Lebih lanjut, Ana menjelaskan bahwa tantangan kepemimpinan semakin kompleks karena setiap generasi memiliki karakter, pengalaman, dan cara berkomunikasi yang berbeda.

Ia mencontohkan, Gen Z yang tumbuh di masa pembelajaran daring selama pandemi. Pengalaman tersebut, menurutnya, membuat sebagian dari mereka memiliki tantangan dalam membangun keterampilan interpersonal dan komunikasi.

"Gen Z ini kuliahnya online, sekolahnya online. Mereka yang lahir sekitar 1995 sampai 2000-an itu banyak yang lack of interpersonal skills and communication. Kuliah online kan nggak dapat ya rasanya," ujarnya.

Karena itu, kata dia, cara menyampaikan perubahan kepada Gen Z tidak bisa disamakan dengan pendekatan kepada generasi lain. Milenial memiliki tekanan dan motivasi yang berbeda, sementara Gen X yang lebih senior juga membutuhkan pendekatan komunikasi yang berbeda.

"Gimana seorang leader itu bisa mampu memberikan narasi ketika kebijakan itu berubah kepada Gen Z, dengan storytelling yang seperti apa? Millennial akan beda lagi pressure-nya. Gen X yang lebih senior, para legend yang mungkin terjebak pada zona nyaman, beda lagi bahasanya," kata Ana.

Dan, di tengah keberagaman karakter karyawan lintas generasi, Ana pun menegaskan bahwa kemampuan storytelling kini menjadi salah satu kompetensi utama yang harus dimiliki seorang pemimpin.

Bukan sekadar pandai berbicara, tetapi mampu menjelaskan arah organisasi secara sederhana, membangun pemahaman bersama, serta menghadirkan rasa percaya terhadap perubahan yang sedang dijalankan perusahaan.

"Storyteller ini menjadi sebuah sosok yang dibutuhkan oleh banyak organisasi, yang mampu menarasikan arah kebijakan perusahaan, menunjukkan tujuan kita ke mana, perubahan mengarah ke mana, mengkomunikasikan dengan clarity, dengan narasi storytelling yang tepat, kemudian menjadi role model," tutup Ana.

Baca Juga: Pentingnya Penampilan bagi Wanita Karier Menurut Analisa Widyaningrum