Growthmates, ketika Yuval Noah Harari berbicara tentang kecerdasan buatan (AI), ia tidak berdiri sebagai insinyur atau pakar teknologi. Ia berbicara sebagai seorang sejarawan ide atau seseorang yang terbiasa melihat perubahan besar umat manusia melalui lensa narasi, mitos, dan makna kolektif.
Perspektif inilah yang ia bawa ke Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum) di Davos, saat memperingatkan para pemimpin dunia tentang dua krisis besar yang hampir pasti dipicu oleh AI di setiap negara.
Dikutip dari Times Now News, Kamis (22/1/2026), krisis tersebut, menurut Harari, jauh melampaui isu kehilangan pekerjaan atau peningkatan produktivitas. Yang terancam justru fondasi paling dalam masyarakat: cara manusia memahami jati diri mereka dan cerita bersama yang selama ini menyatukan bangsa-bangsa.
Bagi pembaca buku 'Sapiens', gagasan ini bukanlah kejutan. Dalam bukunya itu, Harari menjelaskan bagaimana peradaban manusia dibangun di atas mitos kolektif, agama, uang, negara, dan identitas nasional, yang memungkinkan kerja sama dalam skala besar.
Di Davos, ia menyampaikan kelanjutan dari argumen itu: kecerdasan buatan berpotensi mengguncang mitos-mitos tersebut, memaksa masyarakat mendefinisikan ulang makna hidup, nilai, dan rasa memiliki.
Krisis Pertama: Krisis Identitas Manusia
Krisis pertama yang diprediksi Harari adalah krisis identitas. Selama berabad-abad, manusia menautkan nilai dan tujuan hidup pada kemampuan kognitif.
Berpikir, bernalar, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan menjadi ciri utama yang membedakan manusia dari makhluk lain.
Namun, fondasi ini mulai goyah ketika sistem AI mampu menulis, mendiagnosis penyakit, bernegosiasi, hingga membujuk orang lain dengan efektivitas yang melampaui manusia.
Dalam dunia seperti itu, Harari menegaskan, negara-negara akan dipaksa menghadapi pertanyaan yang sangat tidak nyaman: apa yang membuat manusia istimewa jika kecerdasan tidak lagi menjadi milik eksklusif manusia?
Kekhawatiran ini selaras dengan salah satu tesis utama Sapiens, yakni kecerdasan bukanlah takdir biologis semata, melainkan konstruksi budaya. Di Davos, Harari memperingatkan bahwa jika negara gagal memperbarui narasi budaya mereka dengan cukup cepat, dampaknya bukan hanya ketimpangan ekonomi, tetapi juga kebingungan eksistensial.
Jutaan orang bisa merasa tidak lagi dibutuhkan, bukan karena mereka tak mampu bekerja, melainkan karena mereka kehilangan pemahaman tentang tempat mereka di dunia.