Hubungan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dan Presiden Prabowo Subianto disebut-sebut tengah berjarak. Keduanya diisukan sedang tidak harmonis. Isu ini menggelinding liar bersamaan dengan isu ijazah SMA Gibran Rakabuming Raka berpikir belakangan ini, dimana Prabowo dan aliansi politiknya terkesan tak peduli saat Jokowi dan keluarganya dihantam dari segala arah.

Pengamat Politik Hendri Satrio membaca ketidakharmonisan hubungan itu bahkan sudah terjadi sebelum isu ijazah Gibran seramai sekarang.

Baca Juga: Lebih Lincah Dari Prabowo, MBG Dipastikan Bakal Baik-baik Saja Jika Dieksekusi di Era Jokowi

Dalam berbagai kesempatan Jokowi bahkan sudah memberi pesan politik yang sangat tegas kepada Prabowo dan Gerindra, salah satunya adalah momen ketika Jokowi mengumumkan keanggotaannya di Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Dimana itu dilakukan di Bandung, Jawa Barat yang selama ini dikenal sebagai kandang Gerindra.

"Artinya, kata dia, ada pesan komunikasi yang disampaikan oleh dirinya. Bahwa hati-hati, Pak Prabowo. Hati-hati, Gerindra. Saya hari ini di kandang kalian dan saya umumkan bahwa saya bersama PSI," kata Hendri Satrio dikutip Rabu (28/10/2026).

Menurut Hendri, pemilihan lokasi deklarasi itu bukan dilakukan secara acak, itu dilakukan penuh perhitungan politik. Di sini Jokowi dinilai sedang menunjuk Prabowo dan Gerindra sebagai musuh politiknya. Atau dengan kata lain Jokowi kini memilih lawan berbeda setelah sebelumnya ia secara terang-terangan menunjuk PDI-Perjuangan sebagai lawannya pada Pilpres 2024 lalu.

“Karena jika begitu (memilih PDIP sebagai lawan) maka secara logis ia akan memilih wilayah yang menjadi basis Kandang Banteng,” ujarnya.

Meski banyak pihak menilai, hubungan Prabowo-Jokowi sudah retak, namun Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Jimly Asshiddiqie justru punya pandangan berbeda.

Menurutnya hubungan Prabowo-Jokowi selama ini berlangsung harmonis, tak ada keretakan di antara mereka, sebab Prabowo merupakan kepala negara yang selama ini ingin merangkul semua pihak termasuk pihak-pihak yang selama ini diasosiasikan sebagai musuhnya. 

"Kalau ada analisa bahwa ini adalah tanda-tanda pecah kongsi antara Hambalang (Prabowo) dan Solo (Jokowi), menurut saya enggak begitu. Karena Prabowo ini mau merangkul semua," kata Jimly 

Alih-alih berbagi jalan, Prabowo-Jokowi kata Jimly saat ini saling merangkul erat, mereka saling menjaga dan merawat hubungan itu, jangan sampai salah satu diantara mereka keluar mencari jalannya sendiri. Jimly kembali menegaskan bahwa isu pecah kongsi itu sama sekali tidak betul. 

"Semangat Presiden Prabowo ini merangkul semua orang yang berbeda. Jokowi itu dijaga supaya jangan keluar. Praktik (kepemimpinan) berganti, tapi bukan diberhentikan, malah semakin dekat ke istana," jelas Jimly. 

Jimly mengatakan analisa sejumlah pakar politik yang menyebut Prabowo-Jokowi pecah kongsi datang dari kelompok yang selama ini dikenal sebagai kelompok anti Jokowi. Mereka kata Jimly bakal semakin sakit hati menyaksikan keharmonisan hubungan Prabowo-Jokowi yang saat ini sangat terawat dengan baik.  

Baca Juga: Intip Taktik Jokowi Luluhkan Hati Rakyat, Ternyata...

"Nanti orang-orang yang anti-Jokowi makin sakit hati dia kan, pusing nih. Kiralogi (analisa kira-kiranya) makin rusak. Padahal niatnya Prabowo memang dia merangkul semua," ujarnya.