Setiap anak memiliki cara yang berbeda untuk menunjukkan potensi terbaiknya. Ada yang percaya diri bernyanyi, gemar menggambar, senang bereksperimen, atau menikmati aktivitas sederhana yang mengasah kreativitas.

Namun, di balik keinginan orang tua agar anak cepat menemukan bakatnya, psikolog mengingatkan bahwa proses mengenali potensi tidak bisa dilakukan secara instan.

Pesan tersebut sejalan dengan semangat yang diusung Bebelac Little Star 2026, yang mendorong anak-anak Indonesia berani bersinar dengan caranya sendiri.

Kunci utamanya bukan memaksa anak menjadi yang terbaik, melainkan memberikan ruang bagi mereka untuk bereksplorasi dan menemukan minatnya secara alami.

Psikolog Anak dan Keluarga, Ayoe Sutomo, M.Psi., Psi., mengatakan, banyak orang tua ingin segera mengetahui bakat anak sejak usia dini. Tak sedikit yang mendaftarkan anak ke berbagai kursus dengan harapan bisa menemukan bidang yang paling sesuai.

Padahal, menurutnya, orang tua tidak perlu terburu-buru memberi label terhadap kemampuan anak.

"Kalau berbicara mengenai bakat anak, sebenarnya tidak bisa buru-buru dan memang tidak perlu buru-buru. Karena sampai usia 10 tahun itu adalah masa eksplorasi. Waktunya anak mengenal lebih banyak, tahu lebih banyak, dan mencoba lebih banyak," papar Ayoe, saat acara press conference Bebelac Little Star 2026 yang digelar di Movenpick Hotel Jakarta City Centre, Jakarta, Jumat (24/7/2026).

Ayoe lantas mengatakan, hingga usia sekitar 10 tahun anak masih berada dalam tahap eksplorasi. Pada fase ini, mereka membutuhkan kesempatan untuk mengenal beragam aktivitas, mencoba hal-hal baru, dan memperkaya pengalaman.

Membatasi anak hanya pada satu kegiatan sejak dini, lanjut dia, justru dapat mempersempit peluang mereka menemukan minat dan potensi yang sebenarnya.

Karena itu, menurut Ayoe, peran utama orang tua bukan menentukan bakat anak, melainkan menjadi fasilitator yang membuka kesempatan seluas-luasnya bagi anak untuk belajar.

"Yang paling penting bagi orang tua adalah memfasilitasi anak. Kenalkan banyak hal, berikan banyak pengalaman baru. Dari situ baru kita observasi, mana kegiatan yang membuat anak paling semangat, paling menikmati, atau kemampuannya lebih menonjol dibandingkan anak seusianya," jelasnya.

Setelah memberikan berbagai pengalaman, orang tua perlu mengamati respons anak. Dari proses observasi tersebut, orang tua dapat melihat aktivitas yang paling disukai anak, yang membuatnya antusias, atau bidang yang menunjukkan perkembangan lebih cepat dibandingkan teman-teman sebayanya.

Ketika kecenderungan minat mulai terlihat, langkah berikutnya adalah memberikan dukungan dan apresiasi. Menurut Ayoe, sekecil apa pun kemajuan yang ditunjukkan anak layak mendapatkan penghargaan karena dapat membantu membangun rasa percaya dirinya.

"Yang penting adalah kita memberikan support atas apa pun yang dipilih anak, kemudian jangan lupa memberikan apresiasi untuk setiap langkah kecilnya. Semua proses itu perlu dihargai," katanya.

Baca Juga: Bebelac Little Star 2026 Kembali Hadir, Dorong Anak Indonesia Berani Bersinar dengan Potensinya

Untuk memudahkan orang tua, Ayoe pun lantas memperkenalkan prinsip FOSA, yakni Fasilitasi, Observasi, Support, dan Apresiasi. Keempat prinsip tersebut menjadi panduan sederhana bagi orang tua dalam mendampingi anak menemukan sekaligus mengembangkan potensinya.

Ayoe menuturkan, ketika orang tua mendukung pilihan anak, motivasi yang tumbuh akan berasal dari dalam diri anak sendiri atau motivasi intrinsik. Hal ini membuat anak lebih bersemangat menjalani proses belajar karena dilakukan atas keinginannya sendiri, bukan karena paksaan.

"Ketika kita mendukung apa yang dipilih anak, motivasi dari dalam dirinya akan tumbuh lebih kuat. Jadi dorongannya memang berasal dari keinginan anak sendiri, bukan karena dipaksa," ujarnya.

Selain memberi ruang untuk bereksplorasi, Ayoe menilai, stimulasi tidak harus selalu diberikan melalui kelas khusus atau aktivitas yang mahal. Justru kegiatan sederhana bersama keluarga dapat menjadi sarana belajar yang efektif.

Mengajak anak memasak, berkebun, membaca buku, membereskan rumah, bermain peran, hingga mengobrol bersama merupakan bentuk stimulasi yang dapat membantu anak mengembangkan kemampuan sekaligus mengenali minatnya.

Namun, ia menegaskan bahwa yang paling penting bukanlah banyaknya aktivitas yang dilakukan, melainkan kualitas interaksi antara orang tua dan anak selama proses tersebut berlangsung.

"Yang paling penting bukan kuantitas aktivitasnya, tetapi kualitas interaksi saat bersama anak. Untuk membuat anak berani bereksplorasi dan mencoba hal baru, mereka membutuhkan rasa aman secara emosional."

Menurut Ayoe, rasa aman secara emosional membuat anak tidak takut melakukan kesalahan. Ketika anak merasa diterima, tidak dihakimi, dan memahami bahwa kesalahan merupakan bagian dari proses belajar, mereka akan lebih percaya diri untuk mencoba pengalaman baru.

"Kalau anak merasa aman, merasa tidak di-judge, kalau salah tidak apa-apa karena itu bagian dari proses, maka ketika diberikan pengalaman baru dia akan lebih berani mencoba dan menikmati proses belajarnya," tutur Ayoe.

Selain stimulasi dan hubungan emosional yang hangat, Ayoe juga mengingatkan pentingnya nutrisi dalam mendukung tumbuh kembang anak.

Menurutnya, ketiga aspek tersebut saling melengkapi untuk membantu anak mengembangkan potensi secara optimal.

"Karena itu, orang tua tidak perlu terburu-buru mengejar prestasi atau membandingkan anak dengan teman sebayanya. Yang jauh lebih penting adalah menghadirkan lingkungan yang aman, penuh dukungan, kaya pengalaman, serta memberikan apresiasi atas setiap proses yang dijalani anak. Dengan cara itulah anak memiliki kesempatan untuk terus bereksplorasi, menemukan keunggulannya, dan berani bersinar dengan caranya sendiri,” pungkas Ayoe.

Baca Juga: Kembali Dibuka, Bebelac Little Star 2026 Ajak Anak Berani Tampil dan Percaya Diri