Laba bersih PT Astra International Tbk (ASII) mengalami penurunan 19,22% dari Rp15,51 triliun pada semester I 2025 menjadi Rp12,53 triliun pada semester I 2026. Hal tersebut sejalan dengan koreksi pendapatan bersih Astra sebesar 3% dari Rp162,8 triliun pada H1 2025 menjadi Rp157,9 triliun pada H1 2026.
Presiden Direktur Astra International, Rudy, mengungkapkan bahwa kinerja Astra Group secara konsolidasi terdampak oleh kontribusi bisnis solusi pertambangan dan alat berat yang lebih rendah. Hingga paruh pertama tahun 2026, Astra mencatat divisi pertambangan emas memberi kontribusi yang lebih minim terhadap pendapatan Astra Group.
Begitu pula dengan penjualan alat berat yang mengalami penurunan, serta diikuti oleh penurunan volume jasa penambangan dan pertambangan batubara.
"Pada semester pertama 2026, Astra Grup mencatat peningkatan kontribusi dari bisnis otomotif dan jasa keuangan. Namun, penurunan kontribusi dari bisnis solusi pertambangan & alat berat mengakibatkan penurunan laba bersih Astra Group secara keseluruhan," ungkap Rudy dalam keterangan resmi yang diterima Olenka, Jumat (31/7/2026).
Baca Juga: Yayasan Astra-YDBA Berhasil Dampingi Ribuan UMKM Naik Kelas
Rudy menambahkan, laba bersih bisnis otomotif grup meningkat sebesar 9% yoy menjadi Rp5,9 triliun, terutama didukung oleh pertumbuhan penjualan mobil baru dan kontribusi yang kuat dari divisi komponen. Adapun kontribusi laba bersih divisi komponen grup meningkat sebesar 23% menjadi Rp921 miliar pada semester pertama tahun 2026, dengan peningkatan kontribusi dari semua segmen.
Pada saat yang sama, Astra mencatat bahwa bisnis jasa keuangan grup terus menunjukkan pertumbuhan yang resilien, dengan laba bersih yang meningkat 6% menjadi Rp4,6 triliun. Sementara itu, bisnis solusi pertambangan & alat berat grup membukukan laba bersihsebesar Rp2,7 triliun, turun 46% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
Penurunan tersebut disebabkan oleh minimnya penjualan emas dari tambang emas Martabe, serta dampak dari penurunan kuota produksi batubara nasional (alokasi RKAB) yang mengakibatkan melemahnya permintaan pada divisi alat berat dan jasa penambangan, serta penurunan volume pada divisi pertambangan batubara.
"Di tengah ketidakpastian global yang masih berlanjut, kami tetap fokus untuk menjalankan strategi korporasi kami yang baru. Kami yakin terhadap keunggulan operasional, resiliensi dan kekuatan neraca keuangan Astra, yang didukung oleh alokasi modal yang disiplin dalam menghadapi berbagai tantangan bisnis," tutupnya.