Nadiem Makarim sedang menjadi perbincangan hangat masyarakat luas setelah eks Mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) era Presiden Joko Widodo (Jokowi) itu divonis 10 tahun penjara dalam kasus dugaan korupsi pengadaan laptop berbasis Chromebook.
Tak hanya divonis 10 tahun penjara, Pengadilan Tipikor PN Jakarta Pusat juga menghukum Nadiem denda sebesar Rp1 miliar subsider 190 hari penjara. Selain itu, Nadiem turut dijatuhi hukuman membayar uang pengganti sebesar Rp809 miliar subsider 5 tahun penjara. Kini Nadiem tengah berjuang mengajukan banding.
Meski pengadilan berdalih Nadiem diduga kuat terlibat korupsi pengadaan laptop Chromebook di Kemendikbudristek dengan nilai proyek Rp9,9 triliun, namun banyak pihak justru berpandangan sebaliknya. Nadiem dinilai telah dikriminalisasi, perkara yang menderanya bukan murni kesalahannya. Dukungan untuk Nadim datang dari segala arah.
Baca Juga: Mengintip Cara Nadiem Makarim Membangun Go-Jek dari Nol
Terlepas dari perkara yang sedang menyeretnya sekarang ini, Nadiem telah mencatat profil mentereng yang patut disimak. Jasanya besar bagi bangsa dan negara baik sebelum bergabung ke pemerintahan maupun saat berada di dalam pemerintahan.
Nama Nadiem sudah sangat identik dengan angkutan transportasi online bernama Gojek. Putra tunggal pasangan Nono Anwar Makarim dan Atika Algadrie itu adalah tokoh yang menggagas lahirnya transportasi modern tersebut dan sukses membuka lapangan pekerjaan jutaan anak bangsa.
Gojek yang ia cetus lahir dari tumpang tindihnya sistem angkutan massal di Jakarta serta masalah kemacetan lalu lintas yang tak ada solusinya dari pemerintah. Ia menciptakan Gojek untuk menjaga efektivitas mobilitas masyarakat perkotaan. Kini Gojek telah tumbuh menjadi sebuah perusahaan raksasa dengan jumlah pekerja dan mitra yang sudah tak terhitung lagi.
Ketika merintis Gojek, Nadiem seolah sedang berjudi dengan masa depannya, ia rela meninggalkan pekerjaan mapan yang sudah jelas menjamin masa depannya.
Perlu dicatat, sebelum memantapkan hatinya memulai Gojek, Nadiem tercatat sempat bekerja sebagai Management Consutant di McKinsey & Company, sebuah lembaga konsultan ternama yang berbasis di Jakarta. Di perusahaan ini, ia menghabiskan waktu 3 tahun.
Selain itu, ia juga bekerja sebagai Co-founder dan Managing Editor di Zalora Indonesia kemudian menjadi Chief Innovation officer kartuku.
Anak Semata Wayang yang Mandiri
Pria kelahiran 4 Juli 1984 ini datang dari kalangan mapan, ibu bapaknya dikenal sebagai kaum intelektual terpandang.
Nono Anwar Makarim ayahnya merupakan lawyer dengan gelar Doktor ilmu hukum lulusan Harvard sedang Atika Algadrie ibunya adalah seorang penulis lepas. Nadiem adalah anak semata wayang buah cinta dari pasangan ini.
Berangkat dari keluarga terpandang dengan status anak tunggal, Nadiem sebetulnya bisa memilih berleha-leha, bisa hidup santai tanpa harus pusing memikirkan hal-hal lain, toh masa depan sudah pasti terjamin. Namun Nadiem memilih jalannya sendiri.
Nadiem tak mau menyandarkan masa depan pada nama besar ibu bapaknya, ia merintis jalannya sendiri dan gagah berani menghadapi berbagai tantangannya. Nadiem benar-benar mempraktikkan arti dari kemandirian hidup.
Ia bahkan memilih hidup sendiri, jauh dari orang tuanya ketika memasuki masa SMA. Setelah menuntaskan pendidikan dasar dan menengah di Jakarta, Nadiem hijrah ke Singapura untuk melanjutkan pendidikan di jenjang berikutnya.
Bertahun-tahun berkelana di negeri orang, Nadiem masih belum punya niatan pulang kampung halaman, ia justru melanjutkan petualangannya ke tempat yang lebih jauh. Dari negeri Singa Putih, Nadiem terbang ke Negri Paman Sam.
Di Amerika Serikat, Nadiem melanjutkan pendidikannya di Brown University dan sukses merengkuh gelar BA di jurusan International Relations. Lalu melanjutkan studinya masternya di Harvard, tempat dulu ayahnya digembleng. Di kampus ini Nadiem fokus pada ilmu Business School dan mendapatkan gelar Master of Business Administration (MBA).
Setelah tuntas dengan petualangannya, Nadiem memutuskan kembali ke Indonesia. Ia memilih mendedikasikan diri untuk kemajuan bangsa dan negara tercinta. Setelah sempat gonta ganti beberapa pekerjaan, Nadiem memutuskan mendirikan Gojek yang kita kenal hingga kini.
Dalam beberapa kesempatan, Nadiem mengaku angkat kaki dari perusahaan sebelumnya hanya karena ia tidak betah bekerja di perusahaan orang lain. Ia ingin mengontrol dirinya sendiri. Nadiem dengan cerdas memanfaatkan perkembangan teknologi yang ada untuk kemudahan para pelanggan Gojek.
Baca Juga: Nadiem Makarim Divonis Penjara 10 Tahun
Dalam perkembangannya, Gojek tak hanya sebagai transportasi online penumpang, tapi ia berkembang menjadi jasa antar barang, makanan, alat kesehatan, massage, dan kebersihan . Kini Gojek memiliki 200 ribu partner pengemudi motor dan mobil, 35 ribu merchant Go Food, dan 3.000 penyedia layanan lainnya.