Editor in Chief Harper’s Bazaar Indonesia, Ria Lirungan, menegaskan bahwa anggapan yang menyatakan perempuan leader tidak mampu bersikap tegas merupakan stereotipe yang tak tepat.

Menurutnya, kemampuan memimpin tidak ditentukan oleh gender, melainkan oleh karakter, pengalaman, serta kemampuan seseorang dalam mengelola berbagai aspek kepemimpinan.

Ria menegaskan bahwa baik laki-laki maupun perempuan memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Ada laki-laki yang kurang tegas, begitu pula ada perempuan yang memiliki kemampuan mengambil keputusan dengan kuat dan strategis.

“Menurut saya sama saja. Laki-laki juga bisa ada yang tidak tegas, perempuan juga ada yang bisa tidak tegas. Laki-laki juga ada yang lebih punya perasaan dan lebih punya kepekaan, perempuan juga demikian,” papar Ria, saat ditemui Olenka, di Jakarta, belum lama ini.

Lebih jauh, Ria menuturkan, penting untuk melihat laki-laki dan perempuan sebagai manusia yang memiliki karakter beragam, bukan membatasi kemampuan seseorang berdasarkan gender.

Ia juga menilai bahwa sisi emosional yang kerap dilekatkan kepada perempuan bukanlah sebuah kelemahan, melainkan bentuk kepekaan yang dapat menjadi kekuatan dalam memimpin.

“Saya rasa bagaimana kita memandang bahwa perempuan dan laki-laki sebagai seorang manusia yang punya kelebihan dan kekurangan. Karena buat saya emosional itu bukan suatu hal yang negatif. Emosional itu adalah sebuah kepekaan, bagaimana kita mengelola rasa kita,” katanya.

Baca Juga: 3 Skill Set yang Harus Dimiliki Wanita Karier Agar Mampu Berkembang

Kemudian, Ria menjelaskan, sensitivitas atau kepekaan justru menjadi salah satu kemampuan penting yang perlu dimiliki seorang pemimpin.

Menurutnya, seorang leader tidak hanya dituntut mampu membuat keputusan secara rasional, tetapi juga memahami kondisi dan kebutuhan orang-orang yang dipimpinnya.

“Dan sebenarnya sensitivitas di dalam seorang leader itu sangat diperlukan. Bukan secara negatif, tapi secara positif. Karena bagaimana kita punya empati kepada tim kita sendiri, itu adalah sebuah hal yang positif yang harus dimiliki oleh seorang leader,” ungkapnya.

Ria juga menegaskan, pemimpin yang memiliki empati dapat membangun hubungan yang lebih baik dengan tim, menciptakan lingkungan kerja yang sehat, sekaligus memahami berbagai perspektif sebelum mengambil keputusan.

Lebih lanjut, Ria melihat banyak perempuan pemimpin yang mampu menjaga keseimbangan antara sisi rasional dan emosional dalam menjalankan perannya.

Menurutnya, mereka tetap dituntut memiliki kemampuan analisis, strategi, serta kapabilitas yang setara dengan pemimpin laki-laki, namun juga dapat memanfaatkan kepekaan sebagai nilai tambah.

“Jadi, jadikanlah sisi emosional atau kepekaan itu menjadi hal yang positif dari seorang perempuan,” tutur Ria.

“Saya melihat banyak perempuan-perempuan yang menjadi leader itu, dia bisa menjaga keseimbangan. Bagaimana dia tetap harus rasional, dia harus pragmatis, dia harus punya kapabilitas yang setara dengan laki-laki, tapi juga dia mempergunakan IQ mereka itu untuk bisa menjadi komplementing, memberikan nilai lebih kepada skill dia yang lainnya,” lanjutnya.

Baca Juga: Prinsip Dasar dalam Kepemimpinan: Leader Harus Bisa Jadi Role Model