PT Timah Tbk (TINS) membukukan pendapatan usaha sebesar Rp16,15 triliun pada 9M 2026, meningkat 144% dibandingkan 9M 2025 sebesar Rp6,61 triliun. Peningkatan tersebut sejalan dengan kenaikan volume penjualan serta harga jual rata-rata logam timah. Sejalan dengan pertumbuhan pendapatan, TINS mencatatkan laba usaha sebesar Rp5,60 triliun, meningkat 594% dibandingkan 9M 2025 sebesar Rp807,25 miliar.

EBITDA mencapai sebesar Rp6,18 triliun, meningkat 323% dibandingkan EBITDA 9M 2025 sebesar Rp1,46 triliun. Sementara itu, laba bersih TINS tercatat sebesar Rp4,12 triliun, meningkat 584% dibandingkan 9M 2025 sebesar Rp602,42 miliar. Profitabilitas TINS juga menunjukkan penguatan. Operating Margin tercatat sebesar 34,67%, meningkat dibandingkan 9M 2025 sebesar 12,22%. EBITDA Margin mencapai 38,26%, meningkat dibandingkan 9M 2025 sebesar 22,08%. Sementara itu, Net Profit Margin meningkat menjadi 25,52%, dari 9,12% pada 9M 2025.

Baca Juga: Laba Usaha Indofood CBP Tumbuh Tipis, Kenaikan Bahan Baku dan Logistik Masih Membayangi

Dari sisi posisi keuangan, total aset TINS per 30 September 2026 tercatat sebesar Rp17,26 triliun, meningkat 26% dibandingkan posisi akhir tahun 2025 sebesar Rp13,64 triliun. Total liabilitas tercatat sebesar Rp5,29 triliun, meningkat sekitar 1% dibandingkan posisi akhir tahun 2025 sebesar Rp5,23 triliun. Sementara itu, ekuitas meningkat 42% menjadi Rp11,97 triliun dari Rp8,41 triliun pada akhir tahun 2025, sejalan dengan perolehan laba TINS selama 9M 2026.

Dari sisi pengembalian atas modal yang digunakan, Return on Assets (ROA) tercatat sebesar 23,88% pada 9M 2026, meningkat dibandingkan 9M 2025 sebesar 4,40%. Return on Equity (ROE) juga meningkat menjadi 34,42% dari 8,00% pada 9M 2025. Peningkatan ini mencerminkan penguatan kemampuan TINS dalam menghasilkan laba relatif terhadap aset dan ekuitas yang dimiliki.

Dari sisi arus kas, TINS membukukan arus kas bersih dari aktivitas operasi pada 9M 2026 tercatat positif sebesar Rp4,09 triliun, berbalik dari arus kas keluar bersih sebesar Rp388,64 miliar pada 9M 2025. Saldo kas akhir periode mencapai Rp4,25 triliun, meningkat dibandingkan Rp1,34 triliun pada 9M 2025.

Kinerja Operasi dan Produksi

Pada 9M 2026, TINS mencatat produksi bijih timah sebesar 18.883 ton Sn, meningkat 55% dibandingkan 9M 2025 sebesar 12.190 ton Sn. Sejalan dengan peningkatan tersebut, produksi logam timah mencapai 16.190 metrik ton Sn, meningkat 49% dibandingkan 9M 2025 sebesar 10.855 metrik ton Sn.

Peningkatan produksi bijih timah didukung oleh optimalisasi penambangan darat dan laut. Pada penambangan darat, TINS meningkatkan produktivitas melalui penambahan unit operasi tambang, pembukaan blok rencana kerja di sejumlah lokasi, serta optimalisasi kegiatan pemboran pandu untuk mendukung efektivitas penggalian. Sementara itu, pada penambangan laut TINS mengoptimalkan kinerja Kapal Keruk (KK) dan Kapal Isap Produksi (KIP), serta meningkatkan pengawasan dan produktivitas Ponton Isap Produksi (PIP).

TINS turut memperkuat kegiatan eksplorasi melalui pengoperasian kapal bor yang tersebar di area produksi utama. Kegiatan pemboran ini bertujuan meningkatkan tingkat keyakinan atas sumber daya dan cadangan timah, serta menyediakan informasi yang lebih memadai untuk mendukung perencanaan dan pengambilan keputusan operasional berbasis data.

Selain itu, TINS meningkatkan pengawasan dan pengamanan wilayah izin usaha pertambangan (WIUP) serta area produksi dengan dukungan satuan tugas pemerintah. TINS juga mengoptimalkan pencapaian produksi melalui program blok sistem sebagai bagian dari upaya memperkuat tata kelola pertambangan dan meningkatkan efektivitas pelaksanaan rencana kerja penambangan.

Dari sisi penjualan, volume penjualan logam timah TINS pada 9M 2026 mencapai 16.304 metrik ton, meningkat 72% dibandingkan 9M 2025 sebesar 9.469 metrik ton. Peningkatan volume penjualan ini didukung oleh optimalisasi pengelolaan persediaan logam timah untuk memenuhi permintaan pasar.

Sejalan dengan perkembangan harga timah di pasar global, harga jual rata-rata logam timah TINS pada 9M 2026 mencapai USD51.011 per metrik ton, meningkat 52% dibandingkan 9M 2025 sebesar USD33.596 per metrik ton.

Berdasarkan wilayah pemasaran, penjualan logam timah TINS pada 9M 2026 didominasi oleh pasar ekspor yang berkontribusi sebesar 96% dari total penjualan, sedangkan pasar domestik berkontribusi sebesar 4%. Adapun enam negara tujuan ekspor utama meliputi China sebesar 30%, Korea Selatan sebesar 12%, India sebesar 11%, Jepang sebesar 9%, Belanda sebesar 8%, dan Singapura sebesar 7%. Komposisi penjualan ini mencerminkan jangkauan pemasaran TINS di pasar global serta peran strategis pasar ekspor dalam mendukung penjualan logam timah TINS.