Program bayi tabung atau IVF (In Vitro Fertilization) menjadi salah satu solusi yang banyak dipilih pasangan untuk mendapatkan kehamilan. Namun, keberhasilan IVF ternyata tidak hanya ditentukan oleh satu faktor saja.
Ada banyak aspek yang memengaruhi peluang keberhasilan program ini, mulai dari usia, kondisi organ reproduksi, hingga gaya hidup dan pekerjaan.
CEO Smart Fertility Clinic, dr. Laura Leandra Setiawan menjelaskan bahwa faktor-faktor pendukung seperti pekerjaan tertentu juga dapat memengaruhi tingkat kesuburan seseorang.
“Kadang-kadang kalau terkait dengan pekerjaan-pekerjaan tertentu yang bisa mengganggu kesuburan, itu juga ada. Jadi biasanya faktor-faktor itu merupakan faktor yang memperberat atau supporting dari faktor lainnya, seperti usia dan juga kondisi organ serta produksi dari wanitanya dan kualitas spermanya,” papar dr. Laura, saat konferensi pers di Ruang Audit, lantai 1 Primaya Evasari Hospital, Jakarta, belum lama ini.
Menurut dr. Laura, kondisi kesehatan reproduksi perempuan tetap menjadi salah satu penentu utama dalam keberhasilan IVF. Faktor usia, kualitas sel telur, kondisi rahim, hingga kualitas sperma pasangan akan diperiksa secara menyeluruh sebelum program dimulai.
dr. Laura menjelaskan bahwa proses IVF tidak bisa dilakukan secara instan. Semua pasangan harus melewati tahap screening atau pemeriksaan awal untuk mengetahui kondisi reproduksi masing-masing.

“Kalau untuk IVF, biasanya memang dimulai dari screening. Jadi screening awal biasanya ada pemeriksaan dari sisi USG, kondisi organ dan produksi wanitanya seperti apa, atau kadang-kadang HSG juga ada,” jelasnya.
Selain pemeriksaan pada perempuan, analisis sperma pada pria juga menjadi bagian penting dalam proses evaluasi.
“Kemudian yang kedua adalah faktor pemeriksaan sperma dari sisi prianya. Nah biasanya dari screening sampai proses penentuan program kehamilan, dari situ sudah bisa dilihat apakah lebih cocok menjalani IVF misalnya,” lanjut dr. Laura.
Setelah hasil pemeriksaan keluar, dokter akan menentukan waktu terbaik untuk memulai program bayi tabung. Kondisi ketebalan dinding rahim dan kesiapan sel telur menjadi beberapa indikator penting yang akan diperhatikan.
“Nanti akan dilihat dulu ketebalan dari dinding rahimnya seperti apa, sel telurnya seperti apa, itu akan dilihat,” katanya.
Baca Juga: Smart Fertility Clinic Hadir Jadi Pendamping ‘Pejuang Garis Dua’ di Indonesia
Banyak pasangan bertanya apakah program IVF membutuhkan waktu yang lama. Menurut dr. Laura, proses persiapan hingga pelaksanaan biasanya memakan waktu beberapa bulan, tergantung kondisi masing-masing pasien.
“Tapi biasanya memakan waktu tidak lebih dari empat bulan. Untuk persiapannya kurang lebih satu sampai tiga bulan untuk screening, lalu persiapan sel telur kurang lebih tiga sampai empat bulan,” jelasnya.
Durasi tersebut dapat berbeda pada setiap pasangan, terutama jika ditemukan kondisi medis tertentu yang perlu ditangani lebih dulu sebelum program IVF dilakukan.
Kemudian, salah satu pertanyaan yang paling sering muncul terkait IVF adalah kemungkinan memilih jenis kelamin bayi. dr. Laura menegaskan bahwa di Indonesia, pemilihan gender secara spesifik tidak diperbolehkan.
“Kalau untuk pilih gender, di Indonesia tidak diperbolehkan,” tegasnya.
Meski begitu, dalam prosedur IVF terdapat pemeriksaan genetik yang dikenal sebagai PGT-E atau pemeriksaan kromosom embrio. Dari pemeriksaan tersebut, jenis kelamin embrio sebenarnya dapat diketahui bersamaan dengan evaluasi kondisi genetiknya.
“Sebenarnya kalau IVF sendiri, kita ada namanya PGTE, pemeriksaan genetik kromosom. Jadi nanti di situ bisa melihat juga sebenarnya laki-laki atau perempuan. Tetapi bukan untuk spesifik memilih gender,” ujar dr. Laura.
Ia menambahkan bahwa pemeriksaan tersebut lebih bertujuan memastikan kualitas genetik embrio sebelum ditanamkan ke rahim.
“Di situ juga bisa dilihat apakah kromosomnya sempurna, genetiknya juga baik. Itu bisa dilihat dari situ, termasuk gendernya juga ada,” pungkasnya.
Baca Juga: Program IVF Tak Sekadar Medis, Dokter Ungkap Pentingnya Mental dan Sikap Positif