Kunjungan Direktur Biro Investigasi Federal (FBI) Amerika Serikat, Kash Patel, ke Indonesia menyita perhatian publik. Patel bertemu Presiden RI Prabowo Subianto di kediamannya di Kertanegara, Jakarta, pada Rabu (22/7/2026) lalu.
Dalam pertemuan tersebut, ia menyerahkan sejumlah artefak budaya Indonesia yang berhasil dipulangkan melalui kerja sama repatriasi antara Pemerintah Indonesia dan FBI.
Di balik kunjungan tersebut, Kash Patel dikenal sebagai salah satu figur paling berpengaruh sekaligus kontroversial di dunia penegakan hukum Amerika Serikat.
Berbekal pengalaman sebagai pengacara, jaksa keamanan nasional, pejabat intelijen, hingga Kepala Staf Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Patel kini memimpin FBI di tengah berbagai tantangan keamanan dan dinamika politik yang terus berkembang.
Lantas, siapa sebenarnya sosok Kash Patel? Dikutip dari berbagai sumber, Jumat (24/7/2026), berikut Olenka ulas profil singkat Direktur FBI Amerika Serikat tersebut.
Latar Belakang Keluarga dan Pendidikan
Dikutip dari Tempo, Kashyap Pramod Patel atau Kash Patel lahir di Garden City, New York, pada 25 Februari 1980. Ia merupakan keturunan Gujarat, India.
Keluarganya pernah tinggal di Uganda sebelum akhirnya diusir pada masa pemerintahan Idi Amin. Setelah sempat menetap di Kanada, keluarganya membangun kehidupan baru di Amerika Serikat.
Sementara itu, dikutip dari Liputan6.com, Patel dikenal sangat menjaga kehidupan pribadinya sehingga informasi mengenai keluarganya tidak banyak dipublikasikan.
Dikutip dari laman resmi FBI, Patel menyelesaikan pendidikan sarjana di University of Richmond dengan jurusan Criminal Justice dan History pada 2002.
Ia kemudian meraih gelar Juris Doctor dari Pace University School of Law serta sertifikat International Law dari University College London, Inggris.
Memulai Karier di Bidang Hukum
Karier Patel dimulai pada 2005 sebagai public defender di Miami-Dade County, Florida. Dikutip dari laman resmi FBI, ia menangani berbagai perkara pidana, mulai dari pembunuhan, perdagangan narkotika, hingga kejahatan keuangan.
Pengalaman tersebut membawanya menjadi pembela umum federal sebelum bergabung dengan Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ).
Di DOJ, dikutip dari laman resmi FBI, Wikipedia, dan war.gov, Patel bertugas sebagai jaksa keamanan nasional yang memimpin investigasi terhadap jaringan terorisme internasional, termasuk Al-Qaeda dan ISIS.
Patel juga diketahui menjadi penghubung DOJ dengan Joint Special Operations Command (JSOC) dalam berbagai operasi kontraterorisme.
Karier di Intelijen dan Gedung Putih
Karier Patel terus berkembang ketika bergabung dengan House Permanent Select Committee on Intelligence (HPSCI).
Dikutip dari war.gov, ia menjabat sebagai penasihat senior bidang keamanan nasional, memimpin penyelidikan dugaan campur tangan Rusia dalam Pemilu Amerika Serikat 2016, sekaligus menjadi penulis utama Nunes Memo.
Selanjutnya, dikutip dari laman resmi FBI, Patel dipercaya menjadi Deputy Assistant to the President sekaligus Senior Director for Counterterrorism di Dewan Keamanan Nasional (NSC) pada pemerintahan Presiden Donald Trump.
Dalam posisi tersebut, ia mengoordinasikan strategi kontraterorisme nasional, termasuk operasi yang menewaskan pemimpin ISIS Abu Bakr al-Baghdadi dan pemimpin Al-Qaeda di Semenanjung Arab, Qasim al-Rimi.
Kariernya berlanjut sebagai Principal Deputy to the Acting Director of National Intelligence. Dikutip dari Kumparan.com, Patel mengawasi operasional 17 lembaga intelijen Amerika Serikat dan bertanggung jawab menyusun President's Daily Brief untuk Presiden Amerika Serikat.
Menjadi Kepala Staf Menteri Pertahanan
Pada akhir 2020, Patel dipercaya menjadi Kepala Staf Menteri Pertahanan Amerika Serikat saat Christopher Miller menjabat sebagai Pelaksana Tugas Menteri Pertahanan.
Dikutip dari laman resmi Departemen Pertahanan Amerika Serikat, ia memimpin pelaksanaan agenda strategis kementerian, mengkoordinasikan staf eksekutif, serta memberikan nasihat kepada Menteri Pertahanan mengenai operasional Departemen Pertahanan.
Baca Juga: Profil Donny Ermawan, Gubernur Universitas Republik Indonesia yang Baru Dilantik Prabowo