Indonesia memiliki peluang besar untuk mengambil peran dalam rantai pasok mineral kritis dunia.

Namun, posisi Indonesia tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya cadangan mineral yang dimiliki, melainkan juga kemampuan membangun industri pengolahan dan manufaktur yang terhubung dengan kebutuhan global.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, menjelaskan bahwa dalam peta mineral kritis global, Indonesia memang memiliki keunggulan pada beberapa komoditas tertentu, terutama nikel.

Namun, kata Faisal, untuk sejumlah mineral kritis lainnya, Indonesia belum termasuk negara dengan cadangan terbesar di dunia.

“Mineral kritis kalau di dunia, yang masih masuk dalam peta mineral kritis berbagai negara, Indonesia terutama dilihat dari kelebihannya dari cadangan nikel. Yang lain relatif sedikit, kita tidak masuk top lima,” papar Faisal saat ditemui Olenka, di Jakarta, belum lama ini.

Meski demikian, keterbatasan cadangan bukan berarti Indonesia tidak memiliki peluang untuk masuk dalam ekosistem industri mineral kritis global.

Baca Juga: Peran Penting Mineral Kritis dalam Peta Ekonomi Nasional hingga Global

Menurut Faisal, strategi yang perlu didorong adalah memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok, termasuk melalui pengembangan industri hilir.

Faisal mencontohkan, industri baterai kendaraan listrik. Indonesia mungkin tidak memiliki seluruh jenis bahan baku yang dibutuhkan, tetapi tetap dapat mengambil peran melalui proses produksi dan perakitan.

“Bukan berarti mineral kritis yang kita tidak punya membuat kita tidak bisa masuk ke rantai pasok. Karena dengan mendorong produksi baterai, kita bisa punya industri baterai. Bahan bakunya bisa kita impor dari negara lain, tetapi kita tetap bisa masuk sebagai bagian dari rantai pasok, misalnya sebagai part assembly,” jelasnya.

Faisal menilai, pendekatan terhadap mineral kritis harus dilihat secara lebih luas.

Tidak hanya berfokus pada kepemilikan sumber daya alam, lanjut dia, tetapi juga bagaimana Indonesia membangun kapasitas industri agar tetap memiliki posisi strategis dalam rantai produksi global.

“Jadi yang harus dilihat adalah apa yang bisa didorong dari mineral kritis yang kita punya, dan bagaimana kita tetap bisa mengambil peran dari mineral kritis yang tidak kita punya,” pungkasnya.

Baca Juga: Menakar Potensi Mineral Kritis untuk Transisi Energi