Siapa sangka, jaringan klinik kecantikan ZAP yang kini memiliki banyak cabang di berbagai kota di Indonesia berawal dari layanan hair removal yang dikerjakan secara home service. Berbekal melihat peluang pasar dan keberanian memulai dari skala kecil, ZAP berhasil berkembang menjadi salah satu pemain besar di industri kecantikan Tanah Air.
ZAP didirikan oleh Fadly Sahab pada 2009. Pada awal berdirinya, bisnis ini belum berbentuk klinik kecantikan seperti sekarang. Layanan yang ditawarkan saat itu hanya berupa hair removal dengan sistem mendatangi pelanggan dari rumah ke rumah.
Ide tersebut muncul setelah Fadly mendengar cerita dari beberapa rekannya di luar negeri yang mengaku heran karena layanan hair removal sangat umum di negara mereka, sementara di Indonesia masih sulit ditemukan.
Baca Juga: Satu Dekade Perjalanan ZAP Menyatukan Kecantikan dan Kepedulian Sosial
Melihat peluang tersebut, ia memutuskan merintis bisnis sebagai pekerjaan sampingan sambil tetap bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan di Jakarta.
Pengalaman Kerja Jadi Modal Membangun Bisnis
Sebelum mendirikan ZAP, Fadly mengaku pernah mencoba berbagai jenis usaha sejak masih duduk di bangku sekolah hingga kuliah. Namun, sebagian besar belum membuahkan hasil yang diharapkan.
Justru pengalaman bekerja di perusahaan menjadi bekal penting dalam membangun bisnisnya. Di sana ia belajar mengenai manajemen perusahaan, mulai dari pengelolaan sumber daya manusia (HR), akuntansi, hingga cara mengambil keputusan dan memimpin organisasi.
Selama lebih dari satu tahun, Fadly menjalankan dua peran sekaligus, yakni bekerja sebagai karyawan pada siang hari dan mengembangkan bisnis ZAP di luar jam kerja. Ia akhirnya memutuskan fokus menjadi pengusaha setelah pendapatan usahanya mampu menyamai gaji yang diterimanya.
Baca Juga: Cantik Saat Lebaran ZAP Masuk Tahun ke-10, Gandeng Habib Jafar dan HMNS Lewat Kampanye 'CANGI'
Bertransformasi Menjadi Klinik Kecantikan
Memasuki 2014, ZAP melakukan transformasi dengan menghadirkan ZAP Clinic, klinik kecantikan yang menyediakan berbagai layanan perawatan kulit.
Seiring bertambahnya pelanggan, perusahaan melihat banyak konsumen membutuhkan penanganan kulit yang lebih spesifik. Dari kebutuhan tersebut lahirlah ZAP Premiere, klinik yang menghadirkan dokter spesialis kulit dan kelamin, teknologi yang lebih lengkap, serta pilihan perawatan yang lebih beragam.
Strategi tersebut membuat ZAP mampu menjangkau segmen pasar yang lebih luas tanpa meninggalkan fokus utamanya di bidang perawatan kulit.
Melihat Peluang dari Pasar Pria
Inovasi ZAP tidak berhenti pada layanan untuk perempuan.
Meningkatnya jumlah pelanggan pria mendorong perusahaan menghadirkan Menology by ZAP, yang diperkenalkan sebagai klinik grooming khusus pria pertama di Indonesia.
Meski membutuhkan waktu hampir dua tahun untuk memperkenalkan konsep tersebut kepada pasar, ZAP terus melakukan evaluasi hingga model bisnis tersebut dinilai siap diperluas ke berbagai daerah.
Kunci Pertumbuhan: Terus Mengukur dan Mengevaluasi
Menurut Fadly, salah satu kunci pertumbuhan ZAP adalah budaya testing and measuring atau menguji dan mengukur hampir seluruh aspek bisnis.
Misalnya, setiap pelanggan baru akan ditanya bagaimana mereka mengenal ZAP dan alasan memilih layanannya. Informasi tersebut kemudian digunakan untuk mengevaluasi efektivitas strategi pemasaran sehingga anggaran promosi dapat dimanfaatkan lebih efisien.
Selain itu, perusahaan juga secara rutin mengukur retention rate atau tingkat pelanggan yang kembali menggunakan layanan.
Evaluasi dilakukan secara menyeluruh, mulai dari tingkat kunjungan ulang pelanggan baru dan pelanggan lama, kinerja masing-masing cabang, dokter, hingga jenis perawatan yang ditawarkan.
Melalui evaluasi tersebut, perusahaan dapat mengetahui layanan yang perlu diperbaiki sebelum kembali mengujinya untuk melihat hasil yang diperoleh.
Percaya pada Proses
Fadly meyakini setiap bisnis memiliki fase critical mass, yakni titik ketika pertumbuhan yang semula berjalan lambat mulai meningkat secara signifikan.
Menurutnya, fase tersebut tidak terjadi secara instan, melainkan merupakan hasil dari proses panjang dalam memperbaiki produk, meningkatkan kualitas layanan, serta terus mengevaluasi strategi bisnis.
Oleh karena itu, konsistensi menjadi salah satu kunci utama dalam membangun usaha yang berkelanjutan.