Pada kesempatan terpisah, Ketua Departemen Specialty dan Industri Badan Pengurus Pusat Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI), Moelyono Soesilo, menjelaskan bahwa pelaku industri tengah menghadapi tantangan dalam memenuhi formulasi atau pencampuran produk olahan untuk tujuan ekspor.
Saat ini pihaknya masih membutuhkan bahan baku spesifik. "Campuran ini kan juga dibutuhkan kadang-kadang ada kopi yang dari impor dari luar negeri. Nah, ini yang kita sebagai industri itu ngalamin kesulitan," kata Moelyono.
Baca Juga: Mendorong Transisi Energi dan Hilirisasi sebagai Strategi Indonesia Terbebas dari Middle Income Trap
Selain masalah bahan pembaur untuk kebutuhan ekspor bernilai tambah, dia turut menekankan pentingnya peningkatan efisiensi pada tingkat perkebunan lokal. Dia mencontohkan dengan rata-rata tingkat produksi kopi per hektar untuk kopi robusta 1 ton sampai 1,2 ton, bisa ditingkatkan mencapai 2 ton, sehingga secara otomatis akan melipatgandakan devisa.
"Jadi sekarang kita konsentrasi bagaimana meningkatkan produktivitas dari kebun-kebun yang sudah ada. Itu saja, simpel. Pasti nilainya akan meningkat sangat besar," pungkasnya.
Potensi hilirisasi industri agro sendiri mulai tercermin dari kemampuan sejumlah daerah mengolah komoditas lokal menjadi produk bernilai tambah yang mampu menjangkau pasar global, salah satunya bagi industri tembakau. Bupati Jember, Muhammad Fawait, menyatakan bahwa 90% hasil pabrikan cerutu di wilayahnya ditujukan untuk pasar ekspor. Hal ini didorong oleh hilirisasi sektor tembakau sebagai bagian dari industri agro yang mengubah tembakau Jember dari komoditas mentah menjadi produk bernilai jual tinggi.
“Jember kini mengukuhkan diri sebagai daerah pengisi pasar ekspor cerutu terbesar di Indonesia. Produk kita sudah menembus hampir 45 negara, termasuk pengiriman terbaru ke Amerika Serikat, Timur Tengah, Eropa seperti Yunani dan Jerman hingga Tiongkok serta kawasan ASEAN,” jelas pria yang akrab disapa Gus Fawait tersebut.
Melihat besarnya potensi yang ada, pemerintah perlu memberikan dukungan konkret terhadap percepatan hilirisasi industri agro seperti kelapa, cokelat, dan tembakau guna mengoptimalkan penyerapan bahan baku lokal sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani. Intervensi kebijakan dan kemudahan regulasi sangat krusial untuk mendorong penyerapan tenaga kerja manufaktur secara masif, serta melipatgandakan penerimaan negara dan devisa dari sektor ekspor.
Melihat besarnya potensi yang ada, pemerintah perlu memberikan dukungan konkret terhadap percepatan hilirisasi industri agro seperti kelapa, cokelat, dan tembakau guna mengoptimalkan penyerapan bahan baku lokal sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani. Intervensi kebijakan dan kemudahan regulasi sangat krusial untuk mendorong penyerapan tenaga kerja manufaktur secara masif, serta melipatgandakan penerimaan negara dan devisa dari sektor ekspor.