%. Kemampuan memecahkan masalah dan berpikir kritis menjadi keterampilan yang paling dianggap penting di Indonesia untuk 10 hingga 15 tahun ke depan.

Hasil tersebut didapat dari survei yang melibatkan lebih dari 4.200 anak muda berusia 15 hingga 22 tahun di sepuluh negara dan wilayah di Asia Pasifik, termasuk 552 responden dari Indonesia.

Baca Juga: Riset: Indonesia Berpotensi Raih Nilai Ekonomi US$32,7 Miliar lewat Regulasi Digital Pendorong Inovasi

“Anak muda Indonesia memiliki energi, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi yang luar biasa. Mereka tidak hanya ingin mempelajari teori, tetapi juga ingin mendapatkan kesempatan untuk menerapkan kemampuan mereka dalam lingkungan bisnis yang nyata,” ujar Garrick Thompson, Managing Director FedEx Indonesia, dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Rabu (26/8/2026).

Laporan ini menunjukkan bahwa anak muda Indonesia ingin pendidikan formal memberikan perhatian lebih besar pada kemampuan yang dapat mereka terapkan seiring dengan perubahan dunia kerja. Mereka juga menginginkan hubungan yang lebih erat antara pembelajaran di kelas dan dunia kerja.

Responden dari Indonesia juga menunjukkan tingkat kepercayaan diri yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata kawasan dalam sejumlah kemampuan yang dapat diterapkan di berbagai situasi:

  • 78% merasa percaya diri dalam menghasilkan ide atau solusi baru, dibandingkan dengan 61% di Asia Pasifik;
  • 72% merasa percaya diri untuk mengambil inisiatif melakukan sesuatu yang baru tanpa harus diminta atau diarahkan, dibandingkan dengan 60% di kawasan Asia Pasifik;
  • 73% merasa percaya diri dapat beradaptasi dengan cepat ketika terjadi perubahan rencana, dibandingkan dengan 62% di kawasan Asia Pasifik;
  • 69% merasa percaya diri bekerja secara mandiri dan mengambil keputusan tanpa banyak arahan, dibandingkan dengan 59% di kawasan Asia Pasifik.

Anak Muda Melihat Pola Pikir Kewirausahaan sebagai Hal yang Bernilai

Pentingnya mengubah keterampilan yang dapat diterapkan di berbagai situasi menjadi tindakan juga terlihat dari cara anak muda Indonesia memandang pola pikir kewirausahaan. Sebanyak 95% responden setuju bahwa pola pikir kewirausahaan dapat membantu seseorang meraih kesuksesan dalam pekerjaan apa pun, dibandingkan dengan 85% di Asia Pasifik.

Responden Indonesia juga memberikan penilaian yang cukup tinggi terhadap peran pendidikan formal dalam mempersiapkan mereka untuk berkarier. Rata-rata, mereka memperkirakan bahwa pendidikan formal akan memberikan sekitar 81% dari bekal yang mereka butuhkan untuk sukses dalam karier di masa depan, dibandingkan dengan 69% di Asia Pasifik.

Pendidikan Perlu Mengimbangi Perkembangan AI dan Ekonomi

Selain kemampuan kewirausahaan, studi ini juga menyoroti pentingnya mempersiapkan generasi muda agar mampu menghadapi ekonomi yang didukung AI dan semakin terhubung secara global. Meski anak muda Indonesia menyadari pentingnya kemampuan tersebut, masih ada peluang untuk memperkuat penerapannya dalam kehidupan nyata:

  • 94% percaya bahwa memahami bagaimana bisnis berjalan di berbagai negara akan relevan dengan karier mereka di masa depan. Namun, hanya 69% yang mengatakan bahwa sekolah atau universitas mereka telah mengajarkan bagaimana perdagangan lintas negara berlangsung;
  • 84% percaya bahwa mereka akan perlu bekerja berdampingan dengan AI, tetapi hanya 70% yang merasa pendidikan mereka telah mempersiapkan mereka untuk menggunakan AI dalam lingkungan kerja nyata;
  • Anak muda Indonesia juga lebih banyak memprioritaskan keterampilan digital dan teknologi dalam kurikulum dibandingkan rata-rata kawasan, yaitu 18% berbanding 12% di Asia Pasifik.

Di kawasan Asia Pasifik, eksperimen secara mandiri menjadi sumber pembelajaran AI yang paling banyak disebut, yaitu sebesar 42%. Hal ini menunjukkan bahwa anak muda tidak hanya mengandalkan pendidikan formal, tetapi juga mencari cara sendiri untuk mengembangkan kemampuan mereka.

“Temuan paling menarik dari studi ini adalah bahwa anak muda menginginkan lebih banyak kesempatan untuk mengenal dunia kerja dan mendapatkan pengalaman nyata. Saat ini, tingkat pengangguran anak muda di Asia Pasifik mencapai hampir 14%, jauh lebih tinggi dibandingkan tingkat pengangguran orang dewasa, sementara kesenjangan dalam adopsi AI juga terus melebar. Kita tidak bisa berasumsi bahwa bakat saja akan cukup bagi anak muda untuk meraih kesuksesan. Mereka membutuhkan kesempatan untuk membangun keterampilan praktis, meningkatkan kepercayaan diri, dan memahami bagaimana dunia kerja terus berkembang,” ujar Vivek Kumar, President and Chief Executive Oficer JA Asia Pacific.

Temuan ini juga menunjukkan area di mana dukungan dapat memberikan dampak terbesar, yaitu membantu anak muda menggunakan AI secara bertanggung jawab, menghadapi tantangan bisnis yang kurang terstruktur, serta menerapkan pengetahuan yang diperoleh di kelas dalam situasi nyata.