Kemudian, terkait masih banyaknya masyarakat yang menganggap IVF sebagai ‘jalan terakhir’ untuk mendapatkan keturunan, dr. Darma menegasjan bahwa anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.
Ia menilai, keputusan menjalani IVF sangat bergantung pada kondisi medis masing-masing pasangan.
“IVF itu tidak selalu menjadi jalan terakhir. Kalau sudah dianggap jalan terakhir, biasanya pasien sudah terlalu lama menjalani proses dan mencoba berbagai cara sebelumnya,” ujarnya.
Menurutnya, ada beberapa kondisi yang memang membuat IVF menjadi pilihan utama sejak awal, misalnya pada kasus azoospermia atau kondisi ketika pria tidak memiliki sperma dalam cairan ejakulasi.
Selain itu, IVF juga menjadi solusi utama bagi perempuan dengan gangguan tuba falopi, terutama jika kedua saluran tuba telah rusak atau dipotong.
“Kalau kedua tuba sudah dipotong, tentu pembuahan alami tidak bisa terjadi lagi. Maka IVF menjadi pilihan yang paling memungkinkan,” jelas dr. Darma.
dr. Darma juga mengatakan, alasan terbesar pasangan menunda IVF sebenarnya bukan karena prosedurnya, melainkan faktor biaya.
Padahal, dalam beberapa kasus tertentu, pasien sebenarnya bisa langsung menjalani IVF tanpa harus melalui inseminasi terlebih dahulu.
Ia mencontohkan, pasien dengan PCOS atau kondisi tertentu yang tetap memiliki peluang baik menjalani IVF di usia muda.
“Tidak semua harus melalui inseminasi dulu. Kalau memang ingin langsung IVF, boleh saja. Tetapi pertimbangannya biasanya biaya,” ungkapnya.
Meski demikian, dr. Darma menekankan bahwa setiap pasangan memiliki kondisi berbeda sehingga keputusan terapi harus disesuaikan dengan penyebab infertilitas, usia, serta kesiapan fisik dan mental masing-masing.
“Jadi, keberhasilan IVF itu bukan hanya tentang teknologi medis, tetapi juga tentang kekuatan pasangan dalam menjaga harapan, saling mendukung, dan siap menghadapi setiap kemungkinan selama perjalanan menuju kehamilan,” pungkas dr. Darma.
Baca Juga: Smart Fertility Clinic Hadir Jadi Pendamping ‘Pejuang Garis Dua’ di Indonesia