Perubahan dunia kerja yang semakin dinamis membuat peran seorang pemimpin ikut berubah. Di tengah lingkungan kerja yang dihuni oleh beberapa generasi sekaligus, mulai dari Gen X, milenial, hingga Gen Z, kemampuan memimpin tidak lagi cukup hanya mengandalkan strategi bisnis atau pengambilan keputusan.

Seorang pemimpin juga dituntut mampu menjadi komunikator yang dapat menyatukan seluruh tim melalui narasi yang jelas dan menginspirasi.

Psikolog sekaligus Founder & Impact Oriented Business Leader, Analisa Widyaningrum, menilai bahwa salah satu kualitas terpenting yang harus dimiliki seorang pemimpin saat ini adalah kemampuan menjadi seorang storyteller.

"Good leadership itu harusnya kayak gimana? Teori leadership banyak banget ya, kita belajar. Tapi saya membaca satu pola yang sama untuk menghadapi multigenerations. Ini adalah sebagai good storyteller," papar Analisa, dikutip dari podcast YouTube @roryasyari - @room.4improvement, Selasa (30/6/2026).

Menurut wanita yang karib disapa Ana itu, seorang pemimpin harus mampu menjadi suara organisasi dalam keseharian. 

Ia tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menjelaskan arah perubahan, kebijakan perusahaan, hingga alasan di balik setiap keputusan yang diambil.

"Karena dia harus bisa menarasikan sebagai daily voice organisasi, menarasikan arah perubahan kebijakan perusahaan," jelas Ana.

Ana pun mengungkapkan bahwa di balik jabatan tinggi seorang pemimpin, sering kali terdapat tekanan yang tidak terlihat oleh para karyawan. Banyak anggota direksi maupun Board of Directors (BOD) yang harus mengambil keputusan sulit, bahkan terkadang bertentangan dengan hati nurani mereka demi kepentingan organisasi.

"Kalau saya ngobrol sama para BOD, minus one, atau BOD sendiri, mereka juga sebenarnya terjebak pada keputusan-keputusan kebijakan politis yang sebenarnya mereka berlawanan sama hati nurani mereka. Tapi mereka harus menjaga persona mereka untuk bisa kuat menghadapi itu semua," katanya.

Meski menghadapi tekanan besar, lanjut Ana, seorang pemimpin tetap dituntut tampil tenang di depan timnya. Strategi harus disampaikan secara jelas tanpa memperlihatkan kepanikan maupun kelelahan emosional.

"When it comes to the interaction dengan follower mereka, yang keluar adalah clear strategy. Kepanikan, burn out-nya nggak kelihatan. Itu yang saya bantu di belakang layar, 'Bapak kalau panik harus ambil napas dulu, Pak.' Tapi sebenarnya mereka stres juga," ungkap Ana.

Baca Juga: 3 Skill Set yang Harus Dimiliki Wanita Karier Agar Mampu Berkembang

Lebih lanjut, Ana menjelaskan bahwa tantangan kepemimpinan semakin kompleks karena setiap generasi memiliki karakter, pengalaman, dan cara berkomunikasi yang berbeda.

Ia mencontohkan, Gen Z yang tumbuh di masa pembelajaran daring selama pandemi. Pengalaman tersebut, menurutnya, membuat sebagian dari mereka memiliki tantangan dalam membangun keterampilan interpersonal dan komunikasi.

"Gen Z ini kuliahnya online, sekolahnya online. Mereka yang lahir sekitar 1995 sampai 2000-an itu banyak yang lack of interpersonal skills and communication. Kuliah online kan nggak dapat ya rasanya," ujarnya.

Karena itu, kata dia, cara menyampaikan perubahan kepada Gen Z tidak bisa disamakan dengan pendekatan kepada generasi lain. Milenial memiliki tekanan dan motivasi yang berbeda, sementara Gen X yang lebih senior juga membutuhkan pendekatan komunikasi yang berbeda.

"Gimana seorang leader itu bisa mampu memberikan narasi ketika kebijakan itu berubah kepada Gen Z, dengan storytelling yang seperti apa? Millennial akan beda lagi pressure-nya. Gen X yang lebih senior, para legend yang mungkin terjebak pada zona nyaman, beda lagi bahasanya," kata Ana.

Dan, di tengah keberagaman karakter karyawan lintas generasi, Ana pun menegaskan bahwa kemampuan storytelling kini menjadi salah satu kompetensi utama yang harus dimiliki seorang pemimpin.

Bukan sekadar pandai berbicara, tetapi mampu menjelaskan arah organisasi secara sederhana, membangun pemahaman bersama, serta menghadirkan rasa percaya terhadap perubahan yang sedang dijalankan perusahaan.

"Storyteller ini menjadi sebuah sosok yang dibutuhkan oleh banyak organisasi, yang mampu menarasikan arah kebijakan perusahaan, menunjukkan tujuan kita ke mana, perubahan mengarah ke mana, mengkomunikasikan dengan clarity, dengan narasi storytelling yang tepat, kemudian menjadi role model," tutup Ana.

Baca Juga: Pentingnya Penampilan bagi Wanita Karier Menurut Analisa Widyaningrum