Lebih lanjut, Analisa pun mendorong perempuan untuk menemukan gaya yang sesuai dengan kepribadian mereka.

Menurutnya, inspirasi boleh datang dari mana saja, tetapi pada akhirnya kenyamanan dan keaslian diri harus tetap menjadi prioritas.

"Kadang kita melihat orang lain lalu mencoba mengikuti. Namun setelah dicoba, ternyata tidak nyaman dan hanya sekadar ikut-ikutan. Itu biasanya akan terasa. Penampilan akan menjadi pas ketika kita benar-benar menjadi diri sendiri tanpa memaksakan sesuatu," katanya.

Lebih jauh, Analisa menekankan bahwa penampilan profesional bukan sekadar urusan estetika.

Dikatakan Analisa, cara seseorang merawat diri dan mempersiapkan penampilan mencerminkan sikap menghargai orang lain serta menunjukkan kesiapan dalam menjalankan peran dan tanggung jawabnya.

"Ketika kita profesional dan menghargai siapa yang kita temui, maka kita menunjukkan bahwa kita siap. Tidak mungkin saya datang ke sebuah acara tanpa berpenampilan yang sesuai, tidak merawat diri dengan baik, atau membuat orang lain merasa tidak nyaman berada di sekitar saya," jelasnya.

Karena itu, Analisa memandang penampilan menarik sebagai bagian dari profesionalisme yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan kerja. Bukan untuk mencari pengakuan, kata dia, melainkan sebagai bentuk respek terhadap diri sendiri dan lingkungan sekitar.

"Saya rasa menjadi profesional itu berarti berpenampilan menarik sebagai cara kita menghargai diri kita sendiri dan juga orang lain," pungkas Analisa.

Baca Juga: 7 Strategi Mencapai Work Life Balance Ketika Memiliki Dua Karier