Banyak orang memilih menyemprotkan parfum ke area leher karena dianggap mampu membuat aroma bertahan lebih lama. Pasalnya, leher memang termasuk salah satu titik nadi (pulse point) yang sering direkomendasikan untuk mengaplikasikan parfum. Namun, belakangan muncul anggapan bahwa kebiasaan tersebut bisa berdampak buruk bagi kesehatan, bahkan dikaitkan dengan gangguan pada kelenjar tiroid.
Lantas, benarkah anggapan tersebut bahwa menyemprotkan parfum ke leher itu berbahaya? Simak penjelasan pakar berikut ini.
Mengutip dari laman resmi IPB pada Selasa (30/06/2026), Pakar Multiomics Cancer IPB, dr. Agil Wahyu Wicaksono, M.Biomed, menjelaskan bahwa hingga kini belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan penggunaan parfum di area leher dapat secara langsung menyebabkan kanker tiroid.
Baca Juga: 10 Rekomendasi Parfum Pria Lokal dengan Aroma Maskulin dan Elegan
Meski begitu, ia mengungkapkan sejumlah penelitian menemukan adanya hubungan antara penggunaan parfum, termasuk di area leher, dengan risiko gangguan pada kelenjar tiroid.
"Berdasarkan sebuah studi tinjauan sistematis, kebiasaan menyemprotkan parfum, termasuk di area leher, berkaitan dengan risiko gangguan kelenjar tiroid," ujar dr. Agil.
Ia menambahkan bahwa kaitan antara penggunaan parfum dan kanker tiroid hingga saat ini masih sebatas hipotesis dan belum terbukti secara langsung.
Baca Juga: 5 Brand Parfum Lokal yang Wajib Masuk Wishlist Pecinta Wewangian
"Adapun hubungan dengan kanker tiroid masih bersifat hipotesis dan belum terbukti secara langsung," lanjutnya.
Menurut dr. Agil, parfum maupun cologne umumnya mengandung sejumlah senyawa kimia, seperti phthalates, parabens, dan triclosan. Zat-zat tersebut dapat terserap melalui kulit ketika parfum diaplikasikan secara langsung.
Area leher dinilai perlu mendapat perhatian karena memiliki lapisan kulit yang relatif tipis dan letaknya sangat dekat dengan kelenjar tiroid. Kondisi ini membuat paparan bahan kimia tersebut secara teoritis berpotensi lebih besar, terutama apabila dilakukan berulang dalam jangka waktu yang lama.
"Beberapa penelitian menunjukkan bahwa triclosan dapat memengaruhi fungsi hormon tiroid, sementara sejumlah paraben juga berdampak pada keseimbangan sistem endokrin tubuh," jelas dr. Agil.
Baca Juga: Riset: Parfum Pria Jadi Spotlight Utama Lonjakan Kategori Parfum di e-Commerce 2025
Ia juga menjelaskan bahwa secara anatomi, posisi leher yang berdekatan dengan kelenjar tiroid membuat paparan berulang terhadap phthalates, parabens, dan triclosan berpotensi meningkatkan efek zat tersebut, baik secara lokal maupun sistemik.
"Area leher secara anatomis berada dekat dengan kelenjar tiroid dan memiliki kulit yang relatif tipis, sehingga paparan phthalates, paraben, dan triclosan yang berulang di lokasi ini secara teoritis dapat meningkatkan peluang efek zat tersebut secara lokal maupun sistemik," katanya.
Meski demikian, dr. Agil mengingatkan masyarakat agar tidak langsung khawatir. Ia menegaskan bahwa penggunaan parfum tidak otomatis menyebabkan seseorang mengalami gangguan kesehatan.
"Tidak berarti setiap orang yang memakai parfum akan sakit. Namun, pemakaian berlebihan dan terus-menerus selama bertahun-tahun dapat meningkatkan risiko gangguan hormon, terutama pada ibu hamil, anak-anak dan remaja, serta orang dengan gangguan hormon sebelumnya," ujarnya.
Berdasarkan penjelasan tersebut, menyemprotkan parfum di area leher tidak sepenuhnya dilarang karena belum terbukti secara langsung menyebabkan kanker tiroid. Namun, untuk mengurangi potensi paparan bahan kimia dalam jangka panjang, penggunaan parfum tetap perlu dilakukan secara bijak.
Oleh karena itu, dr. Agil menyarankan agar parfum lebih sering diaplikasikan pada pakaian dibandingkan langsung ke kulit. Ia juga mengimbau masyarakat untuk tidak menggunakan parfum secara rutin di area ketiak dan menghindari pemakaian yang berlebihan.
Selain itu, jika memungkinkan, konsumen juga dapat memilih produk yang mencantumkan label "phthalate-free" atau "paraben-free" sebagai salah satu langkah untuk mengurangi paparan terhadap bahan kimia tertentu.