Gaya pengasuhan selalu dipengaruhi oleh lingkungan tempat anak tumbuh. Saat lingkungan berubah, cara orang tua mendampingi anak juga ikut berubah.
Generasi Z, yang lahir sekitar tahun 1997 hingga 2012, tumbuh di masa peralihan menuju era digital. Sementara itu, Generasi Alpha, yang lahir setelah 2013, tumbuh di dunia yang sudah sangat terhubung dengan teknologi.
Kedua generasi sama-sama dibesarkan dengan kasih sayang dan perhatian orang tua. Namun, tantangan, alat, dan harapan dalam pengasuhan berubah dengan cepat.
Kehadiran ponsel pintar, media sosial, tekanan pendidikan, hingga isu global seperti perubahan iklim ikut memengaruhi kehidupan keluarga sehari-hari.
Perbedaannya bukan soal pengasuhan yang lebih baik atau lebih buruk, tetapi tentang cara dan pilihan yang menyesuaikan perkembangan zaman.
Dikutip dari Times of India, Senin (9/2/2026), berikut beberapa perubahan gaya pengasuhan di era digital.
Dari Layar sebagai ‘Hadiah’ menjadi Lingkungan Sehari-hari
Pada masa kecil Generasi Z, layar hadir secara bertahap. Televisi memiliki jam tayang tertentu, komputer digunakan terbatas, dan ponsel biasanya baru dimiliki saat remaja. Orang tua berusaha membatasi paparan layar, meski aturan tersebut sering kali dilanggar.
Berbeda dengan Generasi Alpha yang lahir ketika layar sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Informasi sekolah dibagikan secara daring, aplikasi membantu proses belajar, dan keluarga tetap terhubung lewat panggilan video.
Kini, fokus pengasuhan bukan lagi sekadar membatasi layar, tetapi mengelolanya. Orang tua lebih banyak mengajarkan etika digital, memilih konten yang berkualitas, serta membantu anak memahami kapan harus berhenti dari layar dan kembali berinteraksi dengan dunia nyata.
Dari Perintah ke Dialog
Pada banyak keluarga Generasi Z, aturan sering kali bersifat tegas dengan penjelasan yang minim. Kalimat ‘karena orang tua bilang begitu’ menjadi jawaban umum.
Pada pengasuhan Generasi Alpha, pendekatan mulai bergeser. Orang tua lebih sering menjelaskan alasan di balik aturan, membahas konsekuensi, serta mendengarkan perasaan anak.
Perkembangan penelitian tentang psikologi dan kecerdasan emosional anak ikut mendorong perubahan ini.
Prosesnya memang lebih lambat, tetapi tujuan utamanya adalah membangun pemahaman dan kepercayaan, bukan sekadar kepatuhan karena takut.
Kesehatan Mental Menjadi Percakapan Sehari-hari
Generasi Z mulai mengenal isu kesehatan mental, tetapi pembahasannya sering muncul saat krisis atau ketika anak memasuki masa remaja.
Generasi Alpha justru tumbuh dengan kesadaran emosional sejak usia dini. Banyak orang tua mulai mengenalkan bahasa emosi, sudut tenang di rumah, atau cara sederhana untuk menenangkan diri ketika marah atau sedih.
Hal ini bukan berarti anak menjadi lebih rapuh. Sebaliknya, emosi dipandang sebagai sinyal yang perlu dipahami, bukan masalah yang harus ditekan.
Baca Juga: Parenting Ala Hamid Djojonegoro: Anak Harus Diajari Berjuang Sejak Dini
Tekanan Prestasi yang Berubah Bentuk
Banyak orang tua Generasi Z menekankan nilai akademik dan karier yang stabil sebagai tolok ukur kesuksesan. Jalur sukses terasa jelas, mencakup sekolah bagus, pekerjaan tetap, masa depan aman.
Namun, dunia kerja kini berubah cepat. Profesi baru terus bermunculan, sementara pekerjaan lama mulai tergeser. Orang tua Generasi Alpha mulai menekankan keterampilan seperti kreativitas, komunikasi, kemampuan beradaptasi, dan rasa ingin tahu.
Nilai akademik masih penting, tetapi tidak lagi menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan. Tekanan tidak hilang, hanya bergeser arah.
Kekhawatiran Berpindah dari Jalanan ke Dunia Digital
Orang tua Generasi Z lebih sering khawatir tentang bahaya di luar rumah, seperti orang asing, pulang terlalu malam, atau risiko bermain di luar tanpa pengawasan.
Kini, kekhawatiran orang tua Generasi Alpha lebih banyak tertuju pada dunia digital: perundungan daring, keamanan data, hingga tekanan media sosial. Anak-anak lebih sering bermain di dalam rumah, tetapi tetap diawasi melalui aturan penggunaan teknologi.
Pengasuhan modern kini mencakup pendidikan tentang keamanan digital, privasi, dan perilaku baik di dunia maya.
Orang Tua Kini Ikut Belajar
Di masa lalu, orang tua umumnya menjadi sumber utama pengetahuan anak tentang dunia. Kini, situasinya berubah. Teknologi berkembang begitu cepat sehingga anak kadang lebih cepat memahami hal baru.
Orang tua Generasi Alpha pun belajar bersama anak mereka—memahami aplikasi baru, metode belajar terbaru, hingga perubahan tren teknologi. Pendekatan ini menuntut kerendahan hati, tetapi juga menciptakan hubungan yang lebih terbuka dan kolaboratif.
Nah Gorowthmates, perubahan dari Generasi Z ke Generasi Alpha menunjukkan bahwa pengasuhan selalu menyesuaikan diri dengan zamannya. Tantangan yang dihadapi keluarga berubah, sehingga pendekatan yang digunakan pun ikut berkembang.
Pada akhirnya, tujuan pengasuhan tetap sama yakni membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang sehat, percaya diri, dan siap menghadapi masa depan.
Catatan: Artikel ini menggambarkan tren pengasuhan yang banyak diamati berdasarkan perubahan generasi dan penelitian perkembangan anak. Setiap keluarga memiliki pengalaman yang berbeda, dipengaruhi oleh budaya, lingkungan, dan nilai-nilai yang dianut masing-masing.
Baca Juga: 10 Buku Parenting Terbaik yang Akan Membuat Anda Lebih Siap Mengasuh Anak